MUI: November Momentum Penting Perkuat Pembelaan terhadap Palestina

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

November menjadi momentum penting bagi masyarakat Indonesia untuk kembali memperkuat solidaritas dan pembelaan terhadap Palestina. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menilai dukungan terhadap perjuangan Palestina harus diwujudkan melalui langkah konkret, bukan sekadar pernyataan berulang.

Sudarnoto mengatakan bahwa bulan November ini menjadi sangat penting untuk Palestina, yaitu peringatan hari solidaritas Palestina yang dimulai tanggal 1 November dan berakhir tanggal 29 November 2026 sebagai acara puncak.

Baca Juga
  • Pasar Modal Bergejolak, 23 Perusahaan Tunda IPO
  • Dosen UNM Kembangkan Chatbot AI untuk Tingkatkan Literasi Hukum Terhadap UMKM
  • Komnas HAM Minta Kadivpropam Usut Penggeledahan Ponpes di Sukoharjo dan Karanganyar

"Semua yang mengerti dan memiliki keterikatan dengan perjuangan pembelaan Palestina, maka November adalah salah satu momentum penting," kata Sudarnoto kepada Republika, Ahad (1/11/2026)

Sudarnoto mengatakan, seremoni dan berbagai event yang diselenggarakan adalah literasi dan bermakna secara simbolik untuk penguatan spirit bela Palestina.

.rec-desc {padding: 7px !important;}    

Ia menjelaskan bahwa spirit dan komitmen sebagai bangsa haruslah semakin kuat dan terukur untuk membela Palestina. Tidak cukup sekedar dikatakan Indonesia memegang teguh amanah pembukaan UUD 1945. Sama sekali tidak cukup dipidatokan berulang-ulang di banyak event. Tapi harus dibuktikan dengan tindakan nyata dan terukur.  

"Membela Palestina, menghapuskan penjajah bukanlah sekedar pernyataan diplomatik, tapi langkah nyata dan konkrit," ujarnya.

Sudarnoto mengatakan bahwa Indonesia berdasarkan landasan konstitusional, sudah benar menegaskan tidak ada hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel. Karena itu, untuk alasan apapun seharusnya pemerintah mengawal dengan sungguh-sungguh prinsip ini sampai kapanpun juga.

Menurutnya, seharusnya ada jaminan dan kepastian secara hukum bahwa tidak boleh ada pejabat, pebisnis, politisi, dan semua warga negara Indonesia yang mempermainkan prinsip ini untuk kepentingan apapun. Sikap tegas presiden untuk prinsip ini sudah disampaikan. Karena itu semua pihak harus mengamankan prinsip ini.

"Dalam pandangan saya, masih banyak kalangan di Indonesia yang masih tidak mematuhi prinsip ini demi keuntungan ekonomi atau motif-motif lain. Apa yang disebut dengan rainbow diplomacy atau rainbow collaboration Indonesia-Israel itu terjadi, bentuknya beraneka ragam dan aktornya juga beragam," ujarnya.

Sudarnoto mengatakan, peristiwa konser Andrea Bocelli adalah salah satu contoh bagaimana pemerintah kurang memberikan kepedulian terhadap masukan, saran dan permintaan MUI yang kemudian didukung secara luas oleh banyak elemen masyarakat. Sarannya jelas agak pemerintah meninjau ulang keputusan mengizinkan konser Bocelli.

"Menurut sumber Jews Journal, bukan kata dan opini saya, Bocelli adalah salah seorang penyanyi yang ikut tampil di acara penggalangan dana untuk tentara IDF, pelaku genosida yang sangat bengis. Pelaksananya adalah the Friends of IDF, kelompok zionis di Amerika. Jadi Bocelli adalah pendukung kelompok zionis, meskipun dia bukan zionis," ujarnya.

 

Sudarnoto mengatakan, sayang sekali pemerintah dan promotor bahkan pihak Bocelli sendiri mengabaikan fakta di atas dan bungkam tak pernah memberikan penjelasan soal keterlibatannya di konser tahun 2010. Yang selalu diungkap di media adalah Bocelli cinta damai, lirik lagu-lagunya untuk perdamaian, diplomasi budaya Borobudur, keuntungan ekonomi, bantuan 100 ribu pasang sepatu.

"Sayang tidak pernah ada penjelasan tentang konsernya untuk IDF. Kenapa? Seharusnya pemerintah mudah untuk menelusuri Bocelli dan penampilannya di tahun 2010," ujarnya.

Ia menegaskan, MUI dan organisasi pembela Palestina istiqomah tolak konser Bocelli karena konsernya di tahun 2010, bukan karena yang lain-lain. Kehadiran di Indonesia adalah cacat moral, meskipun tetap diizinkan pemerintah.

"Hemat saya diplomasi budaya konser Bocelli justru telah melukai prinsip dasar diplomasi kita yaitu kemanusiaan, keadilan dan keadaban," ujarnya.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Karhutla di IKN, 1.600 Hektare Lahan Diduga Sengaja Dibakar
• 14 jam lalu
0
thumb
Harga Pangan Akhir Pekan: Cabai Anjlok, Gula Naik
• 5 jam lalu
0
thumb
Hasil, Klasemen, dan Top Skor Liga Spanyol: Barca Kembali ke Puncak Setelah Dikudeta Atletico, Raphinha Jauhi Mbappe
• 7 jam lalu
0
thumb
BYD Ungkap Sedan Listrik Mewah Yangwang Altior, Debut Global di Dubai
• 20 menit lalu
0
thumb
Pejabat Tinggi Militer AS Terseret Skandal Kebocoran Informasi, Teheran Diam-Diam Membangun Jaringan Persenjataan
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.