jpnn.com - JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR Lisda Hendrajoni menghadiri pertunjukan drama musikal anak berkebutuhan khusus bertajuk Aku Hanya Kupu-Kupu Kecil, yang digelar di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Turut hadir Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq.
BACA JUGA: Agung Sedayu Group Ubah Liburan bagi Anak Berkebutuhan Khusus Jadi Kenangan Tak Terlupakan
Pertunjukan yang diinisiasi Komunitas Aku Menari tersebut menghadirkan kisah perjuangan, harapan, dan proses tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus.
Kehadiran Lisda Hendrajoni yang akrab disapa Bunda Lisda menjadi bagian dari perhatian terhadap pemenuhan hak anak dan penyandang disabilitas, terutama dalam memperoleh kesempatan pendidikan, pengembangan bakat, serta penerimaan sosial yang setara.
BACA JUGA: ID Humanity dan Chubb Life Indonesia Ajak Anak Berkebutuhan Khusus Berbagi Kebahagiaan
Bunda Lisda memandang bahwa anak berkebutuhan khusus tidak boleh dinilai semata-mata dari keterbatasan yang dimiliki.
Mereka mempunyai potensi besar yang dapat terus berkembang apabila mendapatkan dukungan, kepercayaan, dan kesempatan dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
BACA JUGA: Artabilitas Super Iftar Ramadan Berbagi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
“Setiap anak dilahirkan dengan keistimewaannya masing-masing. Anak-anak berkebutuhan khusus juga mempunyai mimpi, cita-cita, dan masa depan yang harus didukung bersama. Jangan pernah membatasi harapan mereka hanya karena kondisi yang berbeda,” ujar Lisda.
Menurutnya, penampilan anak-anak berkebutuhan khusus dalam pertunjukan tersebut menjadi pengingat penting bahwa kemampuan seseorang tidak selalu dapat diukur melalui standar yang sama.
Setiap anak mempunyai kelebihan yang perlu ditemukan, dihargai, dan dikembangkan.
Bagi Bunda Lisda, keberadaan anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan perhatian bersama.
Dukungan tidak cukup hanya diberikan melalui rasa simpati, melainkan juga melalui tersedianya pendidikan yang layak, ruang berekspresi, dan kesempatan untuk hidup mandiri.
“Mereka tidak membutuhkan belas kasihan semata, tetapi membutuhkan kesempatan, kepercayaan, dan ruang untuk membuktikan kemampuan mereka," katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq memberikan apresiasi terhadap penampilan anak-anak berkebutuhan khusus.
Dia mengibaratkan perjalanan mereka seperti proses metamorfosis kupu-kupu yang membutuhkan waktu, pendampingan, dan kepercayaan untuk tumbuh dan berkembang.
“Anak-anak punya harapan, punya masa depan. Seperti kupu-kupu, mereka menjalani proses untuk tumbuh dan berkembang, hingga suatu hari bisa terbang tinggi,” ujar Fajar.
Fajar menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong penyelenggaraan pendidikan inklusif agar seluruh anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
Sebagai salah satu langkah penguatan pendidikan inklusif, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menargetkan sebanyak 1.500 guru mengikuti Pelatihan Pendidikan Inklusif tingkat mahir pada 2026.
Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga pendidik dalam memberikan layanan kepada anak berkebutuhan khusus. (*/jpnn)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan





Komentar (0)