Ibas Dukung Pengembangan Agrowisata dan Kemandirian Melon di Magetan

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY/Ibas) mendorong pengembangan sektor pertanian produktif dan agrowisata berbasis masyarakat sebagai salah satu penggerak ekonomi kerakyatan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Hal tersebut disampaikan Edhie Baskoro saat menghadiri kegiatan panen melon dan temu masyarakat bersama kelompok tani di Desa Sumberdodol, Kabupaten Magetan, Jumat (30/10). Dalam kesempatan tersebut, Ibas meninjau langsung budi daya melon berbasis greenhouse yang dikelola kelompok tani di bawah koordinasi Suparmin.

Edhie Baskoro juga mengapresiasi kreativitas dan inovasi para petani yang berhasil mengembangkan tiga varietas melon, yakni Sakata Glamour, Sweet Lavender, dan Kirani. Ketiganya memiliki karakteristik berbeda, mulai dari warna, tekstur, ukuran, hingga tingkat kemanisan buah.

Menurut Ibas, keberhasilan petani Magetan membudidayakan melon berkualitas menunjukkan bahwa potensi pertanian dalam negeri sangat besar dan perlu terus dikembangkan. Dengan pengelolaan yang tepat, pemanfaatan teknologi, serta dukungan sarana produksi, petani Indonesia mampu menghasilkan produk hortikultura yang berkualitas dan berdaya saing.

"Alhamdulillah, ternyata kita tidak perlu jauh-jauh ke Jepang atau Korea Selatan untuk mendapatkan melon berkualitas. Di Kabupaten Magetan, kita sudah bisa menghasilkan melon yang bagus, manis, dan memiliki kualitas yang tidak kalah bersaing. Ini membuktikan bahwa potensi petani Indonesia luar biasa," ujar Ibas, Sabtu (31/10/2026).

Dalam kunjungannya, Edhie Baskoro juga melihat secara langsung penerapan teknologi greenhouse, sistem irigasi otomatis, serta penggunaan media tanam berbahan cocopeat dan sekam bakar. Sistem tersebut memungkinkan pengaturan kebutuhan air dan nutrisi tanaman secara lebih terukur sehingga proses budi daya dapat berlangsung lebih efektif.

Adapun masa budi daya melon hingga panen berkisar 70 hari. Pengembangan varietas juga terus dilakukan untuk menyesuaikan karakteristik tanaman dengan kondisi lingkungan dan permintaan pasar.

Tidak sekadar melihat proses budi daya, Ibas turut berkeliling dari satu area greenhouse ke area lainnya untuk mengamati kondisi tanaman dan buah yang siap dipanen. Ia berdialog dengan Suparmin mengenai karakteristik masing-masing varietas, proses perawatan, penggunaan media tanam, hingga berbagai tantangan yang dihadapi petani dalam menjaga kualitas produksi.

Suasana kunjungan berlangsung interaktif ketika EBY ikut memanen buah melon dari tanaman yang telah siap dipetik. Ia kemudian mencicipi ketiga varietas yang dikembangkan, yakni Sakata Glamour, Sweet Lavender, dan Kirani, sembari membandingkan rasa, tekstur, serta tingkat kemanisannya. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memilih dan menimbang hasil panen untuk dibeli dan dibawa pulang sebagai bentuk apresiasi terhadap produk petani setempat.

Ibas menilai model pertanian seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain, termasuk wilayah yang memiliki lahan belum produktif. Dengan memanfaatkan teknologi greenhouse dan pendampingan yang tepat, lahan tersebut berpeluang dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif sekaligus destinasi wisata edukasi.

Baca juga: Ibas Dorong Hilirisasi Getah Pinus untuk Tingkatkan Ekonomi Ponorogo

Agrowisata Jadi Peluang Ekonomi Baru

Lebih jauh, Edhie Baskoro mengapresiasi langkah kelompok tani yang tidak hanya berorientasi pada produksi buah, tetapi juga mengembangkan konsep wisata petik melon yang terbuka untuk masyarakat umum.

Agrowisata tersebut telah menarik pengunjung dari sejumlah daerah, seperti Madiun, Ngawi, hingga Solo. Selain menjadi tempat rekreasi keluarga, kawasan ini juga memberikan pengalaman edukasi mengenai proses budi daya, pengenalan varietas buah, dan teknologi pertanian modern.

Bahkan, sejumlah perguruan tinggi telah berkunjung untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

"Ini menarik karena pertanian tidak hanya menghasilkan buah untuk dijual, tetapi juga menghadirkan pengalaman, edukasi, dan wisata. Masyarakat bisa datang, belajar, menikmati suasana desa, sekaligus memetik langsung hasil pertanian. Inilah peluang ekonomi yang harus kita kembangkan bersama," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pengembangan agrowisata dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Kehadiran wisatawan berpotensi menggerakkan berbagai usaha masyarakat, mulai dari kuliner, produk UMKM, oleh-oleh, hingga jasa pendukung pariwisata desa.

Menurutnya, Kabupaten Magetan memiliki potensi alam yang sangat besar untuk pengembangan sektor tersebut. Selain melon, Magetan juga dikenal memiliki komoditas unggulan seperti jeruk pamelo, stroberi, sayuran, serta berbagai produk peternakan, termasuk kampung susu.

"Magetan memiliki banyak potensi. Alamnya indah, udaranya sejuk, tanahnya subur, dan masyarakatnya memiliki kreativitas. Mari kita jaga dan kembangkan bersama agar pertanian dan pariwisata desa semakin maju serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tuturnya.

Dalam dialog bersama kelompok tani, Ibas juga menyoroti pentingnya ketersediaan benih, pupuk, fasilitas pertanian, serta kepastian pasar bagi keberlanjutan usaha petani.

Salah seorang petani, Suparmin, menyampaikan bahwa salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah harga benih melon yang relatif tinggi. Sementara itu, kebutuhan benih masih banyak dipenuhi melalui pembelian secara daring.

Menanggapi hal tersebut, Edhie Baskoro menekankan pentingnya penguatan rantai pasok pertanian dalam negeri, termasuk pengembangan pembibitan lokal agar petani memperoleh akses terhadap benih berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.

Ia juga mendorong pengelolaan pertanian secara terencana, mulai dari penjadwalan tanam, pemupukan, pengaturan masa panen, hingga pengelolaan biaya operasional dan pemasaran.

Terkait pupuk, Ibas menegaskan pentingnya ketersediaan pupuk dengan harga yang lebih terjangkau dan distribusi yang tepat sasaran. Ia juga mengingatkan agar pupuk tidak ditimbun karena kebutuhan pupuk harus dapat dipenuhi oleh seluruh kelompok tani dan pelaku usaha pertanian.

"Petani membutuhkan kepastian. Benih harus tersedia, pupuk harus mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau, fasilitas pertanian harus semakin baik, dan pasarnya harus jelas. Kalau seluruh ekosistem ini berjalan, petani akan lebih mudah mengembangkan usahanya," tegasnya.

Ibas juga menyampaikan bahwa dirinya akan terus mengawal berbagai kebutuhan dan tantangan sektor pertanian melalui perannya di tingkat pusat agar pengembangan ekonomi produktif di daerah mendapatkan perhatian dan dukungan yang berkelanjutan.

Baca juga: Ibas Kawal Program Bedah Rumah hingga Listrik untuk Warga Magetan

Dorong Kesejahteraan Warga

Dalam kesempatan tersebut, Ibas turut memberikan bantuan sebagai bentuk dukungan sekaligus motivasi bagi kelompok tani untuk terus mengembangkan usaha pertanian dan agrowisata.

Ia berharap model pengembangan greenhouse melon yang dijalankan kelompok tani di Desa Sumberdodol dapat menjadi contoh yang bisa dipelajari dan direplikasi oleh desa-desa lain sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.

Menurut EBY, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga oleh inisiatif, kreativitas, kerja keras, dan semangat gotong royong masyarakat.

"Intinya saya datang untuk mendorong agar usaha agrowisata dan agrobuah produksi Indonesia terus berkembang, bisa dinikmati masyarakat, dan menghasilkan kesejahteraan. Kita ingin pertanian bukan sekadar kegiatan produksi, tetapi menjadi sumber penghidupan, kebanggaan, dan masa depan bagi masyarakat desa," jelasnya.

Dukungan tersebut mendapat apresiasi dari Suparmin selaku pengelola kelompok tani. Ia menyampaikan terima kasih atas perhatian, bantuan, dan motivasi yang diberikan EBY kepada kelompok tani serta masyarakat Desa Sumberdodol. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi para petani untuk terus berkarya, mengembangkan usaha, dan memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah maupun bangsa.

Dalam temu masyarakat tersebut, EBY juga menyapa sekitar 1.000 warga Desa Sumberdodol melalui kegiatan bertajuk "Buah Melon Mendunia: Optimalisasi Peluang Agrowisata dalam Penguatan Ekonomi Desa". Di hadapan masyarakat, ia mengajak seluruh elemen untuk menjaga kerukunan, memperkuat gotong royong, serta memberikan perhatian terhadap pendidikan generasi muda.

Ia berharap anak-anak di Magetan dapat terus mengenyam pendidikan, tumbuh menjadi generasi cerdas dan berkarakter, serta memiliki cita-cita untuk ikut membangun Indonesia.

Menutup rangkaian kegiatan, EBY menyampaikan harapan agar pengembangan pertanian dan agrowisata di Magetan membawa keberkahan, kesehatan, kebahagiaan, dan peningkatan kesejahteraan bagi para petani serta seluruh masyarakat.

"Petik melon, petik peluang, bawa berkah. Semoga apa yang kita tanam hari ini tidak hanya menghasilkan buah yang berkualitas, tetapi juga menumbuhkan kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat," pungkas EBY.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Perwakilan Kementerian Pariwisata Luthfi Setiya Priambodo, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Magetan Suwito, Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Umum Kecamatan Panekan Rachmad Soewastono, Sekretaris Desa Sumberdodol Taufik Arrohman Arizal, Pengelola BUMDes Sumberdodol Bara Boom Benny Setiawan, serta anggota DPRD Kabupaten Magetan Wahyu Kurniawan .




(akd/ega)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kemenbud siap dukung revitalisasi bangunan Gereja Sion
• 11 jam lalu
0
thumb
Wamenhaj Buka Peluang Non-Muslim Jadi Petugas Haji, Ini Alasannya
• 15 jam lalu
0
thumb
Kapolda Jateng Sebut Ponpes Terkait Kasus Penyerangan Mi Babi di Sukoharjo Tak Terdaftar Kemenag
• 15 jam lalu
0
thumb
Curry pimpin kebangkitan bersejarah Warriors atas Lakers
• 12 jam lalu
0
thumb
KBRI Paris Imbau WNI Waspada, Demo Nasional Prancis Berlanjut Hari Ini
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.