Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang menguat ke level 54,0 mencerminkan optimisme pasar terhadap ekonomi Indonesia.
"PMI (Manufaktur) naik ke 54,0 juga menunjukkan optimisme pasar terhadap perekonomian," kata Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, Senin.
Berdasarkan laporan S&P Global yang dirilis Senin (2/11), PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai level tertinggi dalam 31 bulan terakhir. PMI Manufaktur Indonesia ekspansi ke level 54,0 dari 52,4 pada September 2026.
Selain itu, Menko Airlangga juga menanggapi rilis Badan Pusat Statistik (BPS) soal inflasi dan neraca perdagangan Oktober 2026.
Menurut dia, capaian inflasi yang tercatat 3,23 persen secara tahunan (yoy) masih dalam rentang target yang ditetapkan sebesar 1,5-3,5 persen. Sedangkan secara bulanan inflasi tercatat 0,22 persen (mtm).
Begitu pula dengan neraca perdagangan. BPS mengumumkan neraca perdagangan pada September 2026 surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS.
Kondisi itu disebabkan nilai ekspor tercatat sebesar 27,59 miliar dolar AS, sedangkan impor membukukan 24,23miliar dolar AS.
"Neraca perdagangan 10 bulan baik. Inflasi juga masih dalam taraf 2,5 plus minus 1 persen dan secara year-to-date juga masih baik," katanya.
Adapun BPS melaporkan surplus neraca perdagangan periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas.
“Surplus sepanjang periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus 34,21 miliar dolar AS, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 23,60 miliar dolar AS,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono.
BPS mencatat neraca perdagangan kumulatif periode Januari-September 2026 masih mengalami surplus 10,61 miliar dolar AS, didukung oleh surplus pada September 2026 sebesar 3,36 miliar dolar AS.
Lebih lanjut, nilai ekspor kumulatif Januari-September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS, naik 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"PMI (Manufaktur) naik ke 54,0 juga menunjukkan optimisme pasar terhadap perekonomian," kata Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, Senin.
Berdasarkan laporan S&P Global yang dirilis Senin (2/11), PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai level tertinggi dalam 31 bulan terakhir. PMI Manufaktur Indonesia ekspansi ke level 54,0 dari 52,4 pada September 2026.
Selain itu, Menko Airlangga juga menanggapi rilis Badan Pusat Statistik (BPS) soal inflasi dan neraca perdagangan Oktober 2026.
Menurut dia, capaian inflasi yang tercatat 3,23 persen secara tahunan (yoy) masih dalam rentang target yang ditetapkan sebesar 1,5-3,5 persen. Sedangkan secara bulanan inflasi tercatat 0,22 persen (mtm).
Begitu pula dengan neraca perdagangan. BPS mengumumkan neraca perdagangan pada September 2026 surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS.
Kondisi itu disebabkan nilai ekspor tercatat sebesar 27,59 miliar dolar AS, sedangkan impor membukukan 24,23miliar dolar AS.
"Neraca perdagangan 10 bulan baik. Inflasi juga masih dalam taraf 2,5 plus minus 1 persen dan secara year-to-date juga masih baik," katanya.
Adapun BPS melaporkan surplus neraca perdagangan periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas.
“Surplus sepanjang periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus 34,21 miliar dolar AS, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 23,60 miliar dolar AS,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono.
BPS mencatat neraca perdagangan kumulatif periode Januari-September 2026 masih mengalami surplus 10,61 miliar dolar AS, didukung oleh surplus pada September 2026 sebesar 3,36 miliar dolar AS.
Lebih lanjut, nilai ekspor kumulatif Januari-September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS, naik 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.






Komentar (0)