Samarinda (ANTARA) - Di antara 20 gerai yang berdiri di Kampung Long Pahangai II, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Elviana Ping sibuk menata manik-manik warna-warni di atas selembar kain. Perempuan berusia 49 tahun itu sedang membuat hiasan pada taah, kain tenun adat yang dikenakan dalam upacara tradisional.
Di gerai tersebut, berbagai kerajinan tangan adat Dayak tertata rapi, mulai dari gelang dan kalung manik-manik, anting-anting, bluko (topi tari adat), hingga anjat (tas punggung dari anyaman rotan). Ada pula pakaian adat yang dihiasi sulaman dan motif khas masyarakat setempat.
Elviana tidak bekerja sendirian. Putri ketiganya, Luwing, membantu melayani pembeli yang datang ke gerai, sementara ia melanjutkan pekerjaannya menyusun manik-manik.
Perjalanan Elviana mengembangkan keterampilan tersebut tidak berhenti pada kegiatan produksi dan penjualan. Sejak 2016, ia juga aktif mengajarkan pembuatan kerajinan tangan kepada orang lain.
Saat itu, sejumlah orang dari Kalimantan Utara memintanya datang untuk melatih kaum ibu membuat kerajinan. Meski belum pernah menjadi pelatih, Elviana menerima tawaran tersebut.
Baca juga: Putri Diah suarakan kehidupan pengrajin karawo lewat lukisan digital
Setelah pelatihan itu, permintaan terus berdatangan. Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kelompok perempuan, sekolah, perguruan tinggi, hingga instansi pemerintah.
Elviana kemudian mendirikan komunitas perempuan kreatif di Pampang, Samarinda, yang diberi nama Letut Udep. Ia juga membangun tempat pelatihan bagi mereka yang ingin mempelajari keterampilan membuat kerajinan sekaligus mengenal makna di balik motif dan proses pembuatannya.
"Kalau hanya membuat gelang dan kalung, cukup sehari pelatihannya. Tapi kalau membuat baju adat, butuh waktu berminggu-minggu. Harus mulai dari memilih bahan, membuat motif, menjahit, hingga memasang aksesori," tutur Elviana sambil menghias bluko.
Lebih dari 1.000 orang telah mengikuti pelatihan yang diberikan Elviana. Di Kalimantan Utara, dua orang yang pernah dilatihnya sekarang mampu mengembangkan keterampilan tersebut secara mandiri. Sementara di Kabupaten Kutai Timur, 10 orang lainnya masih aktif membuat kerajinan.
Pada awal Oktober 2026, Elviana bersama komunitasnya juga melatih 300 mahasiswa di Lamin Pampang. Kegiatan itu menjadi salah satu upayanya mengenalkan keterampilan membuat kerajinan tradisional kepada generasi muda.
Peluang ekonomi bagi perajin
Keterampilan yang diajarkan Elviana juga memiliki peluang ekonomi, seperti terlihat selama Festival Hudoq Pekayang berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Kampung Long Pahangai II, yang berada di dekat perbatasan dengan Malaysia.
Festival itu dihadiri pengunjung dari 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai, berbagai daerah lain, hingga Malaysia. Selain menyaksikan pertunjukan budaya, pengunjung dapat membeli produk kerajinan dan makanan khas yang dijajakan warga.
Camat Long Pahangai Thomas Ding mengatakan festival tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga kesempatan untuk memperkenalkan produk unggulan daerah.
"Festival ini bukan hanya untuk pelestarian budaya, tapi juga momen istimewa mengenalkan beragam produk khas daerah," ujarnya.
Baca juga: Pesan dan kode matematika dari rumah adat Siwaluh Jabu
Bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membuka gerai di bazar festival, kegiatan selama tiga hari itu memberi mereka kesempatan untuk menjual produk kepada lebih banyak pembeli.
Berbagai kerajinan ditawarkan dengan harga beragam. Gelang manik dijual sekitar Rp20.000, sedangkan dompet anyaman rotan dibanderol Rp150.000 hingga Rp180.000. Bluko, yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk dibuat, bisa laku hingga Rp900.000 per buah.
"Saya bersyukur, tiap hari ada saja yang beli. Lumayan, dapat seribu [sejuta] lebih setiap harinya," kata Elviana.
Nilai penjualan tersebut menunjukkan peluang ekonomi yang bisa diperoleh perajin ketika produknya dipasarkan dalam kegiatan yang menarik banyak pengunjung.
Keramaian festival juga dirasakan pelaku usaha lainnya. Gerai kuliner didatangi pengunjung yang ingin mencicipi makanan tradisional. Warung dan toko kelontong melayani kebutuhan orang-orang yang datang ke Long Pahangai selama kegiatan berlangsung.
Dengan jumlah pengunjung yang disebut mencapai lebih dari 3.000 orang, festival itu membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk menawarkan berbagai produk dan jasa.
Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan mengatakan pengembangan festival budaya diharapkan dapat menjaga warisan leluhur sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui peningkatan kunjungan wisatawan dan aktivitas usaha.
"Pengembangan festival budaya diharapkan tidak hanya menjaga keberlangsungan warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga melalui meningkatnya kunjungan wisatawan dan aktivitas usaha masyarakat," ujar Angela.
Baca juga: Karawo ikat Gorontalo: Menjaga identitas budaya, menggerakkan ekonomi
Ia berharap kegiatan budaya tidak hanya berlangsung selama festival, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas wisata sepanjang tahun. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk belajar, membeli kerajinan, dan mengenal kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Mahakam.
Angela juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga tradisi. Menurut dia, pemahaman terhadap sejarah dan asal-usul budaya dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.
"Pelajari asal-usul budaya kita. Saya yakin ketika anak-anak muda sudah mempelajari sejarahnya, mereka akan mencintai dan melestarikan budaya leluhur ini," pesannya.
Di gerainya di Long Pahangai II, Elvina masih menyusun manik-manik satu per satu di atas kain. Ia berupaya mempertahankan tradisi serta membuka peluang penghasilan bagi orang lain. Baginya, warisan budaya perlu terus dipraktikkan dan dikembangkan agar tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Baca juga: Merajut Noken sebagai wastra Papua
Baca juga: Menghidupkan kembali dua warisan budaya di lereng Rinjani
Di gerai tersebut, berbagai kerajinan tangan adat Dayak tertata rapi, mulai dari gelang dan kalung manik-manik, anting-anting, bluko (topi tari adat), hingga anjat (tas punggung dari anyaman rotan). Ada pula pakaian adat yang dihiasi sulaman dan motif khas masyarakat setempat.
Elviana tidak bekerja sendirian. Putri ketiganya, Luwing, membantu melayani pembeli yang datang ke gerai, sementara ia melanjutkan pekerjaannya menyusun manik-manik.
Perjalanan Elviana mengembangkan keterampilan tersebut tidak berhenti pada kegiatan produksi dan penjualan. Sejak 2016, ia juga aktif mengajarkan pembuatan kerajinan tangan kepada orang lain.
Saat itu, sejumlah orang dari Kalimantan Utara memintanya datang untuk melatih kaum ibu membuat kerajinan. Meski belum pernah menjadi pelatih, Elviana menerima tawaran tersebut.
Baca juga: Putri Diah suarakan kehidupan pengrajin karawo lewat lukisan digital
Setelah pelatihan itu, permintaan terus berdatangan. Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kelompok perempuan, sekolah, perguruan tinggi, hingga instansi pemerintah.
Elviana kemudian mendirikan komunitas perempuan kreatif di Pampang, Samarinda, yang diberi nama Letut Udep. Ia juga membangun tempat pelatihan bagi mereka yang ingin mempelajari keterampilan membuat kerajinan sekaligus mengenal makna di balik motif dan proses pembuatannya.
"Kalau hanya membuat gelang dan kalung, cukup sehari pelatihannya. Tapi kalau membuat baju adat, butuh waktu berminggu-minggu. Harus mulai dari memilih bahan, membuat motif, menjahit, hingga memasang aksesori," tutur Elviana sambil menghias bluko.
Lebih dari 1.000 orang telah mengikuti pelatihan yang diberikan Elviana. Di Kalimantan Utara, dua orang yang pernah dilatihnya sekarang mampu mengembangkan keterampilan tersebut secara mandiri. Sementara di Kabupaten Kutai Timur, 10 orang lainnya masih aktif membuat kerajinan.
Pada awal Oktober 2026, Elviana bersama komunitasnya juga melatih 300 mahasiswa di Lamin Pampang. Kegiatan itu menjadi salah satu upayanya mengenalkan keterampilan membuat kerajinan tradisional kepada generasi muda.
Peluang ekonomi bagi perajin
Keterampilan yang diajarkan Elviana juga memiliki peluang ekonomi, seperti terlihat selama Festival Hudoq Pekayang berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Kampung Long Pahangai II, yang berada di dekat perbatasan dengan Malaysia.
Festival itu dihadiri pengunjung dari 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai, berbagai daerah lain, hingga Malaysia. Selain menyaksikan pertunjukan budaya, pengunjung dapat membeli produk kerajinan dan makanan khas yang dijajakan warga.
Camat Long Pahangai Thomas Ding mengatakan festival tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga kesempatan untuk memperkenalkan produk unggulan daerah.
"Festival ini bukan hanya untuk pelestarian budaya, tapi juga momen istimewa mengenalkan beragam produk khas daerah," ujarnya.
Baca juga: Pesan dan kode matematika dari rumah adat Siwaluh Jabu
Bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membuka gerai di bazar festival, kegiatan selama tiga hari itu memberi mereka kesempatan untuk menjual produk kepada lebih banyak pembeli.
Berbagai kerajinan ditawarkan dengan harga beragam. Gelang manik dijual sekitar Rp20.000, sedangkan dompet anyaman rotan dibanderol Rp150.000 hingga Rp180.000. Bluko, yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk dibuat, bisa laku hingga Rp900.000 per buah.
"Saya bersyukur, tiap hari ada saja yang beli. Lumayan, dapat seribu [sejuta] lebih setiap harinya," kata Elviana.
Nilai penjualan tersebut menunjukkan peluang ekonomi yang bisa diperoleh perajin ketika produknya dipasarkan dalam kegiatan yang menarik banyak pengunjung.
Keramaian festival juga dirasakan pelaku usaha lainnya. Gerai kuliner didatangi pengunjung yang ingin mencicipi makanan tradisional. Warung dan toko kelontong melayani kebutuhan orang-orang yang datang ke Long Pahangai selama kegiatan berlangsung.
Dengan jumlah pengunjung yang disebut mencapai lebih dari 3.000 orang, festival itu membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk menawarkan berbagai produk dan jasa.
Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan mengatakan pengembangan festival budaya diharapkan dapat menjaga warisan leluhur sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui peningkatan kunjungan wisatawan dan aktivitas usaha.
"Pengembangan festival budaya diharapkan tidak hanya menjaga keberlangsungan warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga melalui meningkatnya kunjungan wisatawan dan aktivitas usaha masyarakat," ujar Angela.
Baca juga: Karawo ikat Gorontalo: Menjaga identitas budaya, menggerakkan ekonomi
Ia berharap kegiatan budaya tidak hanya berlangsung selama festival, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas wisata sepanjang tahun. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk belajar, membeli kerajinan, dan mengenal kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Mahakam.
Angela juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga tradisi. Menurut dia, pemahaman terhadap sejarah dan asal-usul budaya dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.
"Pelajari asal-usul budaya kita. Saya yakin ketika anak-anak muda sudah mempelajari sejarahnya, mereka akan mencintai dan melestarikan budaya leluhur ini," pesannya.
Di gerainya di Long Pahangai II, Elvina masih menyusun manik-manik satu per satu di atas kain. Ia berupaya mempertahankan tradisi serta membuka peluang penghasilan bagi orang lain. Baginya, warisan budaya perlu terus dipraktikkan dan dikembangkan agar tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Baca juga: Merajut Noken sebagai wastra Papua
Baca juga: Menghidupkan kembali dua warisan budaya di lereng Rinjani






Komentar (0)