Pagelaran Langen Tayub Pacitan Catatkan Rekor MURI dengan 5.000 Penari

detik.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal MPR RI Heri Herawan menyampaikan bahwa Pagelaran Rakyat Tarian Langen Tayub yang diikuti lebih dari 5.000 penari dari berbagai kecamatan di Pacitan berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pagelaran tari tayub dengan peserta terbanyak.

Hal tersebut disampaikan Heri saat memberikan sambutan dalam acara yang digelar di Stadion Wijaya Krida, Pacitan, Rabu (28/10/2026). Acara yang diinisiasi oleh Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat yang hadir dan terlibat langsung.

Acara tersebut turut dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Pacitan, Ketua DPRD Pacitan, tokoh masyarakat, pelaku seni budaya, serta Kepala Biro Humas dan Sistem Informasi MPR RI, Budi Muliawan.

"Alhamdulillah, Pagelaran Langen Tayub ini berhasil mencatatkan rekor MURI. Namun, selain sebagai upaya pencatatan rekor, kegiatan ini juga menjadi metode untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya," ungkap Heri, Sabtu (31/10/2026).

Baca juga: Ibas Dukung Pengembangan Agrowisata dan Kemandirian Melon di Magetan

Heri menambahkan, esensi kegiatan ini adalah memberikan ruang apresiasi bagi para pelaku seni budaya lokal, sekaligus membuka peluang pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

"Kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud pelestarian seni dan budaya daerah, tetapi juga diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi seniman tradisional di daerah lain," lanjut Heri.

Dalam kesempatan tersebut, Heri juga mengajak semua pihak untuk memaknai Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.

Baca juga: Tim Ekspedisi Patriot UI Kembangkan Energi Bersih di Teluk Wondama

Ia mengingatkan kembali peristiwa 98 tahun silam, ketika para pemuda dari berbagai wilayah Nusantara berikrar untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan melalui satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia.

Melalui momentum ini, Heri berharap nilai-nilai kebersamaan, persatuan, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya bangsa dapat semakin tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat.

Hal tersebut sejalan dengan filosofi tayub, yaitu ditata ben guyub, yang bermakna diatur agar tercipta kerukunan, kebersamaan, dan keakraban.

"Kita berharap kesenian tradisional semakin mendapat tempat di hati masyarakat, menjadi kebanggaan daerah, serta menjadi pilar kekuatan bagi kebudayaan nasional," pungkas Heri.




(akd/ega)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BMKG Prediksi Hujan Lebat di 7 Kota Besar, Simak Daftarnya
• 18 jam lalu
0
thumb
Danantara Indonesia Tegaskan Tidak Ada Dana Sponsorship dalam Partisipasi TIME100 Next 2026
• 11 jam lalu
0
thumb
Soal Gugatan Ijazah yang Dicabut di PTUN, Ini Respons Wapres Gibran
• 15 jam lalu
0
thumb
Nelayan Salomate Praktik Olah Ikan Sapu-Sapu Menjadi Pelet, Didampingi Tim STMIK Amika Soppeng
• 10 jam lalu
0
thumb
Dugaan Korupsi BUMD Banten Rp6,82 Miliar, Kejati Tetapkan Tiga Tersangka
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.