JK Dorong Blok Masela Jadi Motor Kebangkitan Ekonomi Maluku

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), mengingatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan kalangan pengusaha di Maluku agar segera mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) dan kemampuan industri lokal untuk menyambut pengembangan proyek gas Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.

Menurut JK, proyek strategis bernilai ratusan triliun rupiah tersebut harus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat Maluku, bukan sekadar menjadi proyek besar yang lebih banyak dinikmati tenaga kerja dan perusahaan dari luar daerah.

"Kalau tidak disiapkan dari sekarang, orang dari luar yang akan datang bekerja. Orang Maluku tidak punya kesempatan berada pada posisi-posisi penting. Jangan sampai masyarakat Maluku hanya menjadi penonton," tegas JK.

Hal tersebut disampaikan JK saat menjadi narasumber dalam Maluku Business Forum 2026 bertajuk From Energy Potential to Sustainable Prosperity, yang berlangsung di Ballroom Hotel Santika Ambon, Minggu (1/11).

JK menjelaskan, pengembangan Blok Masela diperkirakan membutuhkan investasi konstruksi sekitar USD 20 miliar dengan target produksi pada 2030. Pada tahap pembangunan, proyek tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja.

Namun, menurutnya, besarnya peluang tersebut tidak otomatis memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat apabila tidak diimbangi kesiapan tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan keahlian sesuai kebutuhan industri.

Karena itu, JK mendorong pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Maluku segera menyiapkan program pendidikan, pelatihan, serta pemagangan tenaga kerja, baik di dalam maupun luar negeri.

"Magangkan di Tangguh, di Kalimantan, dan di Laut Jawa. Siapkan tenaga-tenaga dari sekarang agar mereka mempunyai kemampuan dan pengalaman ketika proyek itu berjalan," ujarnya.

JK mengingatkan pengalaman pengembangan industri gas di Aceh yang menurutnya dapat menjadi pelajaran penting. Ketidaksiapan tenaga kerja lokal ketika industri berkembang telah menimbulkan kecemburuan sosial karena banyak kesempatan kerja justru diisi tenaga dari luar daerah.

"Jangan sampai pengalaman di Aceh terulang di Maluku. Kalau tidak siap, masyarakat setempat akan kehilangan kesempatan untuk bekerja di industri yang ada di daerahnya sendiri," katanya.

Selain kesiapan tenaga kerja, JK juga menekankan pentingnya keterlibatan pengusaha lokal sebagai kontraktor, subkontraktor, maupun penyedia berbagai layanan pendukung industri.

Menurutnya, pengusaha Maluku perlu membangun kemitraan dengan perusahaan yang memiliki kemampuan teknologi tinggi agar dapat mengambil bagian dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas Blok Masela.

Peluang ekonomi tersebut, lanjut JK, tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga mencakup industri pupuk, petrokimia, perikanan, transportasi, perumahan, perdagangan, restoran, serta berbagai jasa pendukung lainnya.

"Pengusaha-pengusaha harus dilatih dan disiapkan. Tanpa itu, proyek sebesar apa pun tidak akan memberikan manfaat yang maksimal bagi daerah," jelasnya.

JK juga menyoroti pentingnya pengembangan industri hilir agar gas yang dihasilkan tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi turut mendorong pertumbuhan industri dan menciptakan lapangan kerja baru di Maluku.

Ia menjelaskan bahwa gas alam memiliki tiga potensi pemanfaatan utama, yakni sebagai sumber energi, bahan baku industri pupuk, dan industri petrokimia.

Selain itu, JK menilai pemerintah daerah perlu memperjuangkan pembagian manfaat ekonomi dari pengelolaan Blok Masela agar dampaknya dapat dirasakan masyarakat di seluruh wilayah Maluku, bukan hanya Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebagai lokasi fasilitas pengolahan.

"Ini perjuangan yang harus dilakukan. Bagaimana daerah-daerah lain di Maluku juga memperoleh manfaat dari kekayaan alam tersebut," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, JK turut mengingatkan sejarah panjang Maluku sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia sejak ratusan tahun lalu.

Menurutnya, Maluku telah menjadi pusat kegiatan ekonomi internasional jauh sebelum Indonesia terbentuk. Karena itu, pengembangan Blok Masela harus menjadi momentum untuk mengembalikan kejayaan ekonomi Maluku melalui pengelolaan sumber daya alam yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

"Bisnis bukan barang baru di Maluku. Lima abad lalu daerah ini sudah berhubungan dengan pedagang-pedagang dunia karena kekayaan rempah-rempahnya," ungkap JK.

JK berharap seluruh pemangku kepentingan di Maluku dapat memanfaatkan waktu menjelang beroperasinya Blok Masela pada 2030 untuk memperkuat kualitas SDM, meningkatkan kemampuan pengusaha lokal, serta mempersiapkan infrastruktur pendukung.

"Sekali lagi, dari sekarang pemerintah daerah harus menyiapkan orang-orangnya, pengusaha-pengusaha harus siap. Kalau tidak, ketika proyek itu berjalan, kita tidak mampu mengambil manfaatnya," pungkas JK.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
ASN Ditikam di Ilaga, Satgas Damai Cartenz Duga Motifnya Balas Dendam KKB
• 2 jam lalu
0
thumb
Persaingan Ketat, 76 Ultimate Downhill Tutup Musim di Ternadi Bike Park Kudus
• 21 jam lalu
0
thumb
Wamentan Saleh tekankan intelijen pertanian demi kekuatan pangan RI
• 4 jam lalu
0
thumb
Bonus Rp50 Juta Menanti Veda Ega Pratama Usai Runner-Up Moto3 Malaysia, Ini Klasemen Terbaru
• 8 jam lalu
0
thumb
OJK Sebut Investor Cerdas Justru Serok Saham Saat Harga Anjlok
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.