Indonesia dan Negara Produsen Sawit Perkuat Kerja Sama dengan China, Dorong Teknologi AI untuk Tingkatkan Produksi

pantau.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Indonesia bersama negara-negara produsen minyak kelapa sawit mendorong penguatan kerja sama perdagangan dan rantai pasok dengan China melalui pemanfaatan teknologi digital serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan efisiensi produksi dan keberlanjutan industri sawit global.

Upaya tersebut dibahas dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference/SVOC) keempat yang diselenggarakan di Shanghai, China, dengan melibatkan sekitar 220 peserta dari 11 negara.

Konferensi yang digelar Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) itu mengusung tema Sinergi Keberlanjutan dan Rantai Nilai yang Tangguh.

Pertemuan tersebut menjadi forum strategis bagi negara produsen dan konsumen minyak nabati untuk memperkuat hubungan perdagangan, meningkatkan produktivitas, serta menghadapi perubahan kebijakan pasar internasional.

Sekretaris Jenderal CPOPC Izzana Salleh menekankan pentingnya kerja sama konkret antara negara penghasil dan pembeli minyak sawit untuk menjaga stabilitas perdagangan global.

"Perubahan harga relatif dapat memengaruhi keputusan pembelian minyak, sementara ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan investor. Oleh karena itu, ketahanan memerlukan informasi pasar yang andal, hubungan perdagangan yang beragam, logistik yang efisien, serta kerangka kebijakan yang dapat diprediksi. Hal ini juga memerlukan kerja sama yang lebih erat antara produsen dan pembeli, sehingga komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan insentif komersial dapat lebih selaras," ujarnya.

Menurut Izzana, meningkatnya kebutuhan minyak nabati dunia harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.

Ia juga menilai penguatan rantai pasok menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan industri minyak sawit di tengah perubahan permintaan dan regulasi perdagangan internasional.

Negara Anggota CPOPC Kuasai 89 Persen Pasokan Minyak Sawit Dunia

CPOPC mencatat negara-negara anggotanya menyumbang sekitar 89 persen dari total pasokan minyak sawit global.

Besarnya kontribusi tersebut menempatkan negara produsen sawit sebagai pihak penting dalam menjaga stabilitas ketersediaan minyak nabati di pasar internasional.

Industri kelapa sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan petani kecil dan pelaku usaha di negara-negara penghasil.

Karena itu, penguatan produktivitas dan keberlanjutan industri menjadi perhatian utama untuk menjaga daya saing sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sektor tersebut.

China memiliki posisi strategis dalam perdagangan minyak sawit karena komoditas tersebut merupakan jenis minyak nabati yang paling banyak diimpor negara itu.

Sebagian besar pasokan minyak sawit China berasal dari negara-negara anggota CPOPC, termasuk Indonesia.

Hubungan perdagangan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan kerja sama antara negara produsen dan China dalam menjaga kelancaran distribusi serta keberlanjutan rantai pasok.

Indonesia Dorong Investasi Berkelanjutan dan Perdagangan Sawit dengan China

Duta Besar Republik Indonesia untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun menyampaikan bahwa penyelenggaraan konferensi di Shanghai mencerminkan hubungan bilateral yang erat antara Indonesia dan China.

Menurutnya, kerja sama kedua negara tidak hanya berfokus pada perdagangan komoditas, tetapi juga mencakup pengembangan investasi dan penguatan ketahanan ekonomi.

Kemitraan strategis tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pembangunan rantai pasokan global yang lebih inklusif dan tangguh.

Indonesia sebagai salah satu negara produsen utama minyak sawit memiliki kepentingan dalam memperkuat akses pasar serta memastikan perdagangan komoditas berlangsung secara berkelanjutan.

Sementara itu, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Shanghai Berlianto Situngkir menyoroti posisi China sebagai mitra dagang terbesar bagi negara-negara anggota CPOPC.

Berlianto juga menekankan peran Shanghai sebagai pusat kegiatan ekonomi yang mendukung pengembangan inovasi, produktivitas, dan peningkatan nilai tambah berbagai sektor industri.

Kerja sama dengan China menjadi salah satu fokus pembahasan untuk memperkuat hubungan antara negara penghasil minyak sawit dan pasar konsumen utama.

Teknologi Digital dan AI Didorong Tingkatkan Efisiensi Industri Sawit

Selain memperkuat perdagangan, konferensi tersebut membahas pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk mendukung peningkatan produktivitas industri minyak nabati.

Integrasi teknologi menjadi salah satu topik utama dalam upaya meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga keberlanjutan penggunaan sumber daya.

Para peserta juga membahas dampak transisi menuju kebijakan hijau terhadap industri minyak sawit global.

Perubahan kebijakan lingkungan dan perdagangan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi akses pasar, biaya produksi, serta keputusan investasi di sektor perkebunan.

Pembahasan lainnya mencakup peningkatan kapasitas petani kecil agar mampu menerapkan praktik produksi berkelanjutan dan menghadapi perkembangan kebutuhan pasar.

Penguatan kemampuan petani dinilai penting mengingat besarnya jumlah masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada industri kelapa sawit.

Konferensi turut menyoroti pengembangan bahan bakar hayati (biofuel) sebagai salah satu upaya mendukung pertumbuhan ekonomi rendah karbon.

Pengembangan bahan bakar berbasis nabati menjadi bagian dari pembahasan mengenai pemanfaatan komoditas sawit dalam mendukung transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.

Melalui forum internasional tersebut, negara-negara produsen sawit berupaya memperkuat keselarasan antara kepentingan perdagangan, peningkatan produktivitas, dan penerapan standar keberlanjutan.

Kerja sama dengan China serta pengembangan teknologi diharapkan dapat memperkuat ketahanan rantai pasok minyak sawit global sekaligus mendukung pertumbuhan industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
PSIM Jogja Resmi Datangkan Rizto Vidakovic, jadi Pelatih Kepala Gantikan Paul van Gastel
• 14 jam lalu
0
thumb
Prakiraan Cuaca Jabodetabek di Akhir Pekan: Hujan Guyur Sejumlah Wilayah 
• 6 jam lalu
0
thumb
Presiden Polandia menyatakan tatanan konstitusi telah dilanggar
• 16 jam lalu
0
thumb
Emas Dunia Berpeluang Naik hingga USD5.000, Logam Mulia Domestik Diprediksi Rp2,8 Juta per Gram
• 23 jam lalu
0
thumb
Respon Jennifer Coppen Usai Usaha Miliknya Dikritik Warganet Malaysia
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.