Ekonomi Arab Saudi kembali mengalami kontraksi pada kuartal III 2026. Meski penurunannya mulai melambat, perekonomian negara tersebut masih menghadapi tekanan berat akibat perang AS-Iran dan meningkatnya konflik dengan kelompok Houthi di Yaman.
Mengutip Bloomberg, berdasarkan data awal Otoritas Umum Statistik Arab Saudi yang dirilis Minggu, produk domestik bruto (PDB) kerajaan itu menyusut 3,8 persen secara tahunan pada kuartal III 2026.
Kontraksi tersebut lebih kecil dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,7 persen. Namun, ini menjadi kali pertama ekonomi Arab Saudi mengalami penyusutan selama dua kuartal berturut-turut sejak 2023.
Pelemahan ekonomi terutama dipengaruhi oleh sektor minyak. Aktivitas di sektor tersebut merosot 20,4 persen pada kuartal III, meskipun lebih baik dibandingkan penurunan 24,8 persen pada kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, sektor nonminyak masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,9 persen. Sektor ini selama bertahun-tahun menjadi andalan pemerintah Arab Saudi dalam mengurangi ketergantungan terhadap minyak melalui program transformasi ekonomi.
Tekanan terhadap sektor energi Arab Saudi tidak terlepas dari perang AS-Iran yang telah berlangsung selama delapan bulan terakhir. Serangan balasan Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya terhadap sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia turut menyasar fasilitas energi Arab Saudi.
Serangan tersebut mengganggu aktivitas pemompaan dan ekspor minyak. Lalu lintas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga ikut terhambat.
Sebagai salah satu eksportir minyak mentah terbesar dunia, Arab Saudi berupaya mengurangi dampak gangguan tersebut dengan mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui jaringan pipa menuju pelabuhan di Laut Merah.
Namun, jalur pipa tersebut sempat dihentikan sementara pada September setelah serangkaian serangan. Data ekonomi kuartal III juga belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan ekspor minyak Arab Saudi yang kembali mencapai level tertinggi selama periode perang.
Selain perang dengan Iran, Arab Saudi juga menghadapi eskalasi konflik dengan kelompok Houthi yang didukung Teheran di Yaman.
Serangkaian serangan udara yang dilancarkan kelompok pemberontak Yaman pada Oktober mengganggu aktivitas penerbangan menuju dan dari Riyadh. Situasi tersebut turut memaksa penundaan sejumlah agenda penting dan membuat kawasan keuangan utama di ibu kota Arab Saudi ditutup.
Konflik semakin meningkat pada awal Oktober setelah pasukan pimpinan Arab Saudi melancarkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah Yaman yang dikuasai Houthi.
Di tengah situasi tersebut, kekhawatiran investor mulai meluas ke sektor-sektor di luar minyak. Padahal, industri energi Arab Saudi dinilai masih cukup tangguh, terutama dengan harga minyak Brent yang saat ini diperdagangkan di atas 115 dolar AS






Komentar (0)