Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan belum memiliki rencana untuk menghentikan izin atau memberlakukan moratorium pembangunan smelter pemurnian bauksit menjadi alumina.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan bahwa kapasitas produksi alumina nasional saat ini mencapai 7-8 juta ton per tahun. Sementara itu, kebutuhan aluminium domestik tercatat sebesar 1,4 juta ton.
"(Produksi) alumina sekarang antara 7 sampai 8 juta ton. Untuk kebutuhan aluminium nasional kita sekitar 1,4 juta ton," kata Tri usai konferensi pers Minerba Convex 2026 di Jakarta, Kamis, (29/10).
Tri menambahkan, dari total kebutuhan aluminium domestik sebesar 1,4 juta ton tersebut, baru sekitar 300 ribu ton yang mampu dipenuhi oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum.
Oleh karena itu, Tri menegaskan belum ada wacana penghentian izin sementara pembangunan smelter alumina, terlebih kewenangan perizinan industri pengolahan juga berada di bawah Kementerian Perindustrian.
Kendati demikian, ia sepakat bahwa pengawasan terhadap jumlah smelter bauksit tetap krusial agar tidak mengalami masalah kelebihan pasokan (oversupply) seperti pada komoditas nikel.
"Sementara ini belum ada rencana moratorium smelter alumina, dan nanti penataannya juga melibatkan Kementerian Perindustrian," jelasnya.
Sebelumnya, pihak Inalum mendorong pemerintah membatasi kuota dan izin smelter alumina untuk mencegah depresiasi cadangan bauksit yang terlalu cepat.
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum Arif Haendra mengusulkan agar kapasitas smelter disesuaikan secara bertahap dengan kebutuhan dalam negeri. Menurutnya, jika izin pemurnian sebesar 10 juta ton per tahun beroperasi penuh, cadangan bauksit Indonesia sekitar 3 miliar ton di Kalimantan Barat berpotensi tergerus habis dalam 50 tahun.
"Tujuannya supaya sumber daya alam tidak cepat habis dan bisa dinikmati generasi mendatang. Kalau kapasitas langsung melonjak ke 10 juta ton, saya khawatir kejadian oversupply seperti nikel akan terulang," ujar Arif, Selasa, (27/10).






Komentar (0)