Saat Yang Lain Cemas, Singapura Justru Kembangkan AI

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Di tengah kehawatiran publik terhadap dampak AI, Pemerintah Singapura malah gencar mengeksplorasi berbagai cara agar AI dapat lebih bermanfaat bagi industri, perusahaan, dan pekerja.

Perkembangan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) memang memunculkan sejumlah kecemasan, mulai dari potensi hilangnya pekerjaan, ancaman keamanan data pribadi, kejahatan siber, dampak buruk pada pendidikan, persoalan etika, penyebaran hoaks, hingga penyesatan informasi.

Tanpa mengesampingkan persoalan-persoalan di atas, Singapura mencoba mengambil sudut pandang dari sisi kebermanfaatan AI. Mereka mengembangkan berbagai inisiatif untuk memanfaatkan AI dalam menangani tantangan-tantangan penting industri.

AI bahkan menjadi fokus utama dalam Singapore Week of Innovation and Technology (SWITCH) 2026 yang digelar pada 27-29 Oktober 2026 di Sands Expo and Convention Center Marina Bay Sands, Singapura. Festival inovasi ini dihadiri 25.000 peserta dari 100 negara.

“Kami berharap dapat mengeksplorasi berbagai cara agar AI dapat bekerja lebih baik bagi industri, perusahaan, dan para pekerja kita, demi membangun perekonomian yang lebih inovatif, kompetitif, dan inklusif,” kata Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Energi, Perdagangan, dan Perindustrian Singapura, Gan Kim Yong, Selasa (27/10/2026) saat pembukaan SWITCH 2026 di Marina Bay Sands, Singapura.

Menurut Gan Kim Yong, Project Genome milik Google dan MatterGen milik Microsoft telah menunjukkan potensi AI dalam mempercepat penemuan material inovasi. Meski demikian, material harus disintesis, divalidasi, dan diproduksi dalam skala besar sebelum dapat digunakan oleh industri.

Mengubah terobosan ilmiah menjadi produk yang berguna secara komersial masih menjadi tantangan yang signifikan. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Singapura meluncurkan Materials Accelerator for Research and Venture Enterprise Launchpad, atau Marvel-AI. Inisiatif yang didanai Pemerintah Singapura sebesar Rp 2,1 triliun ini akan mendirikan platform terintegrasi yang menggabungkan model-model AI canggih dengan laboratorium mandiri (self-driving laboratories).

Kami berharap dapat mengeksplorasi berbagai cara agar AI dapat bekerja lebih baik bagi industri, perusahaan, dan para pekerja kita (Gan Kim Yong)

Model-model AI canggih akan mengidentifikasi material yang menjanjikan dan merancang eksperimen. Kemudian, laboratorium akan menyintesis dan mengujinya secara cepat. Untuk membawa perkembangan ini ke dalam penggunaan industri, Marvel AI akan menghubungkan para peneliti dengan perusahaan-perusahaan.

Perusahaan rintisan (startup) dan usaha kecil menengah (UKM) berkesempatan mendapatkan akses ke keahlian riset, infrastruktur, dan kapabilitas validasi yang mereka butuhkan. Hal ini akan menciptakan peluang untuk kemitraan industri, pertumbuhan perusahaan, dan usaha-usaha baru.

Upaya-upaya ini tentu membutuhkan komitmen dan dukungan. Selama enam bulan terakhir, Enterprise Singapore melibatkan berbagai perusahaan dan pakar industri untuk mengidentifikasi pelaku bisnis yang memiliki komitmen serta rencana konkret untuk menjalani perjalanan transformasi ini.

“Hari ini, saya dengan senang hati mengumumkan angkatan pertama yang terdiri dari 24 perusahaan dari berbagai sektor di bawah inisiatif Champions of AI,” ucap Gan Kim Yong.

Para champion ini berkomitmen untuk mengembangkan tenaga kerja mereka, menciptakan lapangan kerja baru, merancang ulang peran pekerjaan, dan membangun kapabilitas AI di seluruh organisasi mereka. Investasi mereka pada sumber daya manusia akan sangat penting untuk memanfaatkan teknologi secara efektif.

Pada akhirnya, kehadiran AI tidak sekedar direspons semata-mata sebagai ancaman terhadap hilangnya lapangan pekerjaan, tetapi momen untuk membangun kesadaran baru. Dengan hadirnya AI, para pemberi kerja perlu mempertimbangkan bagaimana pekerjaan akan berubah dan membekali pekerja dengan keterampilan serta kepercayaan diri untuk menghadapi kebutuhan yang berubah ini.

Baca Juga25.000 Pelaku Ekosistem Inovasi Global Bertemu di Singapura

“Perancangan ulang pekerjaan dan pelatihan harus dimulai sejajar dengan perubahan proses bisnis, bukan di akhir proses. Kami ingin AI membantu orang-orang mengurangi waktu untuk tugas-tugas rutin dan memberikan lebih banyak waktu pada pekerjaan yang memanfaatkan pertimbangan, kreativitas, dan keahlian mereka.” tambahnya.

Membantu manusia

Upaya ini salah satunya dilakukan oleh The Robot Company. Perusahaan yang berkantor pusat di Amerika Serikat ini merancang robot berbasis AI untuk melakukan tugas-tugas tertentu yang sebaiknya tidak dilakukan oleh manusia.  

“Saat ini (dibutuhkan) banyak pekerjaan untuk memindahkan, mengambil, menempatkan barang atau menata ulang stok pada jarak yang cukup jauh. Untuk menjalankan tugas-tugas yang sangat rutin ini, kami menugaskan robot,” kata pendiri sekaligus Chief Operating Officer (COO) The Robot Company Daniel NG.

Penggunaan robot juga sangat penting ketika manusia menghadapi risiko keselamatan dan bahaya yang cukup besar, seperti di perusahaan tambang misalnya. Dengan memakai robot, maka perusahaan dapat mencegah bahaya yang bisa menimpa pekerja sekaligus tetap mempertahankan pekerjaan di sana dengan menggunakan robot yang dikendalikan secara jarak jauh.

Daniel membayangkan ke depan investasi pengembangan robot menjadi lebih murah, lebih mudah diadopsi, dan lebih banyak digunakan di lingkungan yang memang seharusnya membutuhkan mereka, seperti tempat berbahaya, operasi pencarian dan penyelamatan, serta bantuan bencana.

“Menurut saya, robot akan menggantikan jenis pekerjaan spesifik tertentu, dan kemudian manusia akan melakukan jenis pekerjaan lainnya. Bukan karena kita tidak mampu melakukannya, tetapi karena dunia ini sangat besar dan ada begitu banyak bisnis serta industri yang perlu kita terapkan robot di dalamnya,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan Huy (Yuuki ) Bui, pengembang sekaligus insinyur Menlo. Menurutnya, sejauh ini, perusahaan-perusahaan yang bermitra dengan Menlo sangat yakin bahwa tidak ada robot berbasis AI yang dapat menggantikan pekerja manusia sepenuhnya. “Dan kami sepakat dengan hal tersebut,” ucapnya.

Yuuki tidak berpikir AI akan menguasai dunia. Namun, iya meyakini bahwa suatu saat kita pasti akan bertransisi ke skenario di mana manusia dan AI berdampingan. “Lagi pula, robot ini memiliki tombol merah besar di bagian belakangnya. Jika mereka mencoba menguasai dunia, tinggal tekan saja tombol itu!,” papar Yuuki sembari tertawa saat mengendalikan robot Asimov 1.

Menlo merancang robot ber-agen (agentic robot), yaitu robot yang ketika diberi tugas akan menyelesaikan tugas tersebut secara mandiri. Begitu seseorang memberi perintah (prompt), maka robot itu akan mencoba menyelesaikannya. Bahkan, apabila ia melakukan kesalahan, maka seseorang dapat menegurnya dan robot tersebut akan mencari tahu cara melakukannya dengan benar dan terus memperbaikinya.

Inovasi berbasis AI juga dikembangkan WaveScan, perusahaan yang berfokus pada teknologi pencitraan elektromagnetik untuk pengujian dan inspeksi struktur bangunan tanpa merusak bangunan (non destructive testing). “Alat ini bisa melihat struktur bangunan, besi beton,  rongga, hingga retakan. Dengan informasi tersebut, insinyur sipil dan insinyur profesional dapat mengambil keputusan tentang cara melakukan perbaikan atau apakah bangunan tersebut sudah mematuhi pedoman keselamatan bangunan atau belum,” kata Kush Agarwal, CEO dan pendiri WaveScan.

Alat ini ibaratnya mirip proses pemindaian tubuh menggunakan sinar X atau CT scan. Dengan tingkat resolusi dan akurasi gambarnya, maka seseorang dapat melihat cacat yang sangat kecil atau objek yang sangat kecil di dalam bangunan.

“Di Singapura, kami telah mengembangkan ini selama delapan tahun terakhir dan telah menerapkannya di berbagai negara. Teknologi ini telah melalui serangkaian regulasi keselamatan, bersertifikat, sepenuhnya aman digunakan, dan telah diterapkan di bangunan tempat tinggal, bangunan komersial, infrastruktur sipil, hingga pabrik manufaktur,” paparnya.

SWITCH 2026 juga menghadirkan CRecTech, perusahaan rintisan dari National University of Singapore yang mengembangkan teknologi untuk mengubah limbah biogas menjadi bio-metanol terbarukan. “Kami bermitra dengan Pertamina untuk mengembangkan teknologi ini, yaitu dengan mengubah biogas menjadi biometanol secara efisien dan terjangkau,” ucap  CEO CRecTech Lim Kang Hui.

Menurut Lim, pabrik kelapa sawit dan penghasil limbah organik lainnya seringkali memiliki biogas yang kurang dimanfaatkan. Di sisi lain, perusahaan pelayaran dan sektor industri membutuhkan bahan bakar rendah karbon yang terjangkau. Karena itulah, CRecTech  mengembangkan sebuah katalis yang bisa menyederhanakan proses konvensional empat tahap menjadi hanya dua tahap.

“Proses ini mengurangi biaya produksi hingga 50 persen dan memangkas emisi CO₂ hingga 93 persen. Kami memberi nilai tambah dari limbah, mengurangi emisi, serta memperkuat pasokan bahan bakar lokal melalui sistem modular langsung di lokasi sumber limbah,” tambahnya.

Berbagai macam inovasi diwadahi Pemerintah Singapura dan beberapa contoh di atas hanyalah sebagian kecil di antaranya. Karena itulah, SWITCH mencoba menyatukan banyak mitra yang dapat mengubah berbagai inovasi dan teknologi menjadi hasil yang nyata.

Pada ajang SWITCH 2026 digelar SLINGSHOT, kompetisi pitching perusahaan rintisan teknologi mendalam yang telah digelar sejak 2017 silam. Jumlah pendaftarnya terus meningkat dari sekitar 1.000an pada tahun 2017 menjadi lebih dari 5.000 pada 2026.

Tahun ini, Miraqules, perusahaan rintisan dari India terpilih sebagai pemenang utama (grand winner) dengan inovasi biomaterial StopBleed® yang telah dipatenkan. Produk ini dirancang untuk menghentikan pendarahan dalam waktu 60 detik. Miraqules juga meraih penghargaan pemenang kategori Health and Biomedical.

Selama 10 tahun terakhir, SLINGSHOT telah berfungsi sebagai batu loncatan bagi perusahaan rintisan yang berupaya mengatasi berbagai tantangan mendesak di dunia, mencakup sektor-sektor keberlanjutan, pelayanan kesehatan, manufaktur, ketahanan pangan, dan AI.

Baca JugaManusia Menentukan Arah AI

Di hadapan para pelaku ekosistem inovasi dunia yang berkumpul di Marina Bay Sands, Gan Kim Yong menyampaikan, kita harus bisa mengubah kapabilitas AI menjadi peluang baru bagi bisnis dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik bagi masyarakat. “Inilah cara kita membangun perekonomian yang lebih inovatif, kompetitif, dan inklusif,” pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
3 Minuman Manis Alami Tanpa Stevia untuk Diet
• 21 jam lalu
0
thumb
Jaga Marwah San Siro, Ini Kemegahan Desain Stadion Baru Inter Milan dan AC Milan
• 12 jam lalu
0
thumb
Prediksi Java United Vs Bhayangkara FC di BRI Super League: Tamu Mau Tiga Poin dan Lindungi Rekor Unbeaten
• 10 jam lalu
0
thumb
Renovasi GBK Sampai April 2027: Timnas Indonesia dan Persija Pindah Markas, Konser BTS Tetap Jalan
• 2 jam lalu
0
thumb
Atletico Madrid Tolak Lepas Alex Baena ke Arsenal pada Januari
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.