Harga Minyak Dunia Bertahan di Atas US$100, Serangan di Selat Hormuz Bikin Pasar Cemas

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Kenaikan ini membuat harga minyak mencatatkan penguatan bulanan keempat secara beruntun, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Serangan terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu kenaikan harga. Jalur laut strategis tersebut merupakan akses utama pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk.

Baca Juga :
DPR Sorot Rencana Impor 30 Juta Barel Minyak dari UEA, Ini yang Perlu Dikaji Pemerintah
Harga Minyak Tembus US$115 per Barel, Rupiah Ikut Tertekan

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Desember naik US$1,20 atau 1,04 persen menjadi US$116,08 per barel pada pukul 03.23 GMT. Kontrak Desember tersebut berakhir pada Jumat. Sementara itu, kontrak Brent yang lebih aktif untuk Januari 2027 naik US$1,39 menjadi US$112,19 per barel.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga menguat US$1,37 atau 1,34 persen menjadi US$103,37 per barel.

Sepanjang Oktober, harga Brent tercatat berpotensi mengakhiri bulan dengan kenaikan hampir 11 persen. Sementara itu, WTI diperkirakan melonjak sekitar 14 persen.

Pada Jumat, sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terkena serangan menggunakan alat peledak yang dipasang oleh sebuah kapal kecil. Informasi tersebut disampaikan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Hingga laporan tersebut disusun, belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu.

Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz masih menjadi faktor yang menjaga harga minyak tetap tinggi. “Serangan bersenjata yang terus berlanjut di sekitar Selat Hormuz di tengah keraguan terhadap jalur diplomasi yang layak, membuat harga minyak tetap tinggi karena adanya ekspektasi eskalasi konflik dalam beberapa pekan mendatang,” kata Kavonic.

Tekanan terhadap pasokan energi juga muncul setelah kelompok Houthi pada Kamis mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi di Arab Saudi. Target serangan tersebut mencakup kilang minyak terbesar di negara itu, Ras Tanura, kilang Rabigh, serta fasilitas produksi Abqaiq milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco.

Sementara itu, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat rudal jelajah yang diluncurkan Houthi menuju wilayah barat kerajaan tersebut.

Baca Juga :
Sempat Turun, Harga Minyak Dunia Kini Naik Lagi usai Serangan di Arab Saudi
Ketahanan Energi RI Bukan Cuma Soal Minyak, Ada 2 Faktor Lain yang Tak Kalah Penting
Iran Tegaskan Selat Hormuz dalam Kendalinya, Kapal Asing Terancam Rusak jika Langgar Aturan

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kondisi Terkini Medan Merdeka Selatan Usai Demo Mahasiswa Trisakti
• 19 jam lalu
0
thumb
KPK Ungkap Kerugian Negara Triliunan Rupiah dalam Kasus Dugaan Korupsi Cukai PT Djarum
• 14 jam lalu
0
thumb
Tren "kidulting", orang dewasa kembali menikmati hobi masa kecil
• 8 jam lalu
0
thumb
Bappenas lestarikan lingkungan dengan tanam pohon di Rinjani
• 9 jam lalu
0
thumb
Pemkot Makassar Benahi Jalan dan Drainase Pongtiku, U-Ditch Segera Dipasang
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.