5 Komplikasi Paling Umum Pada Pasien Anak Ginjal Kronik, Ini Kata Dokter

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Setidaknya ada lima komplikasi paling sering yang mengintai anak-anak penderita penyakit ginjal kronik tahap akhir.

5 Komplikasi Paling Umum Pada Pasien Anak Ginjal Kronik, Ini Kata Dokter. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Penyakit ginjal kronik (PGK) pada anak membutuhkan perhatian ekstra dan penanganan medis yang komprehensif. Ketika kondisi ginjal anak sudah memasuki tahap akhir atau gagal ginjal, organ tidak lagi dapat berfungsi optimal dan berpotensi memicu berbagai komplikasi kesehatan serius.

Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, menjelaskan bahwa terdapat sedikitnya lima komplikasi paling sering yang mengintai anak-anak penderita penyakit ginjal kronik tahap akhir.

Baca Juga:
5 Fungsi Ginjal yang Jarang Diketahui, Ini Penjelasan dari Dokter Penyakit Dalam

“Ini dia 5 komplikasi tersering yang dapat terjadi pada anak dengan penyakit ginjal kronik tahap akhir atau gagal ginjal,” ujar dr. Reva Fahlevi dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, dikutip Kamis (29/10/2026).

Berikut lima komplikasi kesehatan yang rentan dialami anak dengan penyakit ginjal kronik:

Baca Juga:
5 Hal yang Bisa Jadi Gejala Gagal Ginjal, Patut Diwaspadai, Ini Penjelasan Dokter
1. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Komplikasi pertama yang kerap muncul pada anak penderita PGK adalah hipertensi. Kondisi ini dipicu oleh terganggunya mekanisme alami tubuh dalam mengatur tekanan darah di ginjal.

“Yang pertama adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Ini bisa terjadi karena gangguan pengaturan tekanan darah pada anak di ginjal dan juga kondisi kelebihan cairan yang terjadi secara kronik,” kata dr. Reza.

Baca Juga:
Rutin Minum Obat Hipertensi Sebabkan Gagal Ginjal? Dokter Bantah Kabar yang Beredar
2. Anemia

Selain berfungsi menyaring racun, ginjal juga berperan penting dalam memproduksi hormon eritropoietin, hormon yang menstimulasi pembentukan sel darah merah. Ketika fungsi ginjal terganggu, produksi hormon ini merosot secara drastis.

“Yang kedua adalah anemia. Ini banyak mekanismenya. Salah satunya adalah pada anak dengan penyakit ginjal kronik, kurangnya produksi hormon eritropoietin yang berfungsi untuk pembentukan sel darah merah, ya, tapi tentunya ada penyebab-penyebab lainnya,” jelas dia.

3. Gangguan Elektrolit dan Asam Basa

Kerusakan pada organ ginjal membuat kemampuan tubuh dalam mengontrol keseimbangan kadar elektrolit dan keasaman darah menjadi terganggu. Dampaknya, anak rentan mengalami ketidakseimbangan nutrisi dan senyawa penting dalam tubuh.

“Yang ketiga adalah gangguan elektrolit dan asam basa akibat gangguan proses pengaturan elektrolit dan asam basa di ginjal anak yang bermasalah ya. Jadi anak bisa mengalami hiperkalemi, kemudian bisa mengalami hiponatremi, kemudian juga asidosis metabolik,” terang dr. Reza.

4. Gangguan Mineral Tulang dan Pertumbuhan

Penyakit ginjal kronik juga berdampak langsung pada struktur tulang dan pertumbuhan fisik anak. Hal ini terjadi karena ginjal memegang peranan kunci dalam proses metabolisme vitamin D serta pengaturan kadar kalsium dan fosfat.

“Yang keempat adalah gangguan mineral tulang dan juga pertumbuhan pada anak. Yang ternyata ginjal ini juga berfungsi untuk metabolisme vitamin D, sehingga apabila ini terganggu, maka nanti kadar vitamin D aktifnya akan menurun, penyerapan kalsium di usus akan menurun, belum lagi pada anak dengan penyakit ginjal tahap akhir, fosfatnya juga naik, nanti berpengaruh ke hormon paratiroid,” ungkap dia.

Ia menambahkan, mekanisme rumit tersebut pada akhirnya berdampak langsung pada kekuatan tulang anak serta pertumbuhan fisiknya.

“Kompleks mekanismenya ya, tapi nanti akan menyebabkan tulang anak itu bermasalah, jadi kepadatannya itu akan menurun dan juga dapat menyebabkan perawakan pendek pada anak dengan penyakit ginjal kronik tahap akhir,” tambah dr. Reza. 

5. Penyakit Jantung (Kardiomiopati Dilatasi)

Komplikasi tak kalah fatal yang patut diwaspadai adalah penurunan fungsi jantung pada anak. Akumulasi dari kondisi hipertensi yang tak tertangani, kelebihan cairan kronis, hingga anemia berpotensi melemahkan kemampuan otot jantung untuk memompa darah.

“Kemudian yang terakhir adalah penyakit jantung, yaitu yang kita sebut sebagai kardiomiopati dilatasi, ya. Kontraksi otot jantungnya itu akan melemah. Dan ini merupakan efek akumulasi dari berbagai penyebab. Bisa jadi karena hipertensi yang tidak ditangani, kelebihan cairan dalam jangka waktu yang panjang, kondisi anemia, kondisi hiperkalemi, ini juga bisa menyebabkan menurunnya fungsi jantung pada anak,” tegas dia.

Mengingat kompleksnya potensi komplikasi yang dapat terjadi, dr. Reva mengimbau para orang tua dan tenaga medis untuk memberikan penanganan dini dan pemantauan secara menyeluruh bagi anak yang terdiagnosis penyakit ginjal kronik.

“Untuk itu, anak dengan penyakit ginjal kronik harus ditatalaksana secara komprehensif untuk melihat ya berbagai kemungkinan-kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi pada anak tersebut,” pungkas dr. Reza.


(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Wapres Gibran Dorong Anak Bangsa Ciptakan Teknologi Kendaraan Listrik, Pemerintah Kaji Insentif Motor Listrik
• 5 jam lalu
0
thumb
Imbas Situasi Lalu Lintas, Transjakarta Hentikan Sementara Operasional Enam Rute
• 16 jam lalu
0
thumb
Kemenimipas Salurkan Masker hingga Air Bersih untuk Warga Terdampak Karhutla dan Kekeringan
• 4 jam lalu
0
thumb
Terungkap! Ini Sosok Pria Tajir Lamar Gadis Gowa dengan Uang Panai Rp2 Miliar
• 6 jam lalu
0
thumb
Kapan Kepala Daerah Terdakwa Dinonaktifkan? Ini Putusan Terbaru MK
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.