Jakarta, VIVA - Hasil pemungutan suara Pemilu 27 Oktober di Israel yang tak terduga, menguakkan fakta mengejutkan banyak kalangan di Israel, yakni tingkat partisipasi pemilih minoritas Arab yang mencapai rekor 80 persen dari total pemilih warga Arab Israel. Belum pernah terjadi dalam sejarah Israel tingkat partisipasi pemilih setinggi itu. Bahkan angka itu melampai tingkat partisipasi nasional Israel sebesar 77,9 persen, yang ini pun sudah menjadi rekor tertinggi partisipasi pemilih sepanjang sejarah Israel.
Akibatnya, partai-partai Arab mendapatkan limpahan suara yang sangat besar, mencapai 14,72 persen suara, atau 19 kursi parlemen (Knesset). Rinciannya adalah 11 kursi untuk Joint List yang merupakan aliansi sejumlah partai Arab dan 8 kursi untuk Partai Ra'am.
Dengan lansekap baru ini, terutama karena kenaikan sembilan belas kursi untuk partai partai Arab, menghalangi blok sayap kanan pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam memerintah kembali negara berpenduduk 10,2 juta jiwa itu.
Selama ini Jumlah warga minoritas Arab sebenarnya cukup bear. Komunitas Arab mencapai 2,16 juta orang atau 21 persen dari total penduduk Israel. Mereka hampir sepertiga dari jumlah penduduk Yahudi yang mencapai 7,97 juta jiwa. Warga Arab Israel umumnya beragama Islam, Kristen, dan Druze.
Upaya agresif sejumlah pihak dalam beberapa bulan terakhir, yakni para calon wakil rakyat dari komunitas Arab, para aktivis, dan penyelenggara kampanye untuk menggelorakan konstituen ternyata cukup sukses. Netanyahu nyaris tak mempercayai kenyataan ini, sampai-sampai menuding partai-partai Arab telah merampok dan berbuat curang.
Di antara anggota kabinet Netanyahu yang mendorong minoritas Arab berubah sikap dari apatis menjadi antusias memilih, adalah dua menteri berhaluan kanan ekstrim, yakni Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dari Partai Otzma Yahudit, dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dari Partai Zionis Religius (RZP).
Selama bertahun-tahun warga minoritas Arab diseru untuk datang ke bilik-bilik suara guna mencegah dominasi sayap kanan dalam politik Israel. Tapi mereka tetap saja apatis.
Sampai keadaan itu berubah setelah Netanyahu merangkul partai-partai kanan ekstrem pasca Pemilu 2022, degan membentuk pemerintahan yang melibatkan Ben Gvir dan Smotrich. Dua orang yang dianggap ekstremis oleh kaum liberal di Barat itu pulang mengusik suasana hati minoritas Arab di Israel.






Komentar (0)