Apa Arti Simbol Salam Tiga Jari Saat Demonstrasi? Cek Asal-asulnya

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Salam tiga jari yang kerap terlihat dalam aksi demonstrasi memiliki makna lebih dalam daripada sekadar gestur tangan. Apa arti sebenarnya dan bagaimana asal-usulnya?

Arti simbol tiga jari merupakan lambang solidaritas, perlawanan terhadap penindasan, serta tuntutan atas kebebasan dan kesetaraan hak.

Simbol yang dikenal dengan istilah three finger salute itu semakin sering digunakan mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat sipil ketika menyuarakan aspirasi di ruang publik.

Di tengah orasi dan kepulan gas air mata, para demonstran mengangkat tiga jari secara bersamaan sebagai bentuk pesan visual yang menyatukan mereka dalam satu gerakan.

Penggunaan simbol tersebut kini tidak hanya terbatas di lokasi demonstrasi, tetapi juga menyebar luas melalui berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, dan X.

Bagi sebagian kalangan muda, salam tiga jari telah menjadi identitas perlawanan terhadap ketidakadilan, kesewenang-wenangan, serta praktik kekuasaan yang dianggap mengabaikan suara masyarakat.

Pembahasan mengenai makna gestur ini turut mendapat perhatian setelah akun Instagram Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (@bemui_official) mengulasnya melalui unggahan berjudul Tiga Jari di Udara, Apa Maksudnya? Interseksi Gerakan Pemuda, Budaya Populer, dan Aktivisme Digital.

Dalam konteks gerakan mahasiswa, simbol tersebut dimaknai sebagai penegasan solidaritas antarkelompok, penolakan terhadap otoritarianisme, sekaligus dukungan terhadap kebebasan menyampaikan pendapat dan kesetaraan hak sipil.

Berawal dari Kisah The Hunger Games

Salah satu akar populer salam tiga jari dapat ditelusuri melalui trilogi novel dan film The Hunger Games karya Suzanne Collins yang mengangkat kisah masyarakat dalam dunia distopia.

Dalam cerita tersebut, penduduk District 12 pada awalnya menggunakan gestur tiga jari untuk menyampaikan rasa terima kasih, penghormatan, kekaguman, serta salam perpisahan kepada orang-orang yang mereka cintai.

Makna simbol itu kemudian berubah seiring meningkatnya tekanan dan kekejaman rezim Capitol di bawah kepemimpinan Presiden Snow.

Gestur yang semula menjadi ungkapan penghormatan perlahan berkembang menjadi tanda penolakan terhadap kekuasaan tiran dan simbol kebangkitan rakyat yang melawan penindasan.

Penggambaran tersebut membuat salam tiga jari semakin lekat dengan semangat pemberontakan dan perjuangan masyarakat untuk memperoleh kebebasan.

Pengaruh budaya populer itu juga terlihat dalam kampanye digital, ketika rekaman demonstrasi yang menampilkan para peserta mengangkat tiga jari kerap dipadukan dengan lagu The Hanging Tree.

Lagu yang menjadi bagian dari semesta The Hunger Games tersebut menghadirkan nuansa perlawanan melalui metafora tentang keberanian, cinta, pengorbanan, kematian, dan ketakutan dalam menghadapi kekuasaan yang menindas.

Dikaitkan dengan Nilai Revolusi Prancis dan Gerakan Demokrasi

Selain mendapat pengaruh dari budaya populer, salam tiga jari juga kerap dihubungkan dengan prinsip-prinsip yang menjadi semboyan Revolusi Prancis pada 1789.

Tiga nilai yang dimaksud adalah Liberté atau kebebasan, Égalité yang berarti kesetaraan, serta Fraternité atau persaudaraan.

Ketiga prinsip tersebut dianggap sejalan dengan tuntutan berbagai gerakan sosial yang memperjuangkan hak warga negara, kebebasan berekspresi, dan perlakuan yang setara di hadapan kekuasaan.

Makna itu pula yang membuat simbol tiga jari mudah diterima dalam berbagai aksi pro-demokrasi, meskipun setiap negara memiliki latar belakang dan persoalan politik yang berbeda.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang menggunakan gestur tersebut dalam gerakan massa.

Dikutip dari Radar Jogja, Sabtu (31/10/2026), salam tiga jari juga pernah muncul dalam sejumlah aksi pro-demokrasi di kawasan Asia dan menjadi penanda perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap represif.

Di Thailand, simbol tersebut digunakan dalam demonstrasi pro-demokrasi pada 2014 dan kembali terlihat dalam gelombang unjuk rasa pada 2020.

Sementara di Myanmar, gestur tiga jari menjadi salah satu lambang perlawanan masyarakat terhadap junta militer setelah kudeta pada 2021.

Simbol serupa juga digunakan aktivis di Hong Kong ketika menentang kebijakan undang-undang ekstradisi yang memicu gelombang demonstrasi.

Penggunaan salam tiga jari di berbagai negara memperlihatkan bagaimana sebuah gestur sederhana dapat berkembang menjadi bahasa perlawanan yang melampaui batas geografis dan perbedaan budaya.

Meski tafsirnya dapat berubah mengikuti kondisi sosial dan politik masing-masing wilayah, simbol tersebut umumnya membawa pesan tentang persatuan, keberanian, dan penolakan terhadap pembungkaman suara masyarakat.

Pada akhirnya, salam tiga jari bukan hanya gerakan tangan yang terlihat dalam demonstrasi, melainkan juga bentuk komunikasi tanpa kata untuk menyampaikan solidaritas dan tuntutan atas kebebasan. (*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jenazah Pelaku Penusukan Jembatan Nginden Ditemukan 800 Meter dari Lokasi Awal Pencarian
• 5 jam lalu
0
thumb
6 Cara Mengurangi Barang yang Tidak Lagi Digunakan di Rumah
• 8 jam lalu
0
thumb
BPKH Kelola Rp185,73 Triliun Dana Haji untuk Bantu Biaya Keberangkatan Jemaah
• 5 jam lalu
0
thumb
Imigrasi Depok Amankan 13 WNA, Temukan Dugaan KITAS Investor Palsu
• 22 jam lalu
0
thumb
Tampil dominan, Zverev amankan semifinal di Wina
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.