Wisata Kuliner Murah bagi Pekerja Urban

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Malam hari sepulang kerja, Cahyo (26) tak langsung pulang ke indekos. Ia masih nongkrong dengan beberapa rekan kerjanya di warung dekat kantor. Rasa lelah dan penat tak menghentikannya untuk mencari hiburan di luar kantor. 

Pemuda asal Solo itu sudah tujuh tahun merantau di Jakarta. Namun, Cahyo tak puas jika kehidupannya hanya berkutat seputar kantor dan kos. Ia butuh ruang lain. Sebagai seseorang yang ekstrover, Cahyo mengaku, jika langsung istirahat di kos, pikirannya justru tidak tenang.

“Mau secapek apa pun di kantor, kalau belum nongkrong di angkringan dan main capsa sama temen-temen, badan tuh rasanya gelisah. Kayak ada yang kurang kalau hari itu belum nongkrong,” ujarnya saat dihubungi pada Rabu (28/10/2026). 

Selepas nongkrong dengan rekan kerjanya di warung, Cahyo tak langsung pulang. Meski jam sudah menunjukkan pukul 9, badannya justru semakin berenergi ketika akan berkumpul ke destinasi kedua yaitu angkringan di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Di sana, ia biasa bercengkerama dengan komunitas Orang Muda Katolik (OMK) Gerejanya.  

Di perantauan, Cahyo sudah tergabung bersama komunitas OMK sejak 2022 Komunitas yang berisi pemuda-pemudi seiman itu, biasa melakukan aktivitas bersama seperti paduan suara. Biasanya, selepas latihan paduan suara atau aktivitas kepemudaan di gereja, malam itu mereka akan lanjut bergeser ke angkringan di dekat Gereja.

“Aku memilih angkringan untuk mengobati rasa rindu akan kampung halaman. Selain itu, harganya juga murah dan dekat dari gereja,” ujarnya. 

Tak hanya bercengkerama, Cahyo dan kawan-kawan OMK biasanya bermain kartu capsa. Bagi Cahyo, permainan ini adalah hal baru. Sebelumnya ia masih asing dengan permainan ini, tetapi semua temannya bermain capsa. Tak mau ketinggalan, akhirnya ia pun meminta diajari cara bermain capsa oleh teman-temannya.

Biasanya, permainan capsa berlangsung dari larut malam hingga jam satu dini hari. Cahyo tak merasa lelah meski esok harinya ia harus berangkat kerja lagi di jam enam pagi. Ia justru merasa ada kepuasan batin jika sudah nongkrong. Ritual ini dijalaninya selama kurang lebih sembilan bulan belakangan. Intensitas nongkrong di angkringan biasa dijalani selama kurang lebih tiga kali dalam seminggu. 

Murah dan terjangkau

Sama seperti Cahyo, Elmer (27) juga butuh tempat untuk curhat di luar lingkungan kantornya. Sebagai pekerja korporat, ia mengaku butuh komunitas lain yang dapat mengisi aktivitasnya di luar pekerjaan. Pemuda asal Tegal ini memilih untuk nongkrong bersama komunitas OMK-nya daripada langsung pulang beristirahat di indekos. 

Meski Elmer mampu untuk nongkrong di tempat lain yang lebih prestisius seperti kedai kopi atau restoran, ia lebih memilih angkringan karena lebih terjangkau. Selain itu, ia mengaku, saat ini kebutuhan pokok semakin menguras isi kantongnya. Untuk itu, ia lebih memilih nongkrong di tempat yang terjangkau.

“In this economy, untuk orang-orang ekstrover sepertiku yang butuh sering ketemu dengan teman-teman, kalau keseringan di cafe akan menyulitkan karena biaya yang keluar lebih banyak,” ujarnya saat dihubungi pada Rabu (28/10/2026). 

Baca Juga”Nongkrong” di Angkringan

Selain murah, angkringan juga menawarkan berbagai pilihan minuman dan makanan. Elmer biasanya memesan es teh kempul, minuman kesukaannya. 

Nongkrong di angkringan sudah menjadi bagian dari rutinitasnya selepas pulang kerja dan beraktivitas di gereja bersama teman-teman OMK. Meski Elmer memiliki teman nongkrong lain, tetapi intensitasnya bertemu dengan teman-teman OMK jauh lebih sering. Ia merasa nyambung dan bisa diterima di sini sejak bergabung di tahun 2023. 

Vandi (33) pun merasa demikian, ia juga merasa punya tempat di komunitas OMK-nya. Semenjak usianya menginjak kepala tiga, ia merasa banyak kehilangan teman yang kebanyakan telah menikah dan berkeluarga sehingga sudah sulit untuk diajak nongkrong. 

Baca JugaRuang Ketiga yang Mencuri Perhatian

“Semakin tua, saya merasa sirkel saya mengecil. Untuk itu saya berkomunitas di OMK ini. Saya senang dipertemukan dengan teman-teman dengan semangat yang sama,” ujarnya. 

Meskipun Vandi memiliki pekerjaan yang cukup berat di kantornya, ia merasa butuh untuk lepas dari pekerjaan dan bertemu teman-teman. Sebagai Head Purchasing Regional, ia membawahi beberapa kantor di bawahnya. Biasanya, ia baru pulang kerja di jam 5 sore. Nongkrong bersama teman-teman OMK biasanya berlangsung sampai larut malam. Esok harinya, ia tetap harus berangkat kerja kembali di jam 7. 

Di komunitas OMK, Vandi menjadi pelatih paduan suara. Ia mengaku, alasannya tetap memilih berkomunitas di OMK adalah selain untuk melepas penat, juga bagian dari komitmen pelayanannya bagi Gereja. 

“Saya ingin menyibukkan diri dengan aktivitas lain di luar pekerjaan tapi enggak keluar banyak duit. Angkringan jadi tempat yang tepat. Nongkrongnya dapet, gak bikin capek. Malah bikin seneng tapi gak perlu menghabiskan duit,” ujar Vandi.

Selain angkringan, gulai tikungan (gultik) di kawasan Blok M, Jakarta Selatan juga menjadi tempat persinggahan anak muda sepulang kerja. Pauline (23) mengaku sering mencari wisata kuliner di daerah Blok M yang terjangkau. Awalnya ia mengetahui gultik dari laman media sosial. Tertarik mencobanya, kini ia jadi berlangganan karena harganya cukup terjangkau.

”Menurutku makanan di Blok M mahal-mahal ya, jadi saya lebih sering mencari makanan yang terjangkau, tidak lebih dari Rp 30.000. Di sisi lain, gultik juga menurut saya porsinya pas,” ujarnya saat ditemui di Gultik Blok M 07, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026) malam.

Gultik juga menjadi pilihan kuliner terjangkau bagi David (24). Ia merupakan pekerja dengan kontrak tak tentu di salah satu perusahaan di Jakarta. Baginya yang berpenghasilan UMP, wisata kuliner gultik bisa menjadi pilihan pas yang tidak begitu menguras kantong.

”Selain rasanya yang enak, harganya juga terjangkau, hanya Rp 10.000 per porsi. Saya rasa makanan ini pas untuk saya saat lagi nongkrong sama teman-teman,” ujarnya.

Meski terlihat ramai, tetapi Harsono (40), penjual Gultik M 07 di Blok M mengaku jika akhir-akhir ini jumlah pembeli menurun. Biasanya, di akhir pekan, dagangan gultiknya ramai pembeli. Namun belakangan, ia merasa penjualannya menurun.

Pemilihan tempat
Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, Wida Ayu Puspitosari (36) menyatakan, ketika sekelompok pekerja formal urban memilih angkringan dan gultik sebagai ruang ketiga melepas penat, artinya mereka punya referensi untuk memilih tempat lain.

Menurutnya, ketika sekelompok kelas pekerja ini bisa memilih, mereka memiliki referensi gaya hidup atau selera. Namun, dengan mereka memilih angkringan, persoalan ini tidak semata-mata sebagai selera saja. Fenomena ini menunjukkan, kelas menengah urban sedang tergerus daya belinya. 

Angkringan yang selama ini identik sebagai tempat para pekerja informal berkumpul, kini bergeser menjadi tempat berkumpulnya pekerja formal dengan gaji upah minimum provinsi (UMP) atau di sedikit di atas UMP. Menurut Wida, hal ini justru tidak bisa diartikan bahwa angkringan sedang ‘naik kelas’. Sebaliknya, fenomena ini harus dilihat bahwa kelas pekerja sedang mengalami penyusutan gaya hidup. 

“Kita perlu berhati-hati untuk tidak meromantisasi angkringan, tapi pada saat yang sama, fenomena ini bisa dibaca sebagai suatu kontra sosial. Bahwa masyarakat kita sedang menemukan cara agar tetap bahagia dan terhubung di tengah pilihan yang semakin menyempit,” ujarnya.

Dalam melihat fenomena ruang ketiga yang dirumuskan oleh sosiolog asal Amerika, Ray Oldenburg, Wida sedikit menggeser pemahaman ruang ketiga. Dalam pengertian Oldenburg, ruang ketiga merupakan ruang yang memungkinkan terbentuknya relasi sosial di luar ruang pertama (tempat tinggal) dan ruang kedua (tempat kerja). Ruang ketiga menurut pengertiannya memungkinkan individu untuk menciptakan interaksi dengan individu dan tercipta relasi baru. 

Wida melihat, pemahaman ruang ketiga di Indonesia lebih luas. Terutama dalam konteks Cahyo dan kawan-kawannya, angkringan bukan ruang ketiga. Namun, komunitasnya lah yang menjadi ruang ketiga mereka. Angkringan hanya sekadar alamatnya saja menurutnya. 

Pemahaman akan ruang harus dilihat secara lebih luas. Posisi ruang di konteks ini bukan sebagai sesuatu yang membentuk interaksi mereka, tetapi mereka membutuhkan angkringan untuk bertemu secara rutin. 


Kesehatan mental

Secara sosiologis, nongkrong di angkringan bisa dibaca sebagai bentuk solidaritas yang terus diproduksi melalui ritual sehari-hari (everyday practices). Dalam melihat fenomena Cahyo dan teman-temannya, Wida melihat, komunitas yang berawal dari ritual formal keagamaan, kini berkembang menjadi perilaku nonformal seperti nongkrong untuk menjaga kedekatan. 

Nongkrong di angkringan membuat mereka dapat sedikit bernapas lega dari ruang pertama (pekerjaan) dan ruang kedua (rumah) dan menurunkan tuntutan sosial dari identitas yang mereka miliki. Dengan teman tongkrongan, mereka tak perlu banyak berpura-pura dan seolah tampil baik-baik saja karena pada saat yang sama mereka justru sedang meniti kerentanan. 

Lebih lanjut, Wida juga mengkritik wacana kesehatan mental yang selama ini digencarkan ekonomi kapitalistik. Menurutnya, apa yang digencarkan industri wellness saat ini menaruh beban konsumsi kepada konsumen yang seringkali membayangkaan kesehatan mental sebagai me time dan konsumsi wellness. 

Ia menyediakan tawaran lain untuk melihat kesehatan mental sebagai ruang yang dirawat bersama secara kolektif. Bahwa kesehatan mental dirawat setiap minggu, di bangku angkringan yang sederhana, bersama orang-orang yang sama. Menurutnya kesehatan mental sifatnya lebih relasional, rutin, dan membosankan, tetapi ini yang justru menjadi penting. 

Infrastruktur manusia

Menurut Wida, dalam pembangunan infrastruktur ruang ketiga, Pemerintah perlu pertama-tama memperhatikan infrastruktur sosial. Lebih penting untuk menciptakan kondisi agar ruang-ruang murah seperti angkringan dan gultik bisa bertahan sekaligus mempermudah akses bagi warga untuk menjangkaunya.

Wida memandang ada tiga permasalahan mendasar yang perlu dibenahi pemerintah sebelum membangun infrastruktur ruang ketiga, yaitu biaya hidup, waktu, dan ketersediaan ruang yang legal.

”Jika pemerintah membangun ruang secantik apa pun, tidak otomatis menyelesaikan masalah karena warga belum tentu memiliki uang dan energi yang tersisa untuk menikmati ruang tersebut,” ujarnya.

Pekerja-pekerja di kota menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya untuk bekerja, commuting, mengerjakan pekerjaan domestik, dan mencari tambahan penghasilan. Ruang ketika tidak hanya membutuhkan tempat tetapi juga waktu dan energi.

Lebih lanjut Wida juga menekankan ruang ketiga yang tumbuh dari ruang informal jangan sampai digusur. Sebab, ruang yang secara resmi disediakan belum tentu menjadi ruang sosial yang mapan.

”Ruang-ruang yang tumbuh jadi bawah seringkali justru lebih berhasil, tapi ironisnya ruang ini lah yang paling rentan terhadap penertiban dan penataan.”





Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.147 per USD
• 42 menit lalu
0
thumb
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Lagi, Hari Ini Jadi Rp2.546.000 per Gram
• 7 jam lalu
0
thumb
Sikapi Polemik PPP, Agus Suparmanto Bersama Kyai dan Habaib Gelar Istighosah di Kantor DPP
• 23 jam lalu
0
thumb
Putin Akui Ingin Perbaiki Hubungan Rusia dengan Negara-negara Eropa
• 6 jam lalu
0
thumb
Prabowo Minta Para Atlet Tak Cepat Puas: Kita Berjuang Lebih Keras Lagi
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.