Dengan SMK 3+1 dan LKP, Siswa Siap Kerja ke Jepang hingga Jerman

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Bekal pendidikan vokasi, ditambah ketrampilan berbahasa asing, telah menjadi pintu bagi para anak muda di sejumlah daerah di Indonesia untuk merambah ke berbagai negara. Bekal yang diperoleh lewat program SMK 3+1 dan program pendidikan di lembaga kursus dan pelatihan, ini membuat para siswa pendidikan vokasi ini percaya diri menapaki karier di luar negeri.

“First of all, let me introduce myself. My name is Christian Orlando Senyoto. I'm 18 years old. I'm from Gunung Kidul. I graduated from SMK Wonosari. And then I work in Turkey as a room attendant. Thank you,” kata Christian yang akan bekerja di hotel di Turki, Kamis (29/10/2026), di Yogyakarta.

Hal itu disampaikan Christian di acara pelepasan 3.030 siswa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP Bekerja) di Luar Negeri yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Sleman, Yogyakarta. Acara ini turut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Baca JugaLulusan SMK di Jatim Banyak Menganggur, Pelaku Industri Perkuat Pendidikan Vokasi
Baca JugaMembuka Jalan bagi Lulusan SMK untuk Bekerja di Luar Negeri

Di acara itu, ada pula Michelle Audria Lestari (18) yang akan bekerja di Jepang. Dengan percaya diri, Michelle juga memperkenalkan dirinya dengan bahasa Jepang. “Jogujakarta no Michelle desu. Watashi wa nihon no hiroshima ni aru teraoka byouin de kaigo no shigoto wo shiteimasu. Hai, ijou desu. Yoroshiku onegai shimasu. Arigatou gozaimasu,” kata Michelle yang disambut tepuk tangan meriah ribuan peserta secara luring dan daring.

Michelle yang asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengatakan ia lulusan SMK Kesehatan Bina Tama. Ia akan bekerja sebagai caregiver di wilayah Hiroshima di Jepang.  Kelak, ia akan mengambil sertifikat Kaigo Fukushishi, yakni sertifikasi kualifikasi nasional tertinggi dari pemerintah Jepang untuk profesi caregiver atau perawat lansia profesional.

“Setelah saya mendapatkan sertifikat Kaigo Fukushishi, mungkin saya akan kembali ke Indonesia dan membawa keluarga saya untuk tinggal di Jepang,” ujar Michelle.

 

Tak kalah percaya dirinya, Ananda Raditya lulusan SMK Prambanan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia menunjukkan kesiapannya bekerja di Jerman. Bahkan, ia pun fasih berbahasa Inggris.  

“Hallo, ich nenne Ihnen einen guten Morgen, meine Damen und Herren. Zuerst möchte ich mich kurz vorstellen. Ich heiße Ananda Raditya. Mein Rufname ist Radit. Ich bin achtzehn Jahre alt. Ich wurde in Sleman geboren. Meine Muttersprache ist Indonesisch, aber ich kann auch ein bisschen Deutsch und Englisch sprechen. Mein Hobby ist Fußballspielen. Ja, ich lerne Deutsch an der SMK Muhammadiyah Prambanan,” katanya.

Raditya mengatakan ia lahir di Sleman, dan bahasa ibunya adalah bahasa Indonesia, Tetapi ia bisa juga berbicara sedikit bahasa Jerman dan bahasa Inggris. ”Hobi saya adalah bermain sepak bola. Ya, saya belajar bahasa Jerman di SMK Muhammadiyah Prambanan,” katanya.

Setelah bahasa Jermannya makin fasih, Raditya berencana melanjutkan kuliah Strata 2 di Jerman.

Baca JugaKafe di SMK Negeri 15 Bandung, Titian Siswa ke Dunia Kerja
Baca JugaSiswa SMK Siap Menjawab Panggilan Industri

Raditya akan bekerja sebagai operator mesin di Jerman. Ia  bekerja sambil kuliah online di Indonesia. Setelah bahasa Jermannya makin fasih, Raditya berencana melanjutkan kuliah Strata 2 di Jerman.

Sementara itu, lulusan LKP ada yang bekerja di kapal pesiar atau perhotelan, ada yang menjadi chef atau barista. Mereka bekerja di Amerika Serikat, Kuwait, Bulgaria, dan negara-negara lainnya.

“Saya akan bekerja di industri hospitality di Bulgaria. Selain bermodalkan sertifikasi sesuai keahlian, saya saat ini membekali diri dengan kemampuan bahasa Inggris,” kata Ahmad asal Sumbawa yang ikut pelatihan vokasi di salah satu LKP di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Ahmad menuturkan, setelah bekerja di Bulgaria dan mendapat sertifikat internasional, ia akan  lanjut bekerja di kapal pesiar.  “Saya bercita-cita ingin menjadi seorang chef. Dan saya akan pakai pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan untuk membuat restoran,” ujarnya.

Baik Christian, Michelle, maupun Raditya, adalah sebagian dari 3.030 peserta Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri (SMK 3+1) dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang telah lulus. Para lulusan itu terdiri atas 1.530 lulusan dari 231 SMK dan 1.500 lulusan dari 17 LKP yang tersebar di seluruh Indonesia.

Mereka telah menyelesaikan pendidikan sesuai bidang keahlian masing-masing dan lolos seleksi kerja internasional untuk ditempatkan di sejumlah negara, antara lain Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Turki, dan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Hingga saat ini, melalui program SMK 3+1 dan LKP, sekitar 13.000 orang telah bekerja di luar negeri.

Baca JugaPengalaman Kerja Menaikan Daya Tawar Siswa SMK
Baca JugaMembuka Jalan bagi Lulusan SMK untuk Bekerja di Luar Negeri

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin yang dihubungi dari Jakarta, Minggu (1/11/2026), mengatakan, melalui program SMK 3+1, lulusan SMK diberikan program pengayaan pendidikan selama satu tahun. Bantuan ini merupakan intervensi stimulan yang diberikan kepada murid melalui sekolah untuk memperkuat kesiapan mereka mengakses peluang kerja dan magang di luar negeri.

Demikian pula program LKP, menjadi wadah pendidikan ketrampilan bagi warga lulusan SMK maupun Strata 1. Program ini juga menyiapkan para pesertanya untuk siap bekerja di luar negeri.

Adapun bantuan pemerintah untuk penguatan akses kebekerjaan luar negeri bagi siswa SMK Tahun 2026 diberikan kepada 2.750 murid dari 196 SMK, dengan alokasi bantuan sebesar Rp10 juta per murid. “Program ini bertujuan untuk memperluas akses dan mempercepat kesiapan murid SMK memasuki pasar kerja internasional melalui pembekalan kompetensi, peningkatan kemampuan bahasa asing, dan fasilitasi persiapan penempatan kerja maupun magang di luar negeri,” katanya.

Tatang menambahkan, bantuan tersebut bersifat stimulan, yaitu sebagai dukungan awal bagi sekolah dan murid untuk melaksanakan persiapan kebekerjaan luar negeri, bukan pembiayaan menyeluruh seluruh kebutuhan penempatan. Setiap murid mendapatkan pembekalan berupa pelatihan fisik, pemeriksaan kesehatan, psikotes, pembelajaran intensif bahasa asing, penguatan kompetensi kejuruan sesuai kebutuhan negara tujuan, serta sertifikasi atau ujian kemampuan bahasa asing.

“Posisi saat ini, sebagian murid telah memasuki proses penempatan kerja dan magang di luar negeri, sedangkan sebagian lainnya masih menjalani pembelajaran dan peningkatan kompetensi sebagai persiapan memenuhi persyaratan negara tujuan,” jelas Tatang.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan Kemendikdasmen berkomitmen memperluas akses terhadap layanan pendidikan dan pelatihan yang fleksibel, terjangkau, dan mudah diakses. “Kemampuan dan profesionalisme yang kalian miliki adalah bekal untuk bekerja, tetapi kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan. Mentalitas dan integritas menjadi hal yang utama. Tekad yang kuat akan membantu kalian meraih keberhasilan di mana pun berada. Saya berpesan agar kalian selalu memberikan yang terbaik, menjaga nama baik bangsa, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara,” ujar Mu’ti.

Mu’ti  menekankan pentingnya memiliki sikap mental dan kesiapan untuk merantau di luar negeri.

Baca JugaPermintaan Kerja di Luar Negeri Tinggi, Lulusan Vokasi Disiapkan 
Baca Juga”In This Economy”, Belajar Jadi Kru Kapal Pesiar agar Bisa Melayari Dunia

Mu’ti mengakui tentu tidak mudah bagi anak-anak muda lulusan SMK untuk meninggalkan kampung halaman. “Saya dengar semuanya yang tampil juga baru berusia 18 tahun. Jangan-jangan berniat delapan bulan, nanti baru delapan hari sudah nangis. Karena di antara hal yang berat kalau kita ke luar negeri adalah homesick atau rindu kampung halaman,” ujar Mu’ti.

Mu’ti  menekankan pentingnya memiliki sikap mental dan kesiapan untuk merantau di luar negeri. Sebab, hal ini juga penting untuk menentukan keberhasilan.

“Kemendikdasmen sesuai dengan arahan Presiden berusaha untuk terus meningkatkan pelayanan pendidikan terutama yang memang memberikan kesiapan bagi para lulusannya untuk masuk dunia kerja atau berwirausaha,” ujarnya.

Atasi pengangguran dari SMK

Terkait dengan pendidikan SMK, Mu’ti memaparkan ada sejumlah model SMK yang dikembangkan saat ini. Ada SMK reguler tiga tahun dengan berbagai program keahlian agar lulusan dapat  bekerja di sektor-sektor profesional sesuai dengan bidang keahlian yang mereka miliki.

Lalu, SMK 3 + 1. Para murid belajar tiga tahun, kemudian yang berminat bekerja ke luar negeri dapat mengikuti pendidikan selama satu tahun untuk menyiapkan menyiapkan diri. “Ini merupakan sebuah terobosan yang memberikan jawaban langsung bahwa lulusan SMK bisa dan siap bekerja di mana pun di dunia ini,” kata Mu’ti.

Selanjutnya, model SMK 4 tahun yang dirancang sebagai SMK yang sejak awal punya kemitraan dengan dunia usaha dan industri. Ini disebut juga SMK Tailor Made atau link and match seperti di Jerman, tetapi diadopsi dengan sistem Indonesia. Beberapa SMK bermitra dengan perusahaan-perusahaan tertentu sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain tetap belajar di SMK juga bisa berlatih di perusahaan-perusahaan yang memang akan memberikan ruang bagi para lulusan SMK untuk dapat bekerja di sana.

“Ada juga SMK berbasis keunggulan lokal. SMK ini menyiapkan para muridnya untuk dapat mengembangkan berbagai keahlian sesuai dengan potensi daerah baik potensi alam maupun potensi sosial. Misalnya ada SMK  dengan keahlian kopi, nilam, hingga kelautan dan pertanian,” jelas Mu’ti.

Baca JugaPengangguran di Jakarta Didominasi Usia Muda, 15-29 Tahun
Baca JugaPerkuat Mutu Lulusan SMK untuk Bekerja ataupun Berwirausaha

Mu’ti menegaskan  penguatan daya saing pendidikan vokasi di SMK  dilakukan untuk menjawab kritik yang selama ini sering muncul, yakni SMK justru menjadi penyumbang pengangguran yang terbesar. “Kami ingin menjawab kritik itu tidak hanya dengan kata-kata, tapi menjawab kritik itu dengan kerja nyata.

Hasil penelurusan luluan SMK Tahun 2025 yang dilakukan Direktora SMK, Kemendikdasmen, yang bekerja sebanyak 48, 94 presen dan yang berwirausaha sebanyak 20,40 persen, sisanya melanjutkan studi (18,26 persen) dan memiliki kegiatan lain. Lulusan SMK yang mendapatkan upah setara atau lebih besar dari upah minimum kota/kabuptaen baru 32.59 persen, serta yang memiliki sertifikat keahlian berkisar 64.97 persen .


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Perluas Akses Pasar UMKM, Pertamina Hadirkan SMEXPO di Bekasi
• 16 jam lalu
0
thumb
Kota Ini Terancam Tumbang Gara-Gara Ulah Presiden, Warga Teriak
• 23 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Jatuh ke Level Terendah Setahun, Turun 3 Persen Sepekan
• 18 jam lalu
0
thumb
Ramai Data Center Rebutan Air dengan Petani dan Warga, Ini Faktanya
• 19 jam lalu
0
thumb
Superioritas Persija Jakarta Bersama STY Terancam Runtuh, Persib Bandung Siap Lakukan Kudeta
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.