IPB University berkolaborasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam mendorong hilirisasi pisang kepok melalui rencana pengembangan Rumah Produksi Tepung Pisang Kepok di Desa Bulasat. Program ini diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Dokumen Pengembangan Rumah Produksi Tepung Pisang Kepok Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2026 melalui kerja sama CARE–LRI IPB University dengan Bapperida Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Baca juga: Membangun Mindset Entrepreneur Ala Alumnus IPB University
Ketua Tim Pelaksana Pudji Muljono berharap momentum ini dapat dimanfaatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, hingga pelaku usaha. Tujuannya memperkuat sinergi dalam mengembangkan hilirisasi pisang kepok di Mentawai.
Baca Juga:Prabowo Tunjuk Suyudi Jadi Kapolri, Listyo Sigit: Terus Layani Masyarakat!Menurut dia, kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting agar potensi pisang lokal tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar.Kepala Bapperida Kabupaten Kepulauan Mentawai Desti Seminora menuturkan keberhasilan rumah produksi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Ketersediaan bahan baku, pendampingan berkelanjutan, penguasaan teknologi, serta kesiapan masyarakat dalam mengelola usaha harus menjadi perhatian utama.
Berdasarkan survei lapangan, Desa Bulasat memiliki potensi pendukung berupa ketersediaan pisang kepok, akses transportasi, sumber daya listrik, serta lahan sekitar 5.000 meter persegi. Dari luas tersebut, sekitar 2.800 meter persegi telah dihibahkan kepada pemerintah desa untuk pembangunan rumah produksi.
Fasilitas yang direncanakan mencakup proses produksi dari penerimaan dan pencucian bahan baku, pengupasan, pengirisan, pengeringan, penepungan, hingga pengemasan dan penyimpanan. Perencanaan juga meliputi fasilitas pengolahan limbah untuk menunjang proses produksi yang higienis dan ramah lingkungan.
Baca Juga:Jenderal Listyo Sigit Bakal Dilantik Jadi KSP, Gantikan Dudung AbdurachmanDalam skenario awal, rumah produksi ditargetkan mengolah sekitar 200 kilogram pisang per minggu dan menghasilkan sekitar 24,3 kilogram tepung pisang kepok. Produk direncanakan dikemas dalam ukuran 250 gram untuk dipasarkan kepada konsumen.
Estimasi investasi yang dipaparkan dalam FGD meliputi biaya konstruksi sekitar Rp2,027 miliar dan peralatan produksi serta pendukung sekitar Rp235,2 juta. Pembangunan direkomendasikan berlangsung secara bertahap pada 2027 disertai pemasangan peralatan, pelatihan, dan pendampingan masyarakat.
Selain kesiapan produksi, tim juga menyoroti pentingnya pengujian laboratorium terhadap pisang lokal untuk mengetahui karakteristik dan kesesuaiannya sebagai bahan baku tepung. Dari sisi pemasaran, penjajakan kerja sama dengan pelaku usaha pangan, jaringan UMKM, dan calon mitra pasar di Malaysia turut menjadi bagian dari rencana pengembangan.
Penguatan legalitas usaha, izin edar sesuai ketentuan, sertifikasi halal, standar mutu, serta pemasaran digital juga diperlukan untuk mendukung daya saing produk.
#daerah





Komentar (0)