Di balik perbukitan hijau Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, uap panas tipis mengepul dari pipa-pipa raksasa milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang.
Bagi masyarakat awam, pipa tersebut mungkin hanya sekadar lintasan pembangkit listrik dari energi bersih panas bumi. Namun, bagi Hendro Gunawan dari para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH), uap itu adalah asa.
Hendro adalah Local Hero KTH Cikondang sekaligus pengembang pupuk organik Geo-Fert, mitra binaan PGE Kamojang.
Sebelum sentuhan teknologi hijau masuk, para petani di lereng Kamojang tercekik harga pupuk yang mahal hingga kelangkaan pasokan. Di sisi lain, mereka dilema lantaran lahan yang semakin resisten akibat paparan bahan kimia jangka panjang.
“Masalah utama kami dulu adalah sulit dan mahalnya pupuk, baik organik maupun anorganik,” kata Hendro saat ditemui kumparan pada Rabu (28/10/2026).
Hendro menyebut, ia bersama KTH Cikondang sempat berusaha memproduksi pupuk organik secara mandiri. Dengan komposisi kotoran hewan (kohe) sapi, kohe ayam, kohe domba, dan hijauan.
Proses produksinya mulai dari pengumpulan material dari masyarakat, pencacahan, proses pengeringan, hingga penghalusan.
Namun, hal itu bukan perkara yang mudah. Proses yang panjang, tenaga yang besar, jumlah produksi yang relatif sedikit, hingga cuaca Kamojang yang minim dari matahari jadi tantangan besar.
Revolusi Pengeringan: Dari 2 Minggu Jadi 12 JamDalam proses pembuatan pupuk organik, Hendro dkk membutuhkan waktu panjang, mulai dari proses pengumpulan bahan sekitar satu pekan, pencacahan manual 4 hari, fermentasi 21 hari, sampai proses pengeringan 14 hari.
Namun, yang jadi paling tantangan adalah proses pengeringan. Pasalnya, cuaca Kamojang cenderung dingin, menyebabkan proses pengeringan dinamis dan berisiko munculnya jamur.
“Dulu tuh lama banget (pengeringannya). Dua minggu karena situasi matahari kurang menentu,” kata Hendro.
“Kalau pengeringan manual, kadar air yang baik di bawah 20 persen, kita mentok 30 persen. Kalau kadar air di atas 20 persen, otomatis pupuk gampang rusak,” ujarnya.
Kata Hendro, dulu, dalam 2 bulan pihaknya hanya mampu memproduksi pupuk 2 ton. Namun, kini, dalam satu kali produksi bisa mencapai 40 ton. Bagaimana bisa?
Titik balik terjadi pada 2024. Melalui pemanfaatan Dargis Geotherm, muncul inovasi bertajuk Geo-Fert (Geothermal Organic Fertilizer). Inovasi ini mengusung semangat Geothermal Beyond Electricity, memanfaatkan sisa uap panas bumi (excess steam) untuk mengakselerasi produktivitas sektor pertanian.
Dengan pemanfaatan uap sisa atau uang buangan, lahirlah sebuah alat yang disebut dengan Geothermal Dry Tube.
Alat ini menggunakan panas bumi yang diatur pada suhu 60-70 derajat Celsius. Proses pengeringan pupuk yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga 2 pekan dapat dipangkas menjadi 12 jam.
“Itu merupakan alat pengering dengan memanfaatkan excess steam geothermal, di mana pupuknya apabila dimasukkan ke situ selama 6 hingga 12 jam itu bisa mengering seperti itu,” kata Community Development Officer PT Pertamina Geothermal Energy TBK Area Kamojang, Reyhana Rashel Sajida, saat ditemui kumparan.
Rashel menjelaskan, uap yang dipakai tersebut adalah uap sisa dari produksi listrik. Uap tersebut dilepas di sepanjang pipa yang dinamai PL-405.
Katanya, uap buang tersebut merupakan uap buangan yang dikeluarkan untuk menjaga kestabilan suhu dan uap yang berada dalam pipa dalam produksi listrik bersih.
“Untuk excess steam ini tidak berbahaya untuk masyarakat sekitar karena bisa dibuktikan juga dengan pipa-pipa yang ada di pinggir jalan, di pinggir kebun petani itu mereka tidak terpengaruh dengan adanya uap yang dikeluarkan,” jelas Rashel.
Dengan proses pengeringan ini, kadar air pupuk pun berada di angka 20 persen. Kondisi ini membuat penyimpanan pupuk bisa mencapai satu tahun.
Tidak hanya dukungan dengan Geothermal Dry Tube, PGE Kamojang juga memberikan bantuan berupa mesin pencacah, bak fermentasi, hingga panel surya untuk meningkatkan produktivitas petani di lereng Bandung itu.
Pangkas Biaya 40 Persen, Hasil Panen MelonjakBagi Hendro, kehadiran Geo-Fert memberikan dampak finansial yang nyata, mulai dari penghematan biaya pupuk hingga melonjaknya hasil panen.
Dari sisi penggunaan pupuk misalnya, kata Hendro, bila ia membeli satu jenis kohe saja bisa dikenakan biaya Rp 15 ribu. Bila lahan yang digarap seluas 100 meter, setidaknya ia membutuhkan dana Rp 150 ribu.
“Kalau setahun dikali 3 musim tanam, butuh berapa? Belum lagi tenaga pengolahan. Nah, kalau pakai pupuk Geo-Fert kami hanya mengeluarkan akomodasi untuk menjemput kohe dari masyarakat secara gratis, kita gantikan dengan pembersihan kandang,” katanya.
“Itu disambut baik, karena ternak juga sehat karena kandanganya bersih, tenaga untuk mengambil hijauan, tidak beli karena kita buat. Penghematan 40 persen dari sisi pupuk saja,” tuturnya.
Dampak pada hasil panen pun tak kalah impresif. Kata Hendro, peningkatannya mencapai 2 kali lipat.
“Luasan panen kentang ini misalnya 380 tumba, tumba itu kita sebut per meter ya, dulu sebelumnya hanya panen 5 ton, pas panen kali ini mencapai 8,5 ton untu yang dijual saja belum bibit ya, kalau sama bibit 9 ton, naik dua kali lipat,” jelasnya.
Hal senada juga dirasa Ilin Syaifuddin, salah satu petani di lereng Kamojang. Awalnya, Ilin hanya iseng-iseng mencoba saat ditawarkan untuk menggunakan pupuk Geo-Fert.
“Awalnya saya iseng saja nyoba 1 bungkus, dari populasi tanam sekitar 800 pohon, nah yang gak pake Geo-Fert ini sama 800 juga. Cuma untuk hasil, yang biasa kita dapat 1 pohon jadi 4-5 biji kentang, nah yang pake pupuk ini mah keluarnya 13-15 biji,” kata Ilin.
“Dari sisi ukuran juga lebih besar juga,” sambungnya.
Energi Terbarukan Dorong Sektor PanganVice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyebut Geo-Fert menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika terhubung dengan kebutuhan masyarakat.
“Di Kamojang, panas bumi ikut membantu petani mengolah limbah menjadi pupuk, merawat lagan dan menghasilkan pangan,” katanya.
“Petani adalah bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan. Melalui Desa Energi Berdikari, Pertamina berupaya menghadirkan energi terbarukan agar semakin dekat dengan kebutuhan produktif masyarakat,” jelasnya.
Asa Menembus PasarPengembangan Geo-Fert dibangun demi niat mulia, menyentuh masyarakat Kamojang secara langsung. Mulai dari petani hingga peternak hingga dapat memutar roda perekonomian dalam scope yang lebih luas.
Bagi Hendro, pupuk Geo-Fert tak boleh hanya berhenti di Kamojang saja. Tapi, harus bisa menembus pasar nasional
“Ke depannya cita-citanya bakal lebih besar (produksinya). Kita butuh puluhan truk kohe,” kata Hendro.
“Kita sudah mencari-cari beberapa peternak sapi, khusus Semarang ada peternakan. Kita sedang proses ke sana untuk kerja sama, baru secara lisan. Kan itu PT jadi agak susah meski punya kohe melimpah gak tahu dibagaimanakan, jadi kita mau coba,” jelasnya.
Niat mulia ini, didukung penuh oleh PGE Kamojang. Guna memastikan kualitas pupuk berada pada level standar SNI dan Kementan, PGE Kamojang bersama KTH menggandeng tim akademisi.
“Nah kami melakukan uji lab ini dari 2024, 2025, 2026 secara berkala untuk mengetahui apakah sudah tepat atau belum. Nah di tahun 2024 ini karena memang masih proses awal ya. Itu masih belum tepat. Jadi masih membutuhkan pelatihan,” kata Rashel.
“Maka dari itu dari pelatihan 2025 kita mulai uji lagi untuk hasilnya. Nah ternyata di hasil uji lab 2025 ini kadar airnya masih belum tepat. Nah di 2026 ini kita mulai melakukan perbaikan lagi dan dari uji lab Maret 2026 itu sudah memenuhi seluruh standar SNI dan standar Kementan,” jelas Rashel.
Asa Hendro dan KTH Cikondang pun muncul. Pupuk Geo-Fert mulai menemukan jalan untuk menembus pasar nasional.
“Jadi untuk pupuk yang diproduksi oleh KTH ini sudah sesuai dan sudah bisa untuk diizin edarkan. Maka dari itu mulai awal tahun kemarin kami juga sudah mulai proses pengurusan izin edar Geo-Fert agar bisa dipasarkan begitu,” jelasnya.






Komentar (0)