Depok, Jabar (ANTARA) - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Kiki Verico mengatakan Indonesia perlu mengintegrasikan strategi perdagangan internasional dan investasi untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
"Integrasi tersebut dinilai penting agar aktivitas perdagangan tidak hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri domestik, penciptaan lapangan kerja, serta transformasi ekonomi yang berkelanjutan," kata Kiki Verico dalam keterangan tertulisnya, Kamis.
Menurut Kiki, perubahan tatanan perdagangan global menuntut Indonesia menyesuaikan strategi ekonominya.
“Perdagangan internasional tidak lagi dapat dipandang semata sebagai aktivitas ekspor dan impor, tetapi harus diintegrasikan dengan investasi untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri melalui pengolahan produk, penguatan industri dan pengembangan aktivitas ekonomi domestik, yang harapannya dapat memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” papar Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI) tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kualitas kebijakan ekonomi turut ditentukan oleh kualitas institusi, termasuk aspek hukum dan regulasi. Dari perspektif makroekonomi, salah satu indikator penting yang dapat digunakan adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yaitu
perbandingan antara investasi yang ditanamkan dengan output yang dihasilkan.
Baca juga: Ekonom sebut pengambilan kebijakan jadi ujian independensi BI
Baca juga: Ekonom UI: Stabilitas rupiah dan efisiensi investasi kunci lolos MIT
Menurut dia, Indonesia perlu menjaga ICOR pada kisaran lima hingga enam persen guna memastikan investasi mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang optimal.
Sebagai contoh, Kiki menyoroti industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang hingga semester I tahun 2026 telah menyerap sekitar 3,8 juta tenaga kerja dan mencatat nilai ekspor sebesar 4,85 miliar dolar AS.
Menurut dia, sektor dengan daya serap tenaga kerja tinggi perlu terus diperkuat karena tidak hanya berkontribusi terhadap ekspor, tetapi juga menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi pendukung di sekitarnya.
“Ketika sebuah industri berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri itu sendiri, tetapi juga oleh berbagai sektor penunjang, mulai dari usaha indekos, toko kebutuhan sehari-hari, hingga layanan transportasi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengarahkan investasi pada sektor-sektor yang selama ini masih bergantung pada impor.
Komoditas seperti produk daging maupun kedelai, misalnya, dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar apabila didukung investasi pada rantai produksi dan pengolahannya di Indonesia.
Selain itu, pemerintah perlu terus mendorong perusahaan nasional memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh negara mitra maupun pasar tujuan ekspor agar daya saing produk Indonesia semakin meningkat di pasar global.
Baca juga: UI dan SUFE jajaki kemitraan strategis dalam bidang ekonomi dan bisnis
Baca juga: Ekonom UI nilai perampingan anak usaha tingkatkan fokus bisnis BUMN
"Integrasi tersebut dinilai penting agar aktivitas perdagangan tidak hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri domestik, penciptaan lapangan kerja, serta transformasi ekonomi yang berkelanjutan," kata Kiki Verico dalam keterangan tertulisnya, Kamis.
Menurut Kiki, perubahan tatanan perdagangan global menuntut Indonesia menyesuaikan strategi ekonominya.
“Perdagangan internasional tidak lagi dapat dipandang semata sebagai aktivitas ekspor dan impor, tetapi harus diintegrasikan dengan investasi untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri melalui pengolahan produk, penguatan industri dan pengembangan aktivitas ekonomi domestik, yang harapannya dapat memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” papar Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI) tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kualitas kebijakan ekonomi turut ditentukan oleh kualitas institusi, termasuk aspek hukum dan regulasi. Dari perspektif makroekonomi, salah satu indikator penting yang dapat digunakan adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yaitu
perbandingan antara investasi yang ditanamkan dengan output yang dihasilkan.
Baca juga: Ekonom sebut pengambilan kebijakan jadi ujian independensi BI
Baca juga: Ekonom UI: Stabilitas rupiah dan efisiensi investasi kunci lolos MIT
Menurut dia, Indonesia perlu menjaga ICOR pada kisaran lima hingga enam persen guna memastikan investasi mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang optimal.
Sebagai contoh, Kiki menyoroti industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang hingga semester I tahun 2026 telah menyerap sekitar 3,8 juta tenaga kerja dan mencatat nilai ekspor sebesar 4,85 miliar dolar AS.
Menurut dia, sektor dengan daya serap tenaga kerja tinggi perlu terus diperkuat karena tidak hanya berkontribusi terhadap ekspor, tetapi juga menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi pendukung di sekitarnya.
“Ketika sebuah industri berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri itu sendiri, tetapi juga oleh berbagai sektor penunjang, mulai dari usaha indekos, toko kebutuhan sehari-hari, hingga layanan transportasi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengarahkan investasi pada sektor-sektor yang selama ini masih bergantung pada impor.
Komoditas seperti produk daging maupun kedelai, misalnya, dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar apabila didukung investasi pada rantai produksi dan pengolahannya di Indonesia.
Selain itu, pemerintah perlu terus mendorong perusahaan nasional memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh negara mitra maupun pasar tujuan ekspor agar daya saing produk Indonesia semakin meningkat di pasar global.
Baca juga: UI dan SUFE jajaki kemitraan strategis dalam bidang ekonomi dan bisnis
Baca juga: Ekonom UI nilai perampingan anak usaha tingkatkan fokus bisnis BUMN






Komentar (0)