PAM Jaya mengungkap data penurunan muka tanah di Jakarta mulai menunjukkan perlambatan. Penggunaan air perpipaan yang semakin masif dinilai turut berkontribusi menekan fenomena penurunan permukaan tanah di Ibu Kota.
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, hal tersebut terlihat dari hasil penelitian Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI yang membandingkan kondisi Jakarta pada periode 2018 hingga 2025.
"Berdasarkan hasil penelitian tersebut, area yang sebelumnya mengalami indikasi penurunan muka tanah secara signifikan mulai berkurang. Hal itu terlihat dari perubahan warna pada peta penelitian, yakni semakin meluasnya area berwarna hijau di wilayah selatan Jakarta," kata Arief dalam keterangan, Sabtu (31/10/2026).
Sementara itu, area berwarna merah di wilayah utara Jakarta mulai berubah menjadi kuning. Perubahan tersebut menggambarkan berkurangnya area dengan indikasi penurunan muka tanah.
Arief menilai, kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya penggunaan air perpipaan oleh masyarakat. Dengan tersedianya layanan air bersih melalui jaringan pipa, ketergantungan warga terhadap pengambilan air tanah diharapkan semakin berkurang.
"Riset dari Kementerian ESDM, Jakarta berhasil menahan laju penurunan muka tanah. Ini menandakan bahwasannya masyarakat Jakarta sudah banyak mulai menggunakan air perpipaan," ungkapnya.
Menurut Arief, capaian tersebut menunjukkan bahwa perluasan jaringan air perpipaan tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga mendukung upaya menjaga lingkungan Jakarta.
Dia pun mengapresiasi kerja PAM Jaya dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta dalam memperluas akses layanan air perpipaan. Ia menyebut, cakupan pelayanan air perpipaan Jakarta saat ini telah mencapai 83,27 persen.
Dia menegaskan, capaian tersebut juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan Badan Geologi, bukan berdasarkan riset internal PAM Jaya.
"Ini sesuatu yang secara fakta, bahwasannya layanan 83 persen ternyata terlihat dari riset yang dilakukan bukan oleh kami. Ini Badan Geologi yang melakukan riset," ujarnya.
Arief menambahkan, hasil penelitian tersebut telah disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Temuan itu menjadi motivasi bagi PAM Jaya untuk terus memperluas cakupan layanan dan meningkatkan kapasitas distribusi air bersih.
"Berdasarkan data PAM Jaya hingga September 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 1.222.484 sambungan dengan total penerima manfaat sekitar 9 juta jiwa," tuturnya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, PAM Jaya memiliki kapasitas suplai air sebesar 23.051 liter per detik (LPS), didukung jaringan pipa sepanjang 13.094 kilometer.
Meski demikian, PAM Jaya masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai target pelayanan air perpipaan 100 persen pada 2029.
Dalam target tersebut, PAM Jaya membidik jumlah pelanggan sebanyak 2.016.011 sambungan dengan kapasitas suplai mencapai 32.159 LPS. Panjang jaringan pipa juga ditargetkan meningkat menjadi 16.234 kilometer dengan dukungan 28 Instalasi Pengolahan Air (IPA).
Di sisi lain, pencapaian target tersebut membutuhkan kerja berkelanjutan dan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Sebab, peningkatan layanan air perpipaan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan Jakarta.
Dia pun mengingatkan seluruh jajaran PAM Jaya agar tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang telah diraih.
"Jadikan pujian itu sebagai sesuatu untuk mencambuk lagi bahwasannya kita masih terus banyak bekerja untuk menyelesaikan target-target ini," pungkasnya.
(bel/lir)






Komentar (0)