EtIndonesia.com Setelah hampir lima tahun berada di bawah pendudukan Rusia, ratusan warga kota Oleshky di Ukraina pada Sabtu (31 Oktober) berhasil menyeberangi perbatasan dan tiba dengan selamat di Oblast Chernihiv, Ukraina. Banyak di antara mereka tak kuasa menahan emosi dan langsung berpelukan dengan anggota keluarga yang telah terpisah selama bertahun-tahun. Pemandangan tersebut sungguh mengharukan.
Melalui mediasi Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump, sebuah kesepakatan gencatan senjata kemanusiaan sementara dan terbatas mulai diberlakukan pada Selasa (27 Oktober) di kota Oleshky, Oblast Kherson, Ukraina.
Kota tersebut telah diduduki pasukan Rusia sejak awal perang Rusia-Ukraina pada 2022. Gencatan senjata ini merupakan yang terlama sejak perang pecah, tetapi bukan berarti kedua negara telah menyepakati gencatan senjata secara menyeluruh.
Pada Sabtu (31 Oktober), empat pesawat yang membawa warga Oleshky beserta hewan peliharaan mereka mendarat di Belarus. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan melalui pos perbatasan hingga tiba di Oblast Chernihiv, Ukraina. Warga yang akhirnya dapat bertemu kembali dengan keluarga mereka saling berpelukan sambil menangis haru.
Akibat blokade berkepanjangan menggunakan ranjau darat dan pesawat nirawak, pasokan pangan serta kebutuhan medis di wilayah tersebut terputus sepenuhnya. Layanan air, listrik, dan pemanas juga berhenti beroperasi. Warga terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka. Ada yang telah lima tahun tidak bertemu keluarga dan kerabat, sementara sebagian lainnya hanya mampu bertahan hidup dengan memakan rumput dan labu.
Warga yang dievakuasi: “Dalam kurun waktu sedikit lebih dari satu tahun, berat badan saya turun 20 kilogram! Dua puluh kilogram! Saya merasa seluruh tubuh saya tidak bertenaga. Bagaimana mengatakannya? Saya menjadi sangat lemah. Berbagai penyakit mulai menyerang dan saya tidak sanggup lagi menanggungnya. Karena itu, saya terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit.”
Warga yang dievakuasi, Larisa: “Kami benar-benar tidak ingin pergi. Hingga saat-saat terakhir, kami terus menunggu situasi berubah, menunggu perdamaian datang, dan menunggu semuanya berakhir. Namun sayangnya, impian kami tidak terwujud. Karena itu, berkat program ini, kami terpaksa mengambil risiko mempertaruhkan nyawa untuk pindah.”
Menurut pejabat Rusia dan Ukraina, sejak Selasa tidak terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Kedua pihak pun dapat membersihkan ranjau di jalan-jalan dan mengirimkan pasokan kebutuhan ke wilayah tersebut. Kesepakatan gencatan senjata ini akan berakhir pada Minggu (1 November).
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tiba di Istanbul untuk mempersiapkan pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan. Ia berharap dapat memperoleh dukungan dari Turki, Uni Eropa, dan mitra strategis lainnya.
Sebelumnya, Zelensky juga menyatakan harapannya agar pertemuan para perwakilan perunding perdamaian dari Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat pada November di Abu Dhabi dapat menghasilkan kemajuan yang nyata.
Faktanya, pada Kamis (29 Oktober), pesawat nirawak Rusia menyerang peron stasiun kereta api di Kota Dnipro, Ukraina, dan menewaskan sedikitnya 14 orang. Serangan lainnya di Kyiv dan sejumlah wilayah lain juga menewaskan total enam orang.
Sementara itu, setelah sekitar dua pekan menerapkan gencatan senjata informal, militer Ukraina pada Jumat (30 Oktober) kembali melancarkan serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas-fasilitas di dalam wilayah Rusia, termasuk kilang minyak.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kemudian menyatakan bahwa serangan terbaru Ukraina tersebut tidak akan mempengaruhi perundingan perdamaian yang dijadwalkan berlangsung di Abu Dhabi pada November.
Laporan dirangkum oleh reporter NTD, Guo Yuexi.






Komentar (0)