Survei KedaiKOPI: 81,5 Persen Pemuda Indonesia Bangga Jadi WNI

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Sebanyak 81,5 persen pemuda Indonesia mengaku bangga menjadi warga negara Indonesia (WNI). Meski demikian, kebanggaan tersebut berjalan beriringan dengan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari sulitnya mencari pekerjaan hingga pesimisme terhadap masa depan Indonesia.

Temuan itu merupakan hasil survei terbaru Lembaga Survei KedaiKOPI bertajuk "Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029". Hasil survei tersebut dipaparkan dalam diskusi di Jakarta, Jumat (30/10).

Kepala Riset Lembaga Survei KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, mengatakan responden diminta menilai tingkat kebanggaan mereka menjadi WNI menggunakan skala 1 sampai 10.

Hasilnya, rata-rata skor kebanggaan pemuda mencapai 7,51. Sebanyak 28,7 persen responden bahkan memberikan nilai tertinggi.

"Jadi memang sebenarnya secara nasionalisme, identitas sebagai Indonesia, pemuda ini masih baik. Mereka tidak malu dan cukup bangga punya identitas Indonesia itu sendiri," kata Ashma.

Meski mayoritas mengaku bangga, masih terdapat 18,5 persen responden yang tidak bangga menjadi WNI.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio, menilai angka tersebut perlu menjadi perhatian. Menurut dia, semestinya seluruh pemuda memiliki kebanggaan terhadap identitas kebangsaannya.

"Buat saya itu hasil yang buruk, karena ada 18,5 persen pemuda Indonesia tidak bangga menjadi orang Indonesia. Jadi buat saya harusnya angka itu 100 persen lah, atau 99,999 persen," tegas Hendri.

Peneliti Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, juga menilai persentase pemuda yang tidak bangga menjadi WNI masih tergolong besar.

Menurut Lili, temuan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan partai politik untuk terus membangun rasa kebangsaan di kalangan generasi muda.

"Ini menjadi PR buat pemerintah, buat partai politik, bahwa proyek nasionalisme itu memang sesuatu yang harus terus-menerus dijalankan," ujar Lili.

Ia menilai kebanggaan terhadap Indonesia perlu terus dipupuk melalui berbagai instrumen, termasuk kebijakan dan pendidikan kebangsaan.

Selain itu, survei KedaiKOPI mencatat 71,3 persen responden masih menganggap nilai-nilai Sumpah Pemuda, yakni satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, relevan untuk menjawab tantangan kehidupan pemuda saat ini, termasuk di era digital.

Tingginya kebanggaan terhadap Indonesia juga tidak membuat pemuda kehilangan keinginan untuk mencari peluang pekerjaan di luar negeri.

Survei KedaiKOPI menemukan 75,2 persen responden ingin bekerja di luar negeri apabila memiliki kesempatan. Alasan paling banyak adalah keinginan mendapatkan penghasilan lebih tinggi, dengan persentase mencapai 78,2 persen.

Namun, keinginan bekerja di luar negeri tidak serta-merta menunjukkan lunturnya rasa kebangsaan.

Hasil persilangan data menunjukkan 61,6 persen responden mengaku bangga menjadi WNI sekaligus ingin bekerja di luar negeri.

Selain itu, sebanyak 77,8 persen responden yang memiliki keinginan bekerja di luar negeri menyatakan berencana kembali dan menetap di Indonesia.

Ashma mengatakan, temuan tersebut menunjukkan keinginan bekerja di luar negeri perlu dibedakan dari keinginan pindah dan menetap secara permanen.

"Bekerja di luar negeri itu bukan berarti permanen. Mereka mungkin mencari modal dulu, kekayaan dulu, ilmu dulu, untuk nanti dibawa lagi ke Indonesia," ujar Ashma.

Ia menilai temuan tersebut juga memberikan perspektif berbeda terhadap fenomena #KaburAjaDulu yang sempat ramai di media sosial.

Menurut Ashma, keinginan mencari pekerjaan di luar negeri tidak otomatis berarti seseorang sudah tidak mencintai Indonesia.

Lili juga mengatakan warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri tetap dapat berkontribusi terhadap pembangunan Tanah Air melalui diaspora.

Ia mencontohkan warga India yang bekerja di Amerika Serikat, tetapi tetap memiliki kebanggaan terhadap negara asalnya.

Orang yang bekerja di luar negeri tidak otomatis menunjukkan hilangnya nasionalisme. Kan sering cerita, banyak orang India itu banyak kerja juga di Amerika, nasionalismenya tetap tinggi.

"Orang yang bekerja di luar negeri tidak otomatis menunjukkan hilangnya nasionalisme. Kan sering cerita, banyak orang India itu banyak kerja juga di Amerika, nasionalismenya tetap tinggi. Oleh karena itu, saya yang termasuk setuju, ya. Mereka-mereka yang bekerja di luar negeri itu adalah bagian dari proyek nasionalisme juga. Maka bagaimana diaspora-diaspora itu tetap berkontribusi secara positif bagi kemajuan Indonesia," jelas Lili.

Di balik kebanggaan terhadap Indonesia, survei KedaiKOPI juga memperlihatkan persoalan ekonomi yang dihadapi pemuda.

Sebanyak 74,7 persen responden menilai mencari pekerjaan di Indonesia saat ini sulit. Rata-rata penilaian kemudahan mencari kerja hanya mencapai 4,29 dari skala 10.

Hambatan terbesar yang dirasakan adalah kebutuhan memiliki koneksi atau orang dalam (ordal), dengan persentase 56 persen.

Selanjutnya, sebanyak 48 persen responden menilai lapangan pekerjaan yang tersedia masih terbatas. Sebanyak 41,3 persen menyebut persaingan kerja yang ketat, sementara 39,2 persen menyoroti batasan usia dalam proses rekrutmen.

Ashma mengatakan temuan tersebut memperlihatkan persoalan pemuda bukan semata-mata keinginan untuk bekerja, melainkan akses mendapatkan pekerjaan.

"Artinya, sebenarnya mereka bukan enggak mau bekerja. Tapi akses untuk mendapatkan pekerjaan itu sulit di mata para pemuda ini," ujarnya.

Lili menilai persoalan koneksi dalam proses rekrutmen dapat berdampak lebih luas terhadap kepercayaan generasi muda terhadap dunia kerja dan pendidikan.

Menurut dia, persepsi bahwa pekerjaan lebih mudah diperoleh melalui koneksi dapat melemahkan keyakinan pemuda terhadap pendidikan dan kemampuan individu.

Tingginya angka kebanggaan pemuda menjadi warga negara Indonesia juga sejalan dengan pandangan mereka terhadap nilai-nilai Sumpah Pemuda. Sebanyak 71,3 persen responden menilai semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia masih relevan hingga saat ini.

"Jadi kami merasa keinginan pergi untuk bekerja itu tidak melunturkan nasionalisme. Jadi kalau misalnya ada statement di media sosial yang bilang 'Wah orang yang kabur ini udah enggak cinta Indonesia lagi,' di penelitian ini enggak benar gitu ya," ujar Ashma.

Metodologi Survei

Survei Pemuda Indonesia 2026 yang dilakukan Lembaga Survei KedaiKOPI berlangsung pada 23–29 September 2026. Survei ini melibatkan 1.213 Warga Negara Indonesia berusia 17–45 tahun yang mengisi kuesioner secara daring melalui metode Computer-Assisted Self-Interviewing (CASI). Responden berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Data responden kemudian dibobotkan menggunakan metode Iterative Proportional Fitting (IPF) berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, wilayah, dan persebaran provinsi. Pembobotan dilakukan untuk menyesuaikan komposisi sampel agar lebih mendekati karakteristik populasi yang menjadi acuan penelitian.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ditegur karena Ugal-ugalan, Rombongan Avanza Diduga Mabuk Tusuk Orang di Jembatan Nginden Surabaya
• 8 jam lalu
0
thumb
Koster Ingin Bangun Trem Bali Rute Bandara Ngurah Rai-Pecatu Mulai 2027
• 9 jam lalu
0
thumb
Kemenpar umumkan wisata kebugaran berbasis budaya JCWF hadir di Yogya
• 9 jam lalu
0
thumb
Mentan Amran Minta Pengoplos Beras SPHP Diberi Hukuman Mati
• 18 jam lalu
0
thumb
Tanggapi Seruan PBB untuk Keluar BoP, RI Tegaskan Komitmen Utama untuk Palestina!
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.