Perjalanan Ibu Mendampingi Putrinya Berjuang dengan Cerebral Palsy

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bagi Amanda Andono, menjadi ibu dari tiga anak menghadirkan perjalanan kehidupan yang penuh cerita. Namun, salah satu pengalaman paling membekas dalam hidupnya adalah ketika mengetahui bahwa anak ketiganya, Btari Chandri Kinnara, atau yang akrab disapa Can Can, didiagnosis cerebral palsy.

Saat Chandri lahir, Amanda dan keluarga tidak pernah menyangka bahwa putri kecilnya memiliki kondisi tersebut. Proses persalinan berlangsung normal, sehingga tidak ada tanda khusus yang mengarah pada diagnosis cerebral palsy.

Namun, seiring bertambahnya usia Chandri, Amanda mulai menyadari adanya perbedaan dalam perkembangan putrinya. Beberapa tahapan perkembangan atau milestone, seperti tengkurap dan duduk, belum tercapai sesuai dengan usianya.

Ketika Saran Menjadi kenyataan Pahit

Kecurigaan itu semakin kuat ketika seorang sepupu dari pihak keluarga yang berprofesi sebagai dokter jantung melihat kondisi Chandri saat digendong Amanda menggunakan gendongan bayi di bagian depan tubuhnya. Saat itu, tubuh Chandri terlihat tidak mampu tegak dan justru cenderung melunglai.

Kerabat tersebut kemudian menyarankan Amanda untuk membawa Chandri ke dokter tumbuh kembang.

"Kalau ada kesempatan, coba diperiksa ke dokter tumbuh kembang supaya bisa tahu kenapa," kenang Amanda pada kumparanMOM, Rabu (28/10).

Ucapan tersebut membuat Amanda mulai merasa khawatir. Ia bertanya-tanya mengapa seorang dokter sampai menyarankan pemeriksaan lebih lanjut. Setelah memikirkannya, Amanda akhirnya memutuskan untuk membawa Chandri menjalani pemeriksaan.

Saat itu, usia Chandri baru delapan bulan. Setelah melalui pemeriksaan, dokter tumbuh kembang menyampaikan diagnosis yang tidak pernah dibayangkan Amanda sebelumnya.

"Iya, Ibu, anaknya ini cerebral palsy."

Mendengar diagnosis tersebut, Amanda merasakan keterkejutan yang luar biasa. Ia menggambarkan perasaannya saat itu seperti seluruh langit-langit runtuh menimpanya.

"Wah, itu rasanya sudah seperti, apa ya, seperti plafon ini jatuh," kenangnya.

Sejak saat itu, Amanda dan keluarga mulai menjalani perjalanan panjang untuk mendampingi tumbuh kembang Chandri. Berbagai terapi dilakukan untuk membantu perkembangan kemampuan motoriknya. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu dan kesabaran.

“Setelah menjalani terapi, Chandri baru mampu membalikkan badannya ketika usianya sudah lebih dari satu tahun,” ucap Amanda dengan senyuman.

Hal terberat Bagi Amanda

Tantangan lain kembali datang pada 2018 atau 2019. Ketika itu, Amanda sedang menangani peluncuran sebuah produk makanan di kawasan Senayan. Di tengah kesibukannya, sebuah telepon dari rumah tiba-tiba mengubah suasana hatinya.

Orang rumah mengabarkan bahwa Chandri mengalami kejang yang tidak kunjung berhenti. Kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf Chandri.

Untuk menggambarkan apa yang terjadi pada otak putrinya, Amanda mengingat penjelasan dokter yang mengibaratkan otak Chandri seperti kumpulan kabel yang mengalami korsleting. Setiap gangguan harus ditangani satu per satu.

“Kondisi Chandri saat itu cukup mengkhawatirkan. Ia kerap terbangun pada malam hari, sekitar pukul 11, 12, bahkan pukul 1 dini hari. Dalam kondisi tersebut, Chandri bisa berteriak dan tertawa tanpa mengenali orang-orang di sekitarnya,” jelasnya.

Situasi semakin mengkhawatirkan hingga Chandri harus menjalani perawatan intensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) selama lebih dari seminggu. Selama masa perawatan, matanya juga kerap terlihat bergerak ke atas.

Setelah melalui berbagai pemeriksaan dan penanganan medis, akhirnya Chandri diperbolehkan pulang. Perawatan kemudian dilanjutkan secara rawat jalan.

Perlahan, kondisi Chandri mulai menunjukkan perkembangan positif. Amanda pun bersyukur karena dalam beberapa bulan, bahkan sebelum satu tahun berlalu, kondisi putrinya berangsur membaik.

"Alhamdulillah, dia pelan-pelan selama beberapa bulan, nggak sampai setahun, dia bisa normal lagi," ungkap Amanda.

Perjalanan Amanda bersama Chandri menjadi bagian dari kisah panjang seorang ibu dalam menghadapi berbagai tantangan tumbuh kembang anaknya. Dimulai dari kecurigaan terhadap milestone perkembangan, menerima diagnosis cerebral palsy, hingga menghadapi kondisi kejang yang mengharuskan Chandri menjalani perawatan intensif.

Sebuah perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi menjadi bukti bagaimana seorang ibu terus berusaha mendampingi anaknya melewati setiap fase kehidupan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Saat Mengonsumsi Bubur Oat, Hindari 6 Kesalahan Umum Ini
• 5 jam lalu
0
thumb
Carrick Tolak Mundur! Manchester United Dihajar Chelsea, Ini Sikap Sang Manajer
• 9 jam lalu
0
thumb
Ini Link Live Streaming Laga BRI Super League: PSIM Yogyakarta Vs Borneo FC
• 2 jam lalu
0
thumb
Pajak Ekonomi Digital Tembus Rp58,75 Triliun hingga September
• 23 jam lalu
0
thumb
GKI Klasis Madiun Kunjungi Ponpes Wali Barokah Kediri, Perkuat Kerukunan Lintas Iman
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.