Ketua Umum Kadin Indonesia: Fundamental Ekonomi RI Kuat, Tumbuh 5,1 Persen di Tengah Gejolak Global

tvonenews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyebut fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tantangan global. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini telah mencapai 5,1 persen.

Hal itu disampaikannya saat menggelar Rapimnas Kadin 2026, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026).

Anindya mengatakan dunia saat ini tengah membangun cadangan darurat menghadapi ketidakpastian global.

Dirinya mengatakan, saat ini negara Amerika Serikat tengah menyiapkan 90 hari cadangan BBM dan Inggris meminta warganya berswasembada selama 72 jam.

"Jadi ini adalah keadaan yang kita hadapi pada saat ini. Indonesia juga tentunya membangun ketahanan pangan, air, dan energi di tengah dunia yang tidak menentu," kata Anindya.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie saat menyampaikan sambutan dalam acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube tvOnenews

Lebih lanjut Anindya menjelaskan bahwa ketahanan pangan, air, dan energi merupakan bagian dari kedaulatan bangsa. Anindya menilai saat ini Indonesia masih menjadi bright spot di tengah gejolak dunia.

"Jadi kita bisa bilang di tahun 2025, kita mengatakan Indonesia adalah bright spot. Ini disampaikan bukan oleh kita, tapi oleh mereka. Dan saya dapat sampaikan di sini bahwa Indonesia continues to be the bright spot," ucap Anindya.

Sementara itu, Anindya menjelaskan daya tahan ekonomi Indonesia kuat berdasarkan data.

Dirinya membandingkan dengan krisis yang pernah dialami oleh Indonesia sebelumnya yaitu ekonomi mengalami minus 13 persen pada 1998 dan minus 2,1 persen pada saat Covid-19 di tahun 2020.

"Banyak yang menanyakan kepada kami apakah Indonesia di ambang krisis? Menurut kami, lebih baik kita lihat fundamentalnya. Kita lihat tahun '98 minus 13 persen, 2020 waktu Covid minus 2,1 persen, sedangkan sekarang plus 5,1 persen. Jadi dapat kita sampaikan, melihat data, terima kasih fundamental kita kuat," jelas Anindya.

Sementara itu, Anindya mengakui bahwa terdapat tekanan di pasar modal dan keuangan, di mana tercatat Rp124 triliun keluar dari pasar modal dan IHSG minus 40 persen.

Namun, di sisi lain, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp270 triliun, laba bersih emiten tumbuh 18 persen, cadangan devisa Rp146 miliar dolar AS, dan pertumbuhan kredit year-on-year 13,3 persen.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tarif Khusus ke Uni Eropa Berakhir Januari 2027, Pemerintah Targetkan IEU-CEPA Diteken Pekan Ini
• 12 jam lalu
0
thumb
Prabowo Sebut Olahraga Jadi Simbol Kehormatan Bangsa
• 1 jam lalu
0
thumb
Damai Hari Lubis Soroti Rencana Tifa Laporkan Dian Sandi soal Dugaan Sumpah Palsu
• 24 menit lalu
0
thumb
Timnas Indonesia U15 lolos ke perempat final setelah tekuk Panama 5-3
• 20 jam lalu
0
thumb
Roy Suryo Tunjukkan Dokumen Pendidikan Wapres Gibran yang Seharusnya
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.