Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Senin (2/11/2026). Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan sikap hawkish sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve atau The Fed.
Rupiah ditutup turun 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp18.156 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.147 per dolar AS.
Ibrahim Assuabi analis mata uang mengatakan, salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah perkembangan hubungan diplomatik Iran dan AS.
Peluang dimulainya kembali pembicaraan kedua negara memberikan sedikit harapan bagi pasar, tetapi risiko eskalasi konflik masih membayangi.
Ibrahim mengungkapkan, Donald Trump Presiden AS menyampaikan kepada Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel melalui sambungan telepon pada Sabtu (31/10/2026) bahwa dirinya lebih memilih memberi kesempatan kepada jalur diplomasi sebelum memutuskan kelanjutan tindakan militer.
“Donald Trump menyampaikan kepada Benjamin Netanyahu melalui sambungan telepon pada hari Sabtu bahwa ia lebih memilih untuk memberikan lebih banyak waktu bagi diplomasi sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan tindakan militer,” ujar Ibrahim dilansir dari Antara.
Namun, pendekatan tersebut dilaporkan memicu kekhawatiran Netanyahu. Ia disebut mendesak agar serangan AS kembali dilakukan setelah pemilihan paruh waktu atau midterm elections.
Menurut Ibrahim, peluang berlangsungnya pembicaraan lanjutan memang memberikan sedikit kelegaan bagi pasar.
Meski demikian, hasil negosiasi tetap menjadi faktor risiko karena Trump sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer apabila diplomasi tidak membuahkan kesepakatan.
Di sisi lain, pejabat Iran dan Qatar dilaporkan telah menggelar pembicaraan selama tiga hari berturut-turut untuk mencari jalan keluar konflik.
Teheran menyatakan masih membuka ruang diplomasi, sembari mempersiapkan langkah pertahanan. Qatar juga berupaya menengahi usulan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi salah satu perhatian utama pasar energi global. Gangguan pelayaran, serangan terhadap kapal tanker, serta pembatasan ekspor minyak Iran berpotensi meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, sehingga memengaruhi harga energi dunia.
“Jalur perairan tersebut tetap menjadi perhatian utama bagi pasar energi. Serangan terhadap kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman serta asuransi,” kata Ibrahim.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebijakan moneter AS. Sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pandangan hawkish atau cenderung mendukung kebijakan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi.
Lorie Logan Presiden The Fed Dallas dan Alberto Musalem Presiden The Fed St. Louis termasuk pejabat yang menyuarakan perlunya pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Musalem bahkan menilai kebijakan suku bunga saat ini masih terlalu longgar.
Memasuki pekan ini, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi AS, termasuk Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur dan jasa dari Institute for Supply Management (ISM) periode Oktober 2026.
Selain itu, data ketenagakerjaan AS juga menjadi perhatian, mulai dari Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), perubahan jumlah tenaga kerja versi ADP, klaim awal tunjangan pengangguran, hingga laporan Nonfarm Payrolls.
Dari dalam negeri, surplus neraca perdagangan Indonesia sebenarnya memberikan sentimen positif bagi fundamental ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan September 2026 sebesar 3,36 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor mencapai 27,59 miliar dolar AS dan impor sebesar 24,23 miliar dolar AS.
Ibrahim menilai surplus perdagangan tersebut berpotensi mendukung stabilitas rupiah. Namun, dampaknya terhadap nilai tukar tetap dipengaruhi kualitas pertumbuhan ekspor, perkembangan impor, serta arus modal asing.
“Surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar menjadi sentimen positif bagi fundamental ekonomi Indonesia dan berpotensi mendukung rupiah. Namun, pasar tetap perlu mencermati kualitas pertumbuhan ekspor, perkembangan impor, serta arus modal asing. Sebab, surplus perdagangan yang kuat belum tentu secara langsung membuat rupiah menguat apabila tekanan dari dolar AS dan faktor eksternal masih tinggi,” ungkapnya.
Indikator ekonomi domestik lainnya menunjukkan inflasi Indonesia pada Oktober 2026 sebesar 0,22 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi tahunan tercatat 3,23 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan harga barang dan jasa masih relatif terkendali. Meski demikian, perkembangan harga pangan, stabilitas nilai tukar, dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pasar obligasi, saham, maupun pergerakan rupiah.
Sementara itu, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan perkembangan positif. PMI Manufaktur S&P Global meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dibandingkan 52,4 pada September. Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.
Ibrahim menilai peningkatan PMI tersebut menjadi sinyal positif bagi aktivitas dunia usaha dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, keberlanjutan ekspansi industri masih bergantung pada daya beli masyarakat, permintaan ekspor, stabilitas rupiah, serta kemampuan perusahaan mengendalikan biaya produksi.
“Bagi pasar, kondisi ini merupakan sentimen positif karena menunjukkan meningkatnya aktivitas dunia usaha dan potensi pertumbuhan ekonomi. Namun, keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada daya beli domestik, permintaan ekspor, stabilitas rupiah, dan kemampuan perusahaan mengendalikan biaya produksi,” ujarnya.
Sejalan dengan pelemahan rupiah di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah. JISDOR tercatat di level Rp18.161 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp18.138 per dolar AS. (ant/saf/ipg)





Komentar (0)