JAKARTA – Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) RI, Nugroho Sulistyo Budi, mendorong penguatan kerja sama Asean–Jepang dalam menghadapi ancaman siber. Mengingat perkembangan Agentic Artificial Intelegent (AI) yang menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi keamanan siber.
Menurut Nugroho, AI tidak hanya berperan sebagai alat pertahanan (Shield), tetapi juga dapat menjadi sasaran serangan maupun dimanfaatkan sebagai instrumen serangan (Weapon). Untuk itu, diperlukan penguatan tata kelola AI, penerapan prinsip Security by Design, serta pengelolaan risiko secara proaktif guna membangun ekosistem digital yang aman dan tangguh dalam mengantisipasi ancaman tersebut.
Setidaknya ada tiga pilar kerja sama kerja sama regional, yaitu collaboration, capacity, dan connectivity. Ketiganya menjadi landasan untuk memperkuat pertukaran informasi, meningkatkan kapasitas, dan mempererat koordinasi antarnegara dalam menghadapi ancaman siber lintas batas.
Ancaman siber tidak mengenal batas negara. Kolaborasi dan komitmen bersama menjadi kunci untuk mewujudkan ruang digital yang aman, tepercaya, dan tangguh. Di kesempatan itu, Kepala BSSN juga menerima penghargaan kategori kepemimpinan unggul (Outstanding Leadership).
Indonesia menegaskan komitmen BSSN untuk terus mendorong kerja sama ASEAN–Jepang dalam memperkuat ketahanan siber kawasan, termasuk menghadapi risiko keamanan yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi AI dalam forum tersebut. Diketahui, AJCCA Conference merupakan forum tahunan yang mempertemukan perwakilan badan siber dan kementerian yang menangani keamanan siber, asosiasi industri keamanan siber, akademisi, serta praktisi dari negara-negara Asean dan Jepang. Selain itu, menjadi wadah untuk memperkuat dialog, berbagi pengetahuan, dan mendorong kerja sama dalam menghadapi tantangan keamanan siber.
(Arief Setyadi )





Komentar (0)