JAKARTA -- Obsessive-compulsive disorder (OCD) sering disalahartikan sebagai kebiasaan menyukai kebersihan, kerapian, atau keteraturan. Padahal, OCD merupakan gangguan mental yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama ketika pikiran dan perilaku berulang mulai sulit dikendalikan hingga menimbulkan tekanan bagi penderitanya.
Psikolog sekaligus dosen di IPB University, Agung Minto Wahyu, mengatakan OCD tidak dapat dinilai hanya berdasarkan seberapa rapi atau teraturnya seseorang. Hal yang lebih penting adalah kemampuan individu dalam mengendalikan perilaku tersebut.
Baca Juga
Studi Ungkap Remaja Perempuan Lebih Banyak Ngevape daripada Laki-laki
Penggunaan Ponsel Setelah Pukul 22.00 Ganggu Kualitas Tidur Remaja
Mengapa Gen Alpha Suka Mendebat dan Ceplas-Ceplos?
"Yang membedakan bukan seberapa rapi atau teraturnya seseorang, tetapi apakah dia masih memiliki kendali dan pilihan atas perilaku tersebut," jelas Agung dalam keterangan tertulis, dikutip pada pekan lalu.
Agung menyebut OCD ditandai dengan munculnya obsesi, kompulsi, atau keduanya. Obsesi berupa pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul berulang kali, tidak diinginkan, dan sulit dikendalikan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sementara itu, kompulsi merupakan perilaku atau tindakan mental yang dilakukan berulang kali sebagai respons terhadap obsesi atau untuk mengatasi kecemasan yang dirasakan. "OCD menjadi gangguan ketika gejalanya menyita waktu secara signifikan, menimbulkan tekanan, atau mengganggu fungsi kehidupan seseorang, seperti pekerjaan, studi, maupun hubungan sosial," kata dia.
Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR), obsesi dan kompulsi yang menyita waktu lebih dari satu jam sehari dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan. Agung mengatakan, gejala OCD juga tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang dapat mengalami kekhawatiran berlebihan terhadap kotoran, keraguan berulang, kebutuhan agar sesuatu terasa benar, hingga pikiran yang tidak diinginkan tentang menyakiti diri sendiri atau orang lain.
"Pada sisi kompulsi, gejalanya dapat berupa mencuci tangan berkali-kali, memeriksa sesuatu secara berulang, mengulang kata atau hitungan dalam pikiran, hingga terus-menerus meminta kepastian dari orang lain," kata dia.
Komentar (0)