CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Sejarah PSM Makassar tidak hanya ditulis lewat nama-nama pemain dan deretan trofi. Ada kisah lain yang kerap luput dari sorotan, yaitu kisah tentang lapangan dan stadion tempat klub berkelana dari masa ke masa.
Kisah itu bermula pada 2 November 1915, ketika klub ini berdiri dengan nama Makassarsche Voetbal Bond (MVB). Di tengah geliat olahraga masa kolonial, sepak bola Makassar tumbuh di lapangan-lapangan yang juga menjadi ruang berkumpul masyarakat.
Salah satunya, dan yang paling lekat dalam ingatan, adalah Lapangan Karebosi. Terbentang di jantung kota, lapangan ini lama menjadi tempat warga berolahraga, bertemu, dan menyaksikan pertandingan. Sebelum punya rumah sendiri, di sinilah PSM merumput dan menanamkan akarnya di hati masyarakat.
Rumah itu baru hadir pada pertengahan 1950-an. Stadion Mattoanging dibangun untuk menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) IV pada 1957.
Stadion yang kemudian dikenal sebagai Stadion Andi Mattalatta, mengabadikan nama tokoh asal Sulawesi Selatan, itu tak lama berubah dari arena pesta olahraga nasional menjadi markas kebanggaan Juku Eja.
Bagi publik Makassar, Mattoanging jauh lebih dari bentangan rumput dan tribun beton. Di sana persaingan Perserikatan dan kompetisi nasional berlangsung dengan gengsi tinggi.
Di sana pula lahir pemain-pemain yang kelak dikenang sebagai legenda, dan di sana pesta kemenangan digelar ketika PSM mengangkat trofi, termasuk juara Perserikatan 1991/92 dan juara Liga Indonesia 1999/2000.
Yang tak kalah melekat adalah suasananya. Tribun yang dipenuhi warna merah marun, nyanyian suporter yang bergema dari kick-off hingga peluit akhir, dan dukungan yang tak pernah surut dalam kondisi apa pun. Semua itu membentuk identitas sepak bola Makassar yang sulit dipisahkan dari perjalanan klub.
Namun waktu membawa perubahan. Pada Oktober 2020, Stadion Andi Mattalatta, atau Mattoanging, dibongkar. Rumah yang puluhan tahun menjadi tempat pulang itu tak lagi bisa dipakai, dan PSM harus mencari kandang baru.
Di tengah kompetisi yang terdampak pandemi, perjalanan pun dimulai. Salah satu persinggahannya adalah Stadion Sultan Agung di Bantul, Yogyakarta, jauh dari Makassar, jauh pula dari tribun merah marun yang biasa menyambut mereka.
Memasuki musim 2022/2023, Juku Eja menemukan tempat berlabuh yang lebih tetap di Stadion BJ Habibie, Parepare. Ironi tak terhindarkan: klub yang berakar kuat di Makassar harus menjamu lawan di kota lain.
Kerinduan akan stadion representatif di tanah sendiri terus menjadi perbincangan publik dari tahun ke tahun.
Pengembaraan itu belum berakhir. Pada musim 2023/2024, tepatnya Februari 2024, PSM kembali berpindah kandang, kali ini ke Stadion Batakan di Balikpapan, Kalimantan Timur. Alasannya, Stadion BJ Habibie sedang menjalani renovasi.
Di seberang Selat Makassar, ratusan kilometer dari Karebosi dan Mattoanging, PSM menjadikan Batakan markas sementara untuk melanjutkan kompetisi Liga 1.
Bagi para pemain, bermain di Batakan berarti menjalani laga kandang dengan rasa tandang. Rumput, tribun, dan atmosfernya asing, sementara pendukung setia harus menempuh perjalanan jauh atau mengikuti dari layar.
Meski begitu, merah marun tetap menemukan jalannya ke sana. Hampir setahun kemudian, pada Maret 2025, PSM akhirnya kembali berkandang di Stadion BJ Habibie, Parepare.
Di tengah perjalanan panjang itu, harapan akan rumah sendiri kini mulai terlihat bentuknya, meski belum sepenuhnya berdiri. Dua stadion baru di Makassar sedang dalam proses pembangunan.
Di kawasan Sudiang, pekerjaan konstruksi sudah dimulai, dan stadion ditargetkan selesai pada 2027. Proyek yang dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum ini sempat mundur dari jadwal awal dan baru diperkirakan dimulai pada Januari 2026.
Bagi suporter yang bertahun-tahun menagih janji stadion, sorak "akhirnya" yang tertahan lama kini punya alasan untuk terdengar lagi.
Tak jauh dari sana, di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Pemerintah Kota Makassar menyiapkan stadion lainnya.
Prosesnya dimulai dari dasar: lahan harus ditimbun dan dimatangkan terlebih dahulu, dengan pembangunan stadion ditargetkan mulai 2027. Pada akhir Oktober 2026, Pemkot Makassar dikabarkan mempercepat pembangunan Stadion Untia.
Dua stadion yang sama-sama belum rampung itu membuat PSM menyambut usia ke-111 dengan sesuatu yang lama tak mereka miliki, yakni gambaran jelas tentang tempat untuk pulang.
Meski begitu, kebersamaan dengan pendukung tidak ikut pindah tempat. Stadion BJ Habibie kini menjadi salah satu persinggahan penting dalam perjalanan Juku Eja.
Di sana, tradisi laga kandang terus berlanjut, dan para suporter tetap menempuh jarak untuk memenuhi tribun.
Kini, memasuki usia ke-111 pada 2 November 2026, jejak stadion yang pernah disinggahi PSM menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah klub tidak semata dibangun oleh skor akhir.
Lapangan dan tribun menyimpan cerita yang lebih dalam tentang perjuangan, kebanggaan, dan generasi demi generasi yang pernah menjadi bagian dari Juku Eja, dari rumput Karebosi hingga stadion-stadion baru yang kelak menjadi tempat mereka pulang.





Komentar (0)