Minum teh secara teratur memberikan manfaat penting bagi jantung dan pembuluh darah. Namun, untuk mendapat manfaat maksimal dari minum teh, perlu memerhatikan jenis teh, seberapa kuat teh itu, dan suhu saat dikonsumsi karena semuanya terkait kesehatan pembuluh darah.
Hasil riset yang diterbitkan dalam Journal of Internal Medicine yang dipublikasikan pada 21 Oktober 2026 dengan melibatkan hampir 500.000 orang dewasa di China membuktikan hal tersebut.
Studi itu menemukan bahwa orang yang mengonsumsi teh secara teratur berisiko lebih rendah terkena beberapa penyakit pembuluh darah dibandingkan mereka yang tak minum teh. Hal ini memberi wawasan baru bagaimana minuman sehari-hari terkait dengan kesehatan kardiovaskular dalam jangka panjang.
Menurut Yu Jiang, peneliti dari School of Health Policy and Management, Chinese Academy of Medical Sciences & Peking Union Medical College, Beijing, China, dikutip dari laman Sciencedaily.com, Senin (2/11/2026), peneliti memantau kebiasaan minum teh responden selama 9,05 tahun. Ada 14.863 kasus melibatkan beberapa jenis penyakit pembuluh darah.
Kondisi itu meliputi penyakit kardiovaskular, yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah, dan penyakit serebrovaskular, yang melibatkan pembuluh darah yang memasok otak.
Para peneliti juga memeriksa penyakit jantung paru, yakni kondisi paru-paru atau pembuluh darahnya memberi tekanan pada jantung, dan penyakit arteri perifer. Hal ini terjadi ketika arteri yang membawa darah ke area seperti kaki menjadi menyempit atau tersumbat.
Meski kondisi-kondisi itu memengaruhi bagian tubuh berbeda, semuanya memiliki satu kesamaan penting yakni mengganggu sirkulasi darah, yang mengantarkan oksigen dan nutrisi ke organ dan jaringan.
“ Para peneliti membandingkan kebiasaan minum teh dengan kejadian penyakit itu. Hasilnya, konsumsi teh secara teratur terkait risiko gabungan hasil vaskular 11 persen lebih rendah,” kata Zichen Ye, peneliti dari School of Health Policy and Management, Chinese Academy of Medical Sciences & Peking Union Medical College, Beijing, China.
Ye menambahkan, meski sejumlah kondisi itu memengaruhi bagian tubuh berbeda, semuanya memiliki satu kesamaan penting yakni mengganggu sirkulasi darah yang mengantarkan oksigen dan nutrisi ke organ dan jaringan. Relasi itu bervariasi, tergantung pada asupan yang dikonsumsi.
Di antara orang-orang yang minum teh tiap minggu, perkiraan risiko terendah terjadi pada 6-8 cangkir per hari. Namun hal ini tak serta merta berarti minum lebih banyak teh secara langsung mencegah penyakit atau tiap orang harus mengonsumsi jumlah itu.
“Karena penelitian ini bersifat observasional, penelitian ini dapat mengidentifikasi hubungan antara minum teh dan hasil kesehatan tetapi tidak dapat menetapkan bahwa teh itu sendiri yang bertanggung jawab atas perbedaan tersebut,” kata Ye menegaskan.
Yu Jiang, peneliti lainnya dari School of Health Policy and Management, Chinese Academy of Medical Sciences and Peking Union Medical College, Beijing, China, memaparkan, riset mengungkap teh hitam menunjukkan relasi lebih konsisten dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan teh hijau.
Hal ini menunjukkan berbagai jenis teh mungkin tidak memiliki hubungan yang identik dengan kesehatan kardiovaskular. Teh hitam maupun teh hijau berasal dari tanaman sama, Camellia sinensis , tapi keduanya melalui metode pengolahan yang berbeda.
Teh hitam biasanya dibiarkan mengalami oksidasi ekstensif, proses kimia yang mengubah komposisi senyawa dalam daun, sedangkan teh hijau diproses untuk membatasi oksidasi.
Para peneliti membandingkan kebiasaan minum teh dengan kejadian penyakit itu. Hasilnya, konsumsi teh secara teratur terkait risiko gabungan hasil vaskular 11 persen lebih rendah.
Teh secara alami mengandung senyawa tumbuhan yakni polifenol, yang menarik minat ilmiah karena sifat antioksidannya dan potensi pengaruhnya pada fungsi pembuluh darah. Antioksidan bisa membantu membatasi jenis kerusakan sel tertentu yang disebabkan molekul reaktif.
Namun, penelitian ini tidak membuktikan apakah senyawa-senyawa tersebut menjelaskan perbedaan yang diamati antara teh hitam dan teh hijau. Kekuatan teh juga tampaknya berpengaruh.
“ Peserta yang minum teh dengan kekuatan sedang memiliki risiko penyakit vaskular terendah. Teh yang lebih kuat tidak selalu terkait dengan manfaat yang lebih besar,” ujar Yu Jiang.
Meski konsumsi teh secara teratur umumnya dikaitkan penurunan risiko penyakit pembuluh darah, minum teh yang digambarkan "sangat panas" justru dihubungkan dengan kenaikan risiko. Hasil studi menunjukkan suhu teh jadi pertimbangan penting selain seberapa banyak orang minum dan jenis teh apa yang mereka sukai.
Minuman yang sangat panas dapat memaparkan jaringan di mulut dan saluran pencernaan pada suhu tinggi, tapi riset ini tidak menetapkan mekanisme biologis di balik risiko vaskular yang diamati. Penelitian ini juga tidak mengidentifikasi suhu spesifik di mana teh menjadi berbahaya.
Meski minum teh bisa membantu kesehatan pembuluh darah, menggabungkan dengan faktor gaya hidup lain, termasuk tidak merokok dan rutin beraktivitas fisik, tetap penting. Analisis mereka menunjukkan orang yang rutin minum teh, bukan perokok aktif, dan menjaga tingkat aktivitas fisik tinggi memiliki risiko penyakit kardiovaskular terendah.
"Analisis gabungan menunjukkan konsumsi teh, status merokok, dan aktivitas fisik secara kolektif terkait risiko vaskular, dengan kombinasi yang menguntungkan dari konsumsi teh secara teratur, tidak merokok, dan aktivitas fisik tinggi dikaitkan risiko terendah," kata Yu Jiang.
Aktivitas fisik teratur mendukung kesehatan kardiovaskular dalam beberapa cara, termasuk meningkatkan sirkulasi, membantu mengatur tekanan darah, dan mendukung fungsi jantung dan pembuluh darah. Menghindari merokok juga mengurangi paparan zat-zat yang dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko kardiovaskular.
“Riset kami membuktikan, minuman teh yang banyak dikonsumsi orang ini membantu menjaga kesehatan kardiovaskular. Untuk mendapat manfaat optimal, ada perbedaan penting dalam hal teh, jumlah, jenis, kekuatan, dan suhu. Semuanya perlu dipertimbangkan,” papar Yu Jiang.
Secara terpisah, temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Beverage Plant Research oleh tim Mingchuan Yang dan Li Zhou dari Institut Penelitian Teh, Akademi Ilmu Pertanian Cina di Hangzhou, memperingatkan, tak semua teh menawarkan nilai kesehatan sama. Teh memberi manfaat kesehatan jelas, terutama bila dikonsumsi dalam bentuk tradisionalnya, yaitu diseduh segar.
Jika orang tetap ingin minum teh olahan seperti teh botolan dan bubble tea, kata Yang, konsumsi secukupnya saja. Sebab, kandungan gula dan pengawet dalam teh olahan justru dapat melemahkan atau mengurangi manfaat alami teh.
“Konsumsi teh seduh secra teratur dan dalam jumlah sedang dapat membantu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker. Riset lanjutan dibutuhkan untuk melihat hasil konsumsi teh dalam jangka panjang, perbedaan antar varietas teh, dan dampak kontaminan dari teh untuk menyempurnakan panduan efek kesehatan teh,” ujarnya.
Para peneliti mencatat kekhawatiran tentang residu pestisida, logam berat, dan mikroplastik dalam teh. Meski kontaminan ini tidak dianggap sebagai risiko signifikan bagi kebanyakan orang pada tingkat asupan normal, kontaminan ini lebih relevan bagi individu yang mengonsumsi teh berjumlah besar dalam jangka waktu lama.
Ulasan ini juga membahas bagaimana teh dapat mengganggu penyerapan nutrisi tertentu, termasuk zat besi non-heme dan kalsium, yang mungkin penting bagi orang yang mengikuti diet vegetarian atau mereka yang memiliki kebutuhan nutrisi khusus.






Komentar (0)