BERLIN, KOMPAS.TV - Aksi protes berlangsung di Jerman, Portugal, dan Belanda pada Sabtu (31/10/2026). Massa menyuarakan tuntutan terkait pendidikan, krisis perumahan, perlindungan iklim, serta penolakan terhadap pemberlakuan kembali wajib militer.
Di Jerman, sebuah inisiatif pemuda bernama Gen Z Regelt yang secara bebas berarti “Gen Z bisa mengatasinya”, menggelar aksi di lebih dari 30 kota.
Mereka berunjuk rasa untuk menuntut peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, perlindungan iklim, dan keterjangkauan biaya hidup, sekaligus menentang pemberlakuan kembali wajib militer.
Penyelenggara menyebut puluhan ribu orang mengikuti aksi di berbagai wilayah Jerman. Namun, angka resmi mengenai jumlah peserta belum tersedia.
Di Berlin, para demonstran muda berkumpul di sekitar Gerbang Brandenburg pada Sabtu siang untuk menuntut peningkatan investasi di bidang pendidikan dan perumahan.
“Kami menyerukan agar lebih banyak dana dialokasikan untuk layanan sosial, pendidikan, dan perlindungan iklim. Singkatnya, untuk masa depan kami, karena kamilah yang akan paling lama merasakan dampaknya dan harus hidup dengan konsekuensinya,” kata seorang siswa sekolah menengah atas, Lara Breitenbach.
Baca Juga: Ribuan Demonstran Turun ke Jalan di Eropa, Milan Dijaga Ketat Tentara
Siswa lainnya dari Berlin, Janelle Schulz, juga menilai pemerintah perlu meningkatkan anggaran pendidikan.
“Di sekolah saya, langit-langit bangunan nyaris ambruk akibat kerusakan karena air, tetapi tidak ada tindakan yang diambil. Kami kekurangan guru dan toilet sekolah rusak,” ujarnya seperti dikutip dari The Associated Press.
Sebagian besar aksi berlangsung damai. Namun, sejumlah demonstrasi berujung ricuh pada Sabtu malam.
Demo Terjadi di Kota-Kota Besar EropaDi pusat Kota Frankfurt, sejumlah perusuh memecahkan kaca beberapa toko dan menjarah barang-barang di dalamnya. Mereka juga mencuri senjata dari sebuah toko senjata, yang kemudian berhasil ditemukan kembali oleh polisi.
Polisi Frankfurt mengatakan melalui platform X bahwa sejumlah perusuh melemparkan bom molotov ke arah petugas setelah sebelumnya menyerang mereka menggunakan batu dan botol.
Di Cologne, polisi menghentikan lebih awal sebuah pawai demonstrasi setelah peserta menyalakan kembang api, melemparkan batu ke arah petugas, dan menutupi wajah mereka meskipun terdapat larangan. Polisi juga menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran.
Di Hamburg, Jerman utara, sejumlah demonstran menembakkan kembang api ke arah polisi dan membakar barikade. Petugas menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa.
Sementara itu, aksi protes juga berlangsung di negara-negara Eropa lainnya untuk menyuarakan tuntutan terkait krisis perumahan dan masa depan yang lebih baik.
Baca Juga: Putin Bantah Rusia Provokasi Gelombang Demonstrasi di Eropa
Ribuan demonstran, termasuk keluarga yang membawa anak-anak kecil, berkumpul di pusat Kota Lisbon, Portugal, untuk memprotes krisis perumahan secara damai.
Mereka membawa berbagai poster bertuliskan “Rumah atau Kebakaran” dan “Kami Tidak Takut”. Sejumlah peserta juga mengangkat miniatur rumah yang terbuat dari karton, sementara beberapa lainnya mengenakan kostum Halloween.
Di Den Haag, Belanda, polisi memperketat pengamanan di kawasan pusat perbelanjaan pada Sabtu siang menyusul seruan aksi protes yang beredar secara daring serta kekhawatiran akan terjadinya kerusuhan dan penjarahan.
Namun, hingga pertengahan sore, tidak terjadi gangguan keamanan besar. Sejumlah toko di kota tersebut telah memasang papan penutup sebagai langkah antisipasi.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Tussie Ayu Editor : Desy-Afrianti
Sumber : The Associated Press
- anak
- muda
- demo
- eropa
- militer






Komentar (0)