JAYAPURA, KOMPAS - Setidaknya 217 hektar kebakaran hutan dan lahan atau dilaporkan masih belum padam di wilayah Papua Selatan. Hampir dua pekan terakhir, operasi modifikasi cuaca atau OMC dilakukan. Sementara itu, sepekan terakhir hujan mengguyur sebagian wilayah Papua Selatan.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per 31 Oktober 2026, api karhutla di Papua Selatan yang belum padam yakni seluas 217 hektar. Angka ini menurun lebih dari separuhnya dibandingkan sehari sebelumnya, yakni 549 hektar. Sementara itu, pada 29 Oktober 2026 karhutla yang belum padam seluas 502 hektar.
Adapun, pada 22-26 Oktober 2026, OMC dilakukan melalui kolaborasi BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta instansi/lembaga terkait. Upaya penyemaian awan potensi hujan ini kembali diperpanjang hingga 5 November 2026.
“Pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, edukasi masyarakat, serta optimalisasi personel dan peralatan pemadaman menjadi langkah prioritas untuk mencegah kebakaran kembali meluas,” kata Kepala BNPB Letnan Jenderal Kristomei Sianturi dalam keterangannya diterima, Minggu (1/11/2026).
Hingga Sabtu (31/10/2026), BMKG mencatat, Papua Selatan masih menjadi daerah dengan sebaran titik panas atau hotspot terbanyak di Indonesia dengan 903 titik. Dalam tiga hari terakhir, angka ini naik-turun, pada 29 Oktober sebanyak 865 titik 490 titik pada 30 Oktober.
Pada Sabtu, Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani turut meninjau penanganan karhutla di Merauke, Papua Selatan. Wilayah karhutla di wilayah ini sebagian besar berada di klaster Jago Merah-Tanah Miring yang mencakup empat wilayah, yakni Jago Merah, Tanah Miring, Animha, dan Semangga. Hampir separuhnya titik api yang belum padam berada di klaster tersebut.
Berdasarkan hasil pemantauan BNPB selama tiga hari, salah satu wilayah titik api yang menjadi perhatian yakni Okaba. Di wilayah itu terdapat konsesi salah satu perkebunan kelapa sawit swasta yang tercatat memiliki konsentrasi titik api paling tinggi dalam periode pemantauan tersebut.
Dari hasil pemantauan selama tiga hari terakhir, titik api paling banyak terlihat di wilayah konsesi perusahaan (kelapa sawit di Merauke) itu.
Kristomei mengungkapkan, hasil pemantauan udara dan sistem digital menunjukkan, wilayah konsesi perusahaan tersebut menjadi salah satu lokasi dengan kemunculan titik api paling dominan. Kondisi ini menjadi perhatian khusus untuk memastikan setiap titik api dapat segera diverifikasi dan ditangani oleh petugas di lapangan.
“Dari hasil pemantauan selama tiga hari terakhir, titik api paling banyak terlihat di wilayah konsesi perusahaan (kelapa sawit di Merauke) itu,” ujar Kristomei.
Dihubungi terpisah, Kepala Seksi Wilayah II Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Maluku-Papua Arif Hasan mengatakan, pihaknya terus menggencarkan edukasi dan pemantauan langsung penanganan karhutla kepada masyarakat. Apalagi saat ini, ada sejumlah program pertanian rakyat yang terus dikerjakan.
“Kami sempat memantau di wilayah perbatasan (Indonesia-Papua Niugini), ada pembukaan lahan untuk pertanian rakyat ini. Lahan yang dibabat sangat luas. Tidak semua pohon yang dibabat ini bisa dibersihkan, pasti sebagian besar akan dibakar. Ini yang perlu juga untuk diedukasi dan perlu koordinasi instansi daerah terkait” ucapnya.
Sementara itu, penanganan karhutla di Papua ini dimaksimalkan melalui OMC. Hingga Jumat (30/10), OMC telah melaksanakan 13 sorti penyemaian awan dengan total penggunaan bahan semai Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 13.000 kilogram.
Berdasarkan data BMKG dan laporan warga, hujan mulai mengguyur Papua Selatan sejak OMC periode pertama. Selain itu, akhir pekan ini, hujan kembali dilaporkan di wilayah Papua Selatan.
Berdasarkan pantauan Stasiun Meteorologi Kelas II Mopah Merauke, dalam sepekan terakhir hujan ringan dan sedang mengguyur berbagai wilayah di Papua Selatan. Tercatat, hujan terjadi di tiga distrik Kabupaten Boven Digoel selama tiga hari, tiga distrik di Mappi (dua hari), empat distrik di Merauke (sehari), serta satu distrik di Asmat (sehari).
Kepala BMKG Teuku Faisal mengatakan, pelaksanaan OMC untuk penanganan karhutla harus memperhatikan takaran curah hujan yang tepat. Hujan yang diupayakan melalui operasi tersebut diharapkan cukup untuk membantu pembasahan lahan dan mendukung pemadaman. Perlu diperhatikan agar tidak berlebihan hingga memicu risiko bencana hidrometeorologi lainnya, seperti banjir.
“Air tidak boleh terlalu banyak dan tidak boleh terlalu sedikit. Seperti yang terjadi di Sumatera beberapa waktu lalu, curah hujan pernah lebih dari 100 milimeter dan kondisi tersebut dapat menyebabkan banjir,” katanya.






Komentar (0)