Perusahaan Israel Diduga Pakai Iklan Digital buat Mata-matai Pengguna Starlink

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Perusahaan teknologi periklanan asal Israel, Discover-Tech, diduga menargetkan pengguna layanan internet satelit Starlink secara masif untuk melacak lokasi atau memata-matai aktivitas mereka. Temuan ini diungkapkan oleh para peneliti perusahaan keamanan siber TrendAI berdasarkan data periklanan digital.

Tim peneliti TrendAI, unit dari perusahaan keamanan siber asal Tokyo, Trend Micro, menyimpulkan bahwa Discover-Tech merupakan salah satu sumber terbesar iklan digital yang ditampilkan kepada pengguna layanan Starlink milik SpaceX. Iklan-iklan tersebut diduga dimanfaatkan untuk mengetahui lokasi geografis pengguna atau melakukan bentuk pengawasan lainnya.

Berdasarkan data telemetri periklanan digital yang dianalisis, Discover-Tech menjadi salah satu ad bidding terbesar di dunia yang menyasar pengguna Starlink. Perusahaan itu bahkan menempati posisi pertama sebagai ad bidding yang menargetkan lalu lintas Starlink di lebih dari 100 negara, termasuk sejumlah negara yang melarang atau membatasi layanan tersebut.

Ad bidding atau penawaran iklan merupakan sistem lelang kompleks yang memungkinkan pengiklan mendapatkan ruang untuk menampilkan iklan di browser dan aplikasi pengguna.

Pada 15 Oktober, TrendAI merilis laporan mengenai penargetan pengguna Starlink. Namun, laporan tersebut tidak menyebutkan nama Discover-Tech. TrendAI hanya menyebut pihak yang bertanggung jawab sebagai entitas teknologi periklanan dengan nama kode “Shadow-Earth-79”. Enam sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Shadow-Earth-79 merupakan nama kode yang digunakan TrendAI untuk merujuk pada Discover-Tech.

TrendAI tidak secara langsung menjawab pertanyaan mengenai alasan mereka tidak mengungkapkan nama Shadow-Earth-79 dalam laporan tersebut. Dalam pernyataannya, perusahaan menjelaskan bahwa pendekatan atribusi yang digunakan bertujuan mengurangi risiko kesalahan serta menghindari pelabelan yang sensasional atau penggunaan nama pelaku yang belum stabil.

Menurut TrendAI, pelabelan yang tidak akurat dapat menyesatkan pihak yang bertanggung jawab atas pertahanan siber, mengacaukan penentuan prioritas risiko, serta memicu tindakan penanganan yang tidak tepat.

Pengguna Starlink Jadi Target Pelacakan

Upaya melacak pengguna Starlink kini berkembang menjadi bidang tersendiri, seiring pemerintah di berbagai negara berusaha mengendalikan penyebaran internet satelit.

Starlink menyalurkan data melalui satelit yang dioperasikan SpaceX, bukan melalui perusahaan telekomunikasi yang diatur oleh pemerintah nasional. Kondisi ini memungkinkan perangkat tersebut melewati pembatasan internet lokal, berkomunikasi di wilayah yang berkonflik, atau mengoordinasikan tindakan di medan perang.

Starlink menjadi sumber daya yang sangat penting di Ukraina. Militer di negara tersebut mengandalkan layanan ini untuk komunikasi di garis depan dan mengarahkan serangan drone.

Pada Mei 2026 lalu, surat kabar Israel Haaretz dan situs Intelligence Online secara terpisah melaporkan bahwa sejumlah perusahaan milik Israel menawarkan layanan kepada klien untuk mengidentifikasi dan melacak pengguna Starlink. Haaretz menyebut pemanfaatan data iklan tampaknya memainkan peran penting dalam proses tersebut.

Di hari yang sama ketika TrendAI menerbitkan laporan mengenai Shadow-Earth-79, lembaga pengawas keamanan siber Kanada Citizen Lab dan perusahaan teknologi periklanan asal New York, Confiant, mengungkap nama Discover-Tech secara terbuka.

Kedua organisasi tersebut menyatakan bahwa perusahaan Israel itu menyalahgunakan proses penawaran iklan yang dapat membocorkan data pengguna internet kepada pihak yang mengajukan penawaran.

Seiring waktu, pengiklan yang mengikuti proses itu dapat mengumpulkan data yang bocor, menggabungkannya dengan informasi lain, lalu mengidentifikasi pengguna yang sebelumnya anonim. Data tersebut juga dapat digunakan untuk mengikuti aktivitas pengguna di berbagai situs web dan, dalam kasus tertentu, menjadikan mereka sasaran perangkat lunak pengawasan.

Citizen Lab dan Confiant menyebut iklan Discover-Tech telah muncul di puluhan jaringan sensitif milik organisasi media, lembaga pemerintah, dan perusahaan teknologi. Menanggapi hasil investigasi tersebut, Google, Comcast, dan sejumlah perusahaan lain menyatakan telah menghapus Discover-Tech dari platform periklanan mereka.

Menurut salah satu dari enam sumber yang mengetahui persoalan ini serta seorang sumber ketujuh, setidaknya satu perusahaan teknologi besar Amerika Serikat dan satu organisasi internasional baru-baru ini memulai penyelidikan internal. Penyelidikan itu bertujuan mengetahui apakah iklan Discover-Tech menargetkan karyawan mereka.

Diduga Jadi Pengiklan Terbesar di Yaman dan Sudan Selatan

Dalam laporannya, TrendAI menyoroti pola penawaran iklan yang mencurigakan. Pola tersebut mengindikasikan bahwa Shadow-Earth-79 menjalankan infrastruktur untuk penargetan dan pelacakan, bukan operasi periklanan komersial.

Selain menemukan kecenderungan yang jelas untuk membeli iklan yang menyasar pengguna Starlink, laporan itu menyebut Shadow-Earth-79 sebagai pembeli iklan terbesar di Suriah, Libya, Yaman, dan Sudan Selatan. Entitas tersebut juga menjadi pembeli iklan terbesar kedua di Afghanistan.

TrendAI menilai aktivitas itu mencurigakan karena permintaan terhadap iklan Barat yang sah di negara-negara yang terkena sanksi atau sedang mengalami konflik aktif pada dasarnya hampir tidak ada.

Laporan tersebut juga menyebut Shadow-Earth-79 memenangkan porsi penawaran yang sangat dominan dan sulit dipercaya di sejumlah negara, termasuk Hungaria, Israel, Mesir, Azerbaijan, dan Venezuela.

Menurut enam sumber yang mengetahui persoalan itu, para peneliti TrendAI meyakini Discover-Tech berada di balik aktivitas add bidding yang mencurigakan. Mereka bahkan sempat membahas kemungkinan mencantumkan nama perusahaan itu secara langsung dalam laporan.

Namun, lima sumber mengatakan rencana ini akhirnya dibatalkan setelah para eksekutif TrendAI menyampaikan kekhawatiran hukum. Para pakar industri menyebut penyensoran diri seperti ini bukan hal asing di industri keamanan siber, terutama ketika para eksekutif khawatir pengungkapan operasi pengawasan dapat memicu tindakan balasan.

Awal tahun ini, perusahaan keamanan siber Amerika Serikat, Palo Alto, menghapus penyebutan China secara eksplisit dari laporan mengenai kampanye spionase siber global. Padahal, para penelitinya meyakini bahwa serangan peretasan tersebut dapat dikaitkan dengan Beijing, sebagaimana dilaporkan Reuters saat itu.

Dilansir Reuters, isi laporan tersebut diperhalus karena kekhawatiran bahwa tuduhan terbuka terhadap China dapat menimbulkan masalah bagi operasional Palo Alto di negara itu. Operasi perusahaan tersebut sebelumnya telah menjadi sorotan setelah Beijing mengeluarkan arahan yang meminta perusahaan domestik untuk tidak menggunakan produknya.

Palo Alto membantah bahwa tidak dicantumkannya atribusi dalam laporan tersebut berkaitan dengan peraturan pengadaan di China. Perusahaan itu menyebut anggapan sebaliknya sebagai spekulasi yang tidak benar.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bapanas Catat Inflasi Beras September 2026 Terendah dalam Empat Tahun
• 1 jam lalu
0
thumb
Tak Mau Kalah dari Mobil Listrik China, Lexus Siapkan Strategi Baru setelah Hampir 30 Tahun
• 21 jam lalu
0
thumb
OJK Rilis Daftar Sanksi Pasar Modal: Ada FILM, KIOS, SHID
• 18 jam lalu
0
thumb
Lirik dan Makna Lagu “Breathe Easy” - Blue, Luapan Emosi Patah Hati
• 10 jam lalu
0
thumb
Iphone Duo Harga Rp75 Juta Tapi Layarnya Retak, Ini Penjelasan Pakar
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.