Komandan Batalyon TPNPB OPM dan Dua Anggotanya Ditangkap di Maybrat

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Papua Barat Daya: Satuan Tugas (Satgas) Yonif 9 Marinir di bawah kendali Komando Operasi Gabungan Wilayah Pertahanan (Koops Habema) menangkap tiga orang diduga anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Aifat Timur Jauh, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Ketiga orang tersebut terdiri atas Komandan Batalyon TPNPB OPM Aikum, Matius Aisasior, wakilnya, Yeremias Aisasior, serta seorang anggota bernama Zakarias Aikingking.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Lucky Avianto menjelaskan penangkapan bermula ketika personel Yonif 9 Marinir mendeteksi keberadaan Matius Aisasior. Pasukan tersebut sebelumnya telah memantau pergerakan kelompok OPM di wilayah Papua Barat Daya.

"Matius terdeteksi keluar dari kawasan hutan Aisnak, Distrik Moskona Bintuni, yang disebut selama ini menjadi tempat persembunyian kelompoknya," kata Lucky dalam keterangannya, Jumat, 30 Oktober 2026.

Personel TNI kemudian mengikuti pergerakan Matius hingga ke sebuah rumah di Kampung Franeway, Distrik Aifat Timur Jauh, Kabupaten Maybrat.
 

Baca Juga :

Korps Marinir Rebut Senjata Diduga Milik KKB di Yahukimo


Di rumah tersebut, pasukan mendapati Yeremias Aisasior dan Zakarias Aikingking sedang menunggu kedatangan Matius. Personel Yonif 9 Marinir kemudian melakukan penyergapan secara persuasif hingga ketiganya menyerah tanpa perlawanan.

Matius Aisasior bersama kelompoknya disebut berafiliasi dengan jaringan OPM di bawah pimpinan Kopitua Heluka. Kelompok tersebut diidentifikasi sebagai pihak yang diduga terlibat dalam sejumlah tindak kekerasan dan aksi teror, mulai dari penyerangan pos keamanan dan pekerja proyek jalan Trans Bintuni hingga intimidasi serta kekerasan terhadap masyarakat Orang Asli Papua.


Senjata diduga milik anggota KKB di wilayah Kali Braza, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, disita Korps Marinir. ANTARA/HO-Pen Marinir

Lucky mengimbau para pimpinan, anggota, dan simpatisan OPM yang masih berada di hutan untuk menghentikan aktivitas bersenjata dan menyerahkan diri. Ia juga mengajak mereka kembali bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk bersama-sama membangun Papua.

Namun, Lucky menegaskan TNI tetap akan mengambil tindakan tegas apabila upaya persuasif tidak diindahkan. Menurut dia, tindakan tersebut akan dilakukan secara terukur dengan berpedoman pada undang-undang, peraturan yang berlaku, serta rules of engagement (ROE).

Ia memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prinsip utama dalam setiap pelaksanaan tugas TNI, terutama ketika menghadapi situasi mendesak. Prinsip salus populi suprema lex esto atau keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi, kata dia, menjadi pedoman pasukan dalam menghadapi kelompok bersenjata OPM. (Michael B Kabuare)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Demi Keamanan Data, Kemkomdigi Imbau Warga Tak Salah Akses Web Perlinsos
• 10 jam lalu
0
thumb
Top! GOTO Sukses Cetak Laba Bersih Tiga Kuartal Beruntun
• 23 jam lalu
0
thumb
Teater Nyonya Ati Soetji Siap Digelar, Maudy Koesnaedy dapat Peran Antagonis
• 1 jam lalu
0
thumb
Gugatan PTUN Suket Pendidikan SMA Gibran Dicabut, Denny Indrayana Dituding Politisasi Hukum
• 18 jam lalu
0
thumb
OJK Beri Insentif bagi Asuransi, Penjaminan, dan Dana Pensiun yang Berinvestasi di Sektor Hijau
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.