Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 0,79 persen pada penutupan perdagangan Senin (2/11/2026).
IHSG ditutup naik 39,78 poin ke level 5.096,83. Sejalan dengan itu, indeks saham unggulan LQ45 juga menguat 2,72 poin atau 0,53 persen ke posisi 517,89.
Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, sentimen positif dari dalam negeri menjadi salah satu pendorong penguatan indeks saham.
Menurutnya, surplus neraca perdagangan September 2026 lebih tinggi dari perkiraan pelaku pasar. Kondisi tersebut didukung pertumbuhan ekspor yang melampaui ekspektasi, sementara impor justru mengalami perlambatan.
“IHSG menguat didukung oleh surplus neraca perdagangan September 2026 yang lebih tinggi dari perkiraan, seiring pertumbuhan ekspor yang melampaui ekspektasi dan impor yang secara tak terduga mengalami perlambatan,” ujar Nico dilansir dari Antara.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS sepanjang Januari-September 2026.
Ateng Hartono Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS menjelaskan, surplus tersebut terutama ditopang perdagangan komoditas nonmigas.
Sektor ini membukukan surplus 34,21 miliar dolar AS, sedangkan perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit 23,60 miliar dolar AS.
“Surplus sepanjang periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus 34,21 miliar dolar AS, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 23,60 miliar dolar AS,” kata Ateng.
Selain data perdagangan, pelaku pasar juga mencermati kebijakan reformasi indeks yang diterapkan BEI. Bursa resmi mengecualikan 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks acuan.
Nico menyebut kebijakan tersebut dipercepat sebagai respons terhadap peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai potensi reklasifikasi status pasar modal Indonesia.
“Kebijakan tersebut dipercepat sebagai respons atas peringatan MSCI terkait potensi reklasifikasi status pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Dari pasar global, pergerakan bursa saham Asia cenderung positif. Penguatan tersebut antara lain didorong kenaikan kontrak berjangka saham Amerika Serikat dan penurunan harga minyak dunia setelah muncul laporan mengenai dimulainya kembali upaya diplomasi AS-Iran untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Meski demikian, investor masih mencermati sejumlah faktor eksternal, mulai dari laporan kinerja keuangan emiten, data ketenagakerjaan Amerika Serikat, hingga agenda pemilihan paruh waktu atau midterm elections di negara tersebut.
Sepanjang perdagangan Senin, IHSG sempat dibuka melemah. Namun, indeks berhasil berbalik ke zona positif hingga penutupan sesi pertama dan mempertahankan penguatan pada sesi kedua.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, tujuh sektor ditutup menguat. Sektor barang baku memimpin kenaikan sebesar 2,12 persen, disusul sektor energi yang naik 1,53 persen dan sektor industri sebesar 1,40 persen.
Sebaliknya, empat sektor mengalami pelemahan. Sektor kesehatan terkoreksi paling dalam sebesar 0,64 persen, diikuti sektor properti yang turun 0,22 persen dan sektor teknologi sebesar 0,16 persen.
Sejumlah saham mencatatkan kenaikan terbesar, yakni DFAM, MKNT, ROCK, AKPI, dan BLTA. Sementara saham LMAX, PLAN, MSIE, LINK, dan LPCK menjadi kelompok saham dengan pelemahan terdalam.
Aktivitas perdagangan saham di BEI tercatat mencapai 1,43 juta transaksi dengan volume 12,42 miliar lembar saham. Nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp34,64 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 363 saham menguat, 341 saham melemah, dan 259 saham tidak mengalami perubahan harga.
Di bursa regional Asia, pergerakan indeks berlangsung bervariasi. Nikkei Jepang melemah 0,29 persen ke level 63.108,00, sedangkan Kospi Korea Selatan menguat 2,24 persen ke posisi 5.859,08.
Shanghai Composite China naik 1,08 persen ke level 3.638,03. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 0,42 persen ke posisi 23.393,32 dan Strait Times Singapura melemah 1,36 persen ke level 5.303,83. (ant/saf/ipg)





Komentar (0)