Siapa bilang Gen Z hanya jago bermain media sosial dan kurang tangguh menghadapi tantangan? Dua tim pelajar dan mahasiswa Indonesia membuktikan sebaliknya di kompetisi Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026. Mereka menghadirkan inovasi teknologi yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat, mulai dari perangkat pemurni udara berbasis lumut hingga aplikasi pembelajaran matematika untuk siswa tunanetra.
Kedua tim tersebut keluar sebagai pemenang setelah melewati rangkaian kompetisi yang diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka bukan sekadar menunjukkan kemampuan merancang teknologi, tetapi juga membuktikan bahwa inovasi dapat menjadi solusi bagi persoalan lingkungan dan pendidikan inklusif.
Samsung Solve for Tomorrow tahun ini menerima lebih dari 4.000 pendaftar dari 27 provinsi. Sebanyak 2.600 peserta mengikuti lokakarya Design Thinking, 40 tim melaju ke tahap AI Amplification, dan 10 tim mencapai penjurian final.
Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita, mengatakan teknologi memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, manfaatnya baru benar-benar terasa ketika inovasi mampu menjawab kebutuhan nyata.
"Bagi Samsung, teknologi memiliki potensi besar untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Namun, teknologi baru benar-benar bermakna ketika bisa menjawab kebutuhan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Anggi.
Aerospora, Pemurni Udara Berbasis Lumut Karya Pelajar SMASalah satu inovasi yang sukses mencuri perhatian datang dari Briotech Alpha, tim dari SMAN 81 Jakarta yang menjuarai kategori SMA/SMK/MA. Digawangi oleh empat siswa siswi hebat bernama Azka Nursa Mazaya, Azkeanu Rhesa Ramadhan, Humayra Aqeela Nurqudsiyah, dan Vania Aimee Zahira, mereka mengembangkan Aerospora, perangkat pemurni udara berbasis lumut yang memadukan kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT).
Aerospora dirancang menyerupai dinding hijau untuk ditempatkan di ruang semi-indoor. Perangkat ini memanfaatkan lumut untuk membantu mengurangi polutan PM2.5, yakni partikel halus di udara yang berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Agar lumut dapat berfungsi secara optimal, tim mengembangkan Predictive Hydration Model. Teknologi ini memungkinkan perangkat memprediksi kebutuhan air lumut dan mengatur penyiraman secara otomatis.
Aerospora juga dilengkapi sensor kualitas udara dan dashboard VERA yang dapat diakses melalui tablet Samsung bekas. Penggunaan perangkat bekas menjadi bagian dari pendekatan tim dalam mengembangkan inovasi yang tetap memperhatikan pemanfaatan teknologi yang tersedia.
Tim Briotech Alpha menargetkan Aerospora dapat dipasarkan dengan harga Rp 1,2 juta. Perangkat ini dirancang mengonsumsi daya 15–25 watt dan mampu menjangkau ruangan seluas 50–80 meter persegi. Inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan kualitas udara dapat menjadi titik awal bagi pelajar untuk mengembangkan solusi yang memadukan biologi dan teknologi digital.
Widyaprada Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Peserta Didik Direktorat SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Asep Sukmayadi, mengapresiasi karya para pelajar. Menurut dia, inovasi seperti Aerospora memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.
Asep juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun kompetensi generasi muda. Menurutnya kompetisi bukan satu-satunya tujuan. Para pelajar juga perlu belajar bekerja sama lintas bidang agar mampu menciptakan solusi berbasis teknologi.
"Kalau Samsung menyampaikan Solve for Tomorrow, saya ingin mengatakan, but tomorrow is now," ujar Asep.
NovaSight, Bantu Siswa Tunanetra Belajar MatematikaJika Briotech Alpha berfokus pada persoalan lingkungan, tim I-Seung dari Universitas Komputer Indonesia (Unikom) memilih menjawab tantangan dalam pendidikan inklusif. Tim ini beranggotakan empat mahasiswa yakni Damar Fikri Haikal, Mohamad Zaki Zakiran, Ratuayu Nurfajar, dan Regia Qolbu Rivita Atmowidjaja.
Mereka memenangkan kategori D3/D4/S1 melalui NovaSight, aplikasi pembelajaran matematika berbasis AI yang dirancang untuk membantu siswa tunanetra memahami materi dan mengerjakan soal secara lebih mandiri.
Matematika kerap melibatkan angka, simbol, diagram, dan bentuk visual yang tidak selalu mudah diakses oleh siswa dengan gangguan penglihatan. NovaSight dikembangkan untuk menjembatani kendala tersebut melalui lima fitur utama, yakni Annoter, Scriber, Clarifier, Quizzer, dan Evaluator.
Kelima fitur itu memiliki fungsi berbeda. NovaSight dapat mengubah materi visual menjadi narasi, membantu mencatat langkah-langkah perhitungan, serta menjelaskan soal melalui chatbot AI. Aplikasi ini juga menyediakan fitur kuis dan evaluasi untuk mendukung proses belajar siswa sekaligus membantu guru menilai perkembangan pembelajaran.
Dalam pengujian awal yang dipaparkan tim, siswa tunanetra mampu mengerjakan sekitar 80 persen soal secara mandiri menggunakan NovaSight.
Hasil tersebut menjadi gambaran awal potensi AI untuk memperluas akses pendidikan. Teknologi tidak hanya digunakan untuk mempercepat pekerjaan atau meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat membantu peserta didik dengan kebutuhan yang berbeda agar memperoleh kesempatan belajar yang lebih setara.
Inovasi Para Siswa Perlu Diakui sebagai Bagian dari PembelajaranKeberhasilan kedua tim juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana sekolah, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dapat mendukung inovasi anak muda agar tidak berhenti sebagai proyek kompetisi.
Assoc. Prof. Suparto, Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI, menilai persoalan generasi muda bukan semata-mata kurangnya kecerdasan atau kreativitas. Mereka juga membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan untuk membuktikan kemampuan.
Menurut Suparto, kompetisi teknologi seperti Samsung Solve for Tomorrow mempertemukan kecakapan digital dengan kepekaan sosial. Melalui pembelajaran coding, IoT, dan AI, peserta tidak hanya diajak memahami cara kerja teknologi, tetapi juga memikirkan siapa yang akan memperoleh manfaat dari teknologi tersebut.
"Kita tentu bangga apabila mahasiswa mampu menciptakan kecerdasan buatan. Namun kita akan jauh lebih bangga apabila kecerdasan buatan itu digunakan untuk membantu sesama," kata Suparto.
Ia juga mendorong perguruan tinggi memberikan pengakuan akademik terhadap karya mahasiswa yang dikembangkan melalui program semacam ini. Salah satu bentuknya adalah rekognisi satuan kredit semester (SKS), sepanjang sesuai dengan capaian pembelajaran dan ketentuan akademik yang berlaku.
Suparto menilai mahasiswa yang menghabiskan waktu satu semester untuk mengembangkan solusi nyata bagi masyarakat semestinya memperoleh apresiasi atas proses pembelajaran tersebut.
"Kita perlu mengembangkan paradigma bahwa kampus bukan satu-satunya tempat belajar, dosen bukan satu-satunya sumber pengetahuan, dan ujian bukan satu-satunya cara membuktikan kompetensi," ujarnya.
Ia berharap semakin banyak perusahaan membangun kemitraan dengan dunia pendidikan. Dukungan industri, menurut Suparto, idealnya tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi mencakup pendampingan sejak peserta mengidentifikasi persoalan, mengembangkan prototipe, menguji solusi, hingga mempersiapkan implementasinya di masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, kompetisi teknologi dapat menjadi bagian dari ekosistem inovasi yang lebih luas, bukan sekadar ajang mencari pemenang.
Dari Kompetisi Menuju Solusi yang BerdampakSamsung Solve for Tomorrow 2026 menunjukkan bahwa pelajar dan mahasiswa dapat mengambil peran dalam menjawab persoalan di sekitar mereka. Briotech Alpha mengembangkan teknologi untuk membantu mengurangi polusi udara, sementara I-Seung merancang sarana belajar matematika yang lebih mudah diakses siswa tunanetra.
Kedua inovasi tersebut masih memiliki ruang untuk dikembangkan lebih lanjut. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi yang mereka rancang dapat diuji, disempurnakan, dan dimanfaatkan oleh masyarakat dalam skala yang lebih luas.
Bagi Samsung, kompetisi ini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami kebutuhan masyarakat. Dukungan dari sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, dan industri akan menjadi bagian penting agar gagasan yang lahir dari kompetisi tidak berhenti di panggung penghargaan.
Pada akhirnya, kemampuan generasi muda tidak cukup diukur dari seberapa canggih teknologi yang mereka buat. Lebih dari itu, keberhasilan inovasi juga ditentukan oleh seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan orang lain.






Komentar (0)