Sejumlah wisatawan dilaporkan mengalami muntah dan diare setelah berwisata di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Garut tengah menyelidiki penyebab kejadian tersebut.
Kepala Dinkes Kabupaten Garut, Leli Yuliani, mengatakan tim kesehatan telah berkomunikasi dengan perwakilan rombongan wisatawan untuk menggali kronologi kejadian.
"Terkait informasi yang beredar mengenai wisatawan yang mengalami muntah dan diare setelah berkunjung ke Garut, kami dari Dinas Kesehatan sudah melakukan tindak lanjut," ujar Leli, Senin (2/11/2026).
Ia mengatakan, langkah awal penyelidikan dilakukan dengan meminta keterangan dari perwakilan rombongan melalui pertemuan secara daring.
"Tim kami telah berkomunikasi langsung melalui Zoom dengan perwakilan rombongan untuk melakukan investigasi awal dan menggali kronologi kejadian," katanya.
Leli menjelaskan, investigasi tidak hanya difokuskan pada keluhan yang dialami wisatawan, tetapi juga mencakup aktivitas mereka selama berada di Kabupaten Garut.
Tim Dinkes tengah mengumpulkan informasi mengenai makanan dan minuman yang dikonsumsi, tempat-tempat yang dikunjungi, serta waktu mulai munculnya gejala pada setiap anggota rombongan.
Data tersebut dibutuhkan untuk mengetahui kemungkinan adanya sumber paparan yang sama atau hubungan antara satu kasus dengan kasus lainnya.
Namun, proses penelusuran menghadapi tantangan karena laporan baru diterima sekitar empat hingga lima hari setelah kejadian, ketika para wisatawan sudah kembali ke daerah asal.
Selain itu, para wisatawan diketahui mengonsumsi makanan dari sejumlah tempat berbeda selama melakukan perjalanan.
"Selama kunjungan tersebut rombongan mengonsumsi makanan dari beberapa sumber dan lokasi yang berbeda, dan sejauh ini kami belum memperoleh laporan kejadian serupa dari pengunjung lain yang mengonsumsi makanan di lokasi yang sama," jelas Leli.
Kondisi tersebut membuat Dinkes belum dapat menyimpulkan bahwa gangguan kesehatan yang dialami rombongan merupakan akibat keracunan makanan dari tempat tertentu.
Kemungkinan adanya infeksi saluran pencernaan maupun faktor kesehatan lainnya masih perlu dipertimbangkan berdasarkan hasil penyelidikan.
Di tengah ramainya pembahasan di media sosial, Dinkes Garut memastikan pemantauan terhadap penyakit diare akut terus dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Sistem tersebut digunakan untuk memantau perkembangan penyakit dan mendeteksi kemungkinan munculnya kejadian luar biasa (KLB).
Leli menyebutkan, meskipun kasus diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) cenderung meningkat saat perubahan musim, hasil pemantauan hingga kini belum menunjukkan adanya indikasi wabah diare di Kabupaten Garut.
Artinya, keluhan yang dialami rombongan wisatawan masih dalam proses investigasi dan belum dapat dinyatakan sebagai bagian dari KLB.
Menurutnya, setiap laporan yang berpotensi berkaitan dengan gangguan kesehatan masyarakat tetap memerlukan penanganan serta penyelidikan secara menyeluruh.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat dan pelaku perjalanan wisata untuk memperhatikan kebersihan makanan, air minum, dan lingkungan sebagai bagian dari pencegahan penyakit saluran pencernaan.
"Setiap laporan tetap ditindaklanjuti secara serius dan profesional. Kami juga mengimbau masyarakat serta wisatawan untuk tetap tenang, menjaga kebersihan, dan memastikan makanan maupun minuman yang dikonsumsi aman dan higienis," tegasnya.
Leli menambahkan, hasil investigasi akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan lebih lanjut apabila ditemukan keterkaitan antara keluhan wisatawan dan sumber paparan tertentu.
“Untuk saat ini, penyebab gangguan kesehatan para wisatawan belum dapat dipastikan. Kami masih melanjutkan pengumpulan data agar kesimpulan yang diambil didukung hasil penyelidikan, bukan semata-mata dugaan yang berkembang di media sosial,” katanya.






Komentar (0)