Kemenekraf Sebut Strategi Pemasaran Tak Bisa Lagi Menunggu Produk Selesai Dibuat

wartaekonomi.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Strategi pemasaran dinilai tidak lagi cukup dilakukan setelah produk selesai dibuat. Pelaku usaha perlu melibatkan pendekatan marketing sejak tahap awal pengembangan produk dengan memahami kebutuhan dan perilaku konsumen.

Staf Ahli Menteri Bidang Riset, Pendidikan, dan Hubungan Kelembagaan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) Dian Permanasari mengatakan perkembangan teknologi digital telah mengubah cara konsumen mencari informasi, mempertimbangkan, hingga memutuskan pembelian suatu produk. Konsumen kini tidak langsung membeli setelah melihat produk, tetapi terlebih dahulu mencari ulasan, membaca komentar pengguna, dan membandingkan harga di berbagai platform.

Perubahan tersebut membuat pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi semakin penting bagi perusahaan dalam menyusun strategi pemasaran.

“Dalam paradigma lama marketing, kita membuat produk terlebih dahulu kemudian menjualnya. Tetapi saat ini dunia telah berubah, pendekatan marketing bukan lagi di akhir, tetapi sejak awal dari penciptaan produk,” ujar Dian dalam acara Marketing Excellence Awards 2026 Warta Ekonomi, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, data digital dapat dimanfaatkan untuk memahami kebutuhan, motivasi, hingga alasan konsumen memilih suatu produk. Informasi tersebut kemudian dapat diolah menjadi consumer insight yang menjadi dasar pengembangan produk.

“Consumer insight bisa menentukan produk apa yang akan kita buat, desainnya seperti apa, cerita apa yang akan kita bangun, dan bagaimana pengalaman konsumen dibentuk, sampai bagaimana kita mengembangkan produk berikutnya,” katanya.

Dian menambahkan, perusahaan dapat memperoleh berbagai informasi dari aktivitas konsumen di ruang digital, mulai dari produk yang dicari, konten yang diklik dan ditonton, hingga barang yang dibeli serta durasi konsumen melihat suatu konten.

Data tersebut perlu dianalisis dan diinterpretasikan agar tidak berhenti sebagai kumpulan informasi, melainkan menghasilkan pemahaman yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan bisnis.

“Data inilah yang kita analisis, kemudian kita interpretasikan, sehingga kita memahami kebutuhan, memahami motivasi, serta alasan dan perilaku konsumen. Inilah consumer insight,” tutur Dian.

Sejalan dengan perubahan perilaku konsumen tersebut, CEO sekaligus Chief Editor Warta Ekonomi Muhamad Ihsan menyoroti pergeseran strategi pemasaran menuju pendekatan omnichannel dan media commerce. Menurutnya, kanal digital kini menjadi bagian penting dalam aktivitas promosi perusahaan.

“Sekarang sudah bergeser ke yang namanya omnichannel dan media commerce, di mana 75% belanja iklan Indonesia, ini salah satu contohnya pada tahun 2025 sudah dialokasikan ke kanal digital,” ujar Ihsan.

Ia juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam aktivitas promosi. Teknologi tersebut memungkinkan pembuatan materi promosi secara lebih kreatif, tetapi konsumen juga perlu lebih cermat dalam menerima informasi yang disampaikan.

Baca Juga: Cerita Akademi Mantra Digital Berdayakan UMKM Lewat Integrasi Edukasi, Produk Kesehatan, dan Digital Marketing

“Demikian juga dengan promotion, sekarang kita bisa melihat bahwa AI bisa melakukan secara kreatif, sangat kreatif promosi-promosi sehingga kita harus sangat hati-hati melihat promosi yang disampaikan kepada kita,” katanya.

Lebih lanjut, Dian menilai pemasaran juga perlu memperhatikan nilai tambah yang ditawarkan sebuah produk. Dalam industri kreatif, nilai produk tidak hanya ditentukan oleh fungsi atau kualitas barang, tetapi juga kreativitas yang melekat di dalamnya.

Ia mencontohkan, nilai sebuah produk dapat diperkuat melalui cerita, pengalaman konsumen, identitas merek, desain, hingga kekayaan intelektual.

“Jadi ekonomi kreatif itu, kreativitas bukanlah teknik untuk berkomunikasi atau melihat suatu produk menjadi menarik, tetapi kreativitas itu sendirilah yang merupakan value dari sebuah produk,” ujar Dian..

Dian menegaskan, pemasaran pada akhirnya tidak hanya bertujuan menarik perhatian konsumen atau meningkatkan penjualan. Strategi tersebut juga perlu memperkuat merek, mengembangkan kekayaan intelektual, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia.

“Marketing adalah bagaimana kita memahami manusia, menerjemahkan insight menjadi kreativitas, dan kreativitas menjadi produk, pengalaman, serta intellectual property yang memiliki nilai ekonomi,” tutupnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
SMA Taruna Nusantara Kini Gratis, Prabowo Perluas Jadi 6 Kampus
• 21 jam lalu
0
thumb
KM Dorolonda Singgah Perdana di Pelabuhan Donggala, Perkuat Konektivitas Laut
• 5 jam lalu
0
thumb
CEO Indodax Akui Ada Serangan Hacker, Pastikan Data dan Aset Digital Nasabah Tidak Dicuri
• 22 jam lalu
0
thumb
Editorial MI: Darurat Perundungan
• 11 jam lalu
0
thumb
73.379 Murid SMA, SMK dan SLB di Jatim Harus Ulang TKA Akibat Gangguan Teknis
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.