Anti "drone", Tank Harimau, dan Strategi Merespons Tantangan Perang Modern (4)

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Perkembangan teknologi telah mengubah karakter peperangan modern. Pesawat nirawak, sistem pengganggu elektronik, hingga persenjataan presisi semakin mewarnai medan pertempuran.

Jika dalam perang konvensional pasukan infanteri akan berhadapan dengan pasukan infanteri, dalam perang modern pasukan infanteri harus mengawasi langit untuk mewaspadai serangan pesawat nirawak (drone) yang dikendalikan dari jarak jauh. Tank dengan lapisan pelindung tebal dapat menjadi tumpukan besi tua karena serangan drone yang mampu menyerang titik paling lemah dari kendaraan lapis baja.

Namun, perubahan tersebut tidak lantas membuat persenjataan konvensional kehilangan relevansinya. Industri pertahanan dalam negeri pun berupaya menguasai kedua jenis teknologi tersebut.

Badan usaha milik negara (BUMN) pertahanan seperti PT Pindad meresponsnya dengan membuat sistem antipesawat nirawak bernama senjata pelumpuh senyap (SPS)-1 anti-drone. PT Pindad menyebut, produk tersebut 100 persen hasil pengembangan dalam negeri yang mengoptimalkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

Kemampuan pertahanan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi untuk menghadapi ancaman baru, tetapi juga kemampuannya mempertahankan dan mengembangkan sistem persenjataan utama.

SPS-1 dioperasikan oleh seorang personel dan menggunakan tenaga baterai. Sistem ini memiliki dua metode penindakan, yakni soft kill untuk menonaktifkan drone melalui gangguan akses kendali pada jarak hingga 500 meter (m), serta hard kill untuk menghancurkan drone pada jarak hingga 150 m.

Wakil Direktur Utama PT Pindad Heru Puryanto mengatakan, perang yang tengah berkecamuk di negara lain memperlihatkan peran pesawat nirawak yang semakin penting. Meski harganya murah, pesawat nirawak berfungsi efektif di medan peperangan.

Baca Juga”Drone” yang Mengubah Perang

Menurut Heru, beberapa BUMN yang bernaung di bawah Defend ID telah mengembangkan teknologi drone. Sementara itu, PT Pindad mengembangkan senjata anti-drone beserta kendaraan anti-drone. Kendaraan yang dimaksud adalah Maung MV3 Mobile Jammer yang memiliki radius jamming 3 kilometer (km).

”Tantangan kita untuk bisa mengantisipasi hal itu,” ujar Heru, Selasa (20/10/2026).

Kendati ancaman drone telah mengubah karakter peperangan modern, penguasaan teknologi persenjataan konvensional tetap menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Sebab, kemampuan pertahanan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi untuk menghadapi ancaman baru, tetapi juga kemampuannya mempertahankan dan mengembangkan sistem persenjataan utama.

Oleh karena itu, PT Pindad berkolaborasi dengan FNSS Turki untuk membangun tank Harimau. Berbeda dengan tank Leopard yang merupakan main battle tank (MBT) berbobot sekitar 68 ton, tank Harimau merupakan tank medium berbobot 35 ton dan bersenjatakan meriam (kanon) 105 milimeter (mm) Cockerill dari Belgia.

Baca JugaTank Harimau Buatan Pindad-Turki Dipamerkan, Dekatkan TNI ke Rakyat 

Heru menuturkan, kerja sama membuat tank Harimau dilakukan sejak 2016 yang didesain sesuai dengan spesifikasi dan kondisi yang muncul dari kebutuhan TNI di Indonesia. Total saat ini sudah 18 unit yang telah dioperasikan oleh TNI Angkatan Darat (AD). Kini, platform tersebut dikembangkan menjadi kendaraan lapis baja pengangkut personel (APC).

”Jadi, kita sempurnakan dan kita kembangkan variasinya. Karena kanon dan APC itu berbeda, berbeda fungsi dan berbeda bentuk juga,” ujar Heru.

PT Pindad telah menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan bagi TNI, seperti amunisi dan senapan. Senapan serbu Pindad SS2 buatan PT Pindad merupakan senjata standar ketiga matra di TNI. Adapun TKDN untuk senapan berkisar 58-70 persen.

Adapun untuk kendaraan tempur (ranpur), Anoa 6x6 APC dan kendaraan taktis (rantis) Komodo 4x4 APC telah lama menjadi inventaris TNI. Lebih dari 360 unit Anoa dan lebih dari 60 unit Komodo telah digunakan oleh TNI.

Di sisi lain, PT Pindad tengah kebanjiran pesanan kendaraan taktis ringan Maung yang disebut akan menjadi mobil dinas kementerian dan lembaga. Maung merupakan hasil kerja sama antara PT Pindad dan Ssangyong, salah satu pabrikan otomotif asal Korea Selatan.

”Sampai sejauh ini kami sudah deliver kepada Kementerian Pertahanan lebih dari 2.500. Diharapkan ke depan nanti bisa lebih dari itu. Kami tetap berkomitmen untuk bisa support itu,” ujar Heru.

Konsorsium Roket Nasional

Dalam teknologi peroketan, PT Pindad bersama PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia, Lapan yang kini bernama BRIN, serta beberapa pihak lain yang tergabung dalam Konsorsium Roket Nasional telah menghasilkan roket R-Han 122. Roket ini telah resmi digunakan TNI dan memiliki jangkauan efektif sekitar 25 km.

Kepala Bidang Alih Teknologi dan Offset Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Yono Reksoprodjo mengatakan, PT Pindad merupakan salah satu BUMN pertahanan yang memasok banyak peralatan militer ke TNI. Dari sekian banyak produknya, masih ada komponen dari alutsista atau perlengkapan militer yang belum bisa dibuat di dalam negeri. Semisal, pelat baja untuk kendaraan tempur Anoa atau laras untuk senapan serbu masih impor.

Melihat kebutuhan senapan yang besar dari dalam negeri, menurut Yono, mestinya hal itu dapat mendorong industri terkait untuk memproduksi. Sebab, selama ini salah satu alasan impor adalah nilai komponen itu tidak ekonomis jika dibuat di dalam negeri.

Namun, dengan rencana pemerintah membangun batalyon teritorial pembangunan, kebutuhan senapan dipastikan akan mencapai ratusan ribu pucuk. ”Kesempatannya besar. Jika berani berinvestasi, kesempatan return of investment-nya besar,” ujar Yono, Jumat (30/10/2026).

Menurut Yono, salah satu yang kini didorong dari Defend ID adalah teknologi peroketan. Fuse atau pemicu ledakan dikembangkan oleh PT Dahana dan teknologi propelan kini diinisiasi oleh PT Pindad. Dengan kebutuhan yang besar ke depan, mestinya pengembangan teknologi roket di dalam negeri menguntungkan.

Baca JugaJalan Terjal Indonesia Merangkak dari Roket Menuju Rudal

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) Rizal Darma Putra menilai industri pertahanan dalam negeri telah berupaya merespons perkembangan teknologi pertahanan, termasuk mengantisipasi perang asimetris. Hal itu dilakukan dengan memproduksi alat pengganggu sinyal drone.

Namun, kata Rizal, teknologi untuk perang konvensional tetap perlu dikuasai. Tidak hanya berhenti pada senjata anti-drone, tetapi juga beranjak ke pengembangan sistem penginderaan jauh yang terintegrasi dengan sistem penangkal serangan udara.

”Karena peperangan saat ini tidak hanya integrasi antarmatra, tapi antara platform dan sistem,” ujar Rizal.

Baca JugaJet Rafale dan Radar GCI Perancis Perkuat Pertahanan Udara Nasional

Di sisi lain, Rizal mengapresiasi pengembangan tank Harimau. Tank medium dinilainya lebih cocok dengan kontur geografis Indonesia dibandingkan MBT seperti Leopard. Dengan ukuran yang lebih kecil, tank medium dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain secara lebih cepat.

Gelar pasukan secara ringkas dan cepat sesuai dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Oleh karena itu, teknologi dan alutsista yang dikembangkan industri pertahanan dalam negeri seyogianya mendukung konsep pengerahan kekuatan secara cepat, efektif, dan taktis.

Rizal meyakini, BUMN pertahanan seperti PT Pindad secara bertahap dapat memenuhi kebutuhan alat pertahanan, khususnya matra darat. Namun, dengan kondisi Indonesia yang begitu luas, penguasaan teknologi roket dan peluru kendali (rudal) sebagai alat pertahanan udara mau tidak mau harus dikuasai.

Baca JugaMengapa Sejumlah Negara Berlomba Membuat Rudal Hipersonik?

Hal yang menjadi masalah, sambung Rizal, pengembangan industri pertahanan Indonesia belum sepenuhnya fokus ke sektor tertentu, semisal diarahkan untuk membangun sistem pertahanan udara yang terintegrasi. Pengembangan teknologi pertahanan hingga pembelian alutsista strategis, seperti rudal, masih terasa tambal sulam, bukan karena perencanaan jangka panjang.

”Jangan-jangan hanya ikut-ikutan tren. Apakah road map atau studinya sudah ada atau belum, saya ragu,” kata Rizal.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ekonomi Terjaga di Atas 5 Persen, Ini Sejumlah Faktor Kuncinya
• 22 menit lalu
0
thumb
Penelitian Ungkap Kecerdasan Geometri dalam Motif Kain Tenun Sumba
• 22 jam lalu
0
thumb
5 Rekomendasi Drakor Mirip 100 Days of Deception, Berlatar Era Kolonial Jepang dengan Kisah Epik yang Bikin Deg-degan
• 16 jam lalu
0
thumb
Foto: Bendera Raksasa Indonesia-Palestina Warnai Apel Akbar dan Doa Bersama di Monas
• 23 jam lalu
0
thumb
Guizhou luncurkan rute drone untuk logistik di ketinggian rendah
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.