JAKARTA — Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Marsudi Syuhud menghadiri pertemuan Internasional untuk Perdamaian ke-40 International Meeting for Peace yang diselenggarakan oleh Komunitas Sant'Egidio di Colle del Paradiso, Sala Stampa, Assisi, Italia.
Kiai Marsudi juga berpidato dalam forum akbar lintas agama yang mengusung tema Unarmed and Disarming Peace (Pemerintahan Damai Tanpa Senjata dan Melucuti Senjata) tersebut.
Dia menyoroti realitas global yang tengah terkoyak oleh berbagai konflik bersenjata, mulai dari Gaza, Myanmar, Ukraina, hingga kawasan Timur Tengah seperti Iran, Palestina, dan Yaman.
"Hari ini, kita hidup di dunia yang tengah berperang. Pertanyaannya di manakah agama? Apakah agama bagian dari perang, atau bagian dari perdamaian?" ungkap Kiai Said di hadapan para pemuka agama dan akademisi dunia, Kamis (29/10/2026).
Kiai Marsudi mengelaborasi pandangannya melalui empat pendekatan utama: dalil Al-Qur'an dan Hadis, teladan sejarah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, pandangan para ulama, serta prinsip-prinsip yurisprudensi (fiqh).
Dia juga menyoroti "Model Madinah" sebagai preseden historis kepemimpinan majemuk pertama di dunia. Konstitusi Madinah (Sahifah Al-Madinah) yang dicetuskan pada tahun 622 M terbukti mampu merangkul keragaman umat Islam, Yahudi, Kristen, Majusi, dan pagan Arab dalam ikatan damai dan kebebasan beragama, 400 tahun lebih awal sebelum lahirnya Magna Carta di Eropa.
"Jika Madinah bisa hidup damai dengan berbagai agama 1.400 tahun yang lalu, mengapa Gaza, Ukraina, Iran, Yaman, Palestina, dan tempat-tempat lainnya tidak bisa hidup damai hari ini?," tegasnya.
Dia juga menyerukan agar dunia tidak mengimpor perang ke Asia, melainkan mengekspor nilai-nilai perdamaian dari Asia.





Komentar (0)