Persoalan taswib dalam azan subuh, yakni ucapan as-salatu khairun minan-naum (salat itu lebih baik daripada tidur), kembali dikaji dalam Musyawarah Nasional (Munas) XXXIII Tarjih Muhammadiyah yang akan digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada 5-7 November mendatang.
"Fikih ibadah itu kaji ulang tentang bacaan taswib yaitu bacaan as-solatu khairun minan-naum dalam azan salat subuh itu," kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Syamsul Anwar di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (2/11).
Syamsul mengatakan alasan taswib dibahas karena sudah berkali-kali dibahas di munas sebelumnya tetapi belum tuntas.
"Jadi dari munas-munas itu amarnya adalah supaya dikaji ulang dalam munas-munas yang akan datang gitu. Jadi kita berkewajiban moral untuk menuntaskan apa yang sudah dimulai," katanya.
Syamsul mengatakan yang menjadi persoalan taswib adalah adanya perbedaan pendapat. Syamsul menjelaskan Imam al-Syafi'i mengatakan untuk tidak memakai taswib.
"Karena dalam hadis namanya hadis Abu al-Mahdzurah, nama orang sumber dari hadis itu, tidak ketika Nabi mengajarkan azan kepada Abu Mahdzurah itu, tidak ada di situ taswib," katanya.
Lanjut Syamsul yang memakai taswib menurut riwayat adalah Imam Malik dan Imam Ahmad.
"Tapi Imam Malik dalam karyanya sendiri tidak menyebut ada taswib," katanya.
Lalu timbul pertanyaan, kalau begitu apakah taswib itu sudah ada di zaman Nabi sehingga kita kerjakan atau itu muncul kemudian?
"Karena ya dalam masalah-masalah agama itu sering muncul hal-hal sesudah peninggalan sesudah masa Nabi Muhammad SAW," katanya.
"Sehingga diperlukan satu kepastian karena ini masalah ibadah, apakah sudah dipraktikkan atau belum di zaman Nabi? Sehingga menjadi debat yang kontroversial sepanjang zaman," katanya.
Maka dari itu, persoalan ini akan kembali dikaji. Soal hasilnya seperti apa nantinya bergantung pada peserta musyawarah.
"Apakah mereka akan tetap mempertahankan as-salatu khairun minan-naum atau mereka menganggap bahwa pandangan yang lebih kuat adalah yang tidak pakai as-salatu khairun minan-naum seperti pandangan Imam Syafi'i ya jadi. Jadi belum dapat dijelaskan nanti bagaimana, karena ini kan orang banyak. Jadi masing-masing punya pendapat, nanti mengerucutnya ke mana, atau malah bisa jadi tidak mengerucut seperti dalam munas-munas yang telah lalu-lalu ya," katanya.
Namun, harapan Syamsul kajian ini dapat mengerucut.
"Supaya kita tidak terbebani oleh masalah itu-itu saja dari waktu ke waktu ya," pungkasnya.






Komentar (0)