Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menegaskan kesepakatan ekspor listrik ke Singapura baru bisa dilakukan jika harganya cocok.
Bahlil memastikan tidak akan ada ekspor listrik ke Singapura dalam waktu dekat ini. Menurutnya, harga yang masih dinegosiasikan belum sesuai dengan keinginan pemerintah.
Dia meminta Danantara Indonesia tidak mengamini negosiasi dari pihak Singapura untuk menurunkan harga listrik hijau dari Indonesia.
"Kita memperhatikan harus saling menguntungkan. Kalau harganya belum cocok, kita enggak bisa. Karena itu saya minta untuk Danantara nggak boleh dilobi untuk mau mengikuti agar harga bisa turun,” tegas Bahlil di kompleks Istana Kepresidenan, Senin (2/11).
Menurutnya, pihak Kementerian ESDM sudah membuat perhitungan terkait harga ekspor listrik tersebut dan mengajukan proposalnya kepada Singapura.
Namun, jika Singapura belum kunjung menyepakati harga yang diajukan Indonesia, maka Bahlil akan lebih memprioritaskan pasokan listrik tersebut untuk kebutuhan dalam negeri.
“Selama harganya cocok, ikuti harga kita, memungkinkan, dong. Tetapi kalau harganya tidak cocok, kalau harganya tidak cocok, kami akan memprioritaskan untuk kebutuhan di dalam negeri dan kita harus memenuhi dulu apa yang menjadi kebutuhan kita di domestik,” tutur Bahlil.
Kesepakatan ekspor listrik hijau ke Singapura tercantum dalam salah satu dari 26 nota kesepahaman (MOU) yang diteken dalam Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Jakarta, Senin (6/7).
Kerja sama ekspor listrik hijau meliputi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections.
Ekspor listrik ke Singapura ini merupakan rencana lama, setidaknya 4 tahun lalu, yang baru ditindaklanjuti oleh Danantara berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto. Nantinya, proyek pembangkit hijau akan dibangun Danantara bersama pihak swasta lain.
Pembangkit tersebut akan dibangun bertahap di Batam, Bintan, dan Karimun dengan total kapasitas 3,4 gigawatt (GW). Rosan menyebut kapasitas pembangunan tahap awal yakni antara 600 MB sampai 1,2 GW.
Produksi listrik tersebut akan dibeli oleh Keppel maupun Sembcorp. Untuk dapat menyalurkannya, Indonesia juga akan membangun jaringan transmisi listrik menuju Singapura.






Komentar (0)