Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis nilai tukar rupiah tidak akan menembus level Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Keyakinan tersebut didukung penilaiannya bahwa kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif stabil di tengah tekanan eksternal yang memengaruhi pasar keuangan.
Dikutip dari Metrotvnews, Airlangga mengatakan pemerintah masih mencermati perkembangan nilai tukar rupiah. Meski pergerakan mata uang domestik menghadapi sejumlah tantangan, ia tetap optimistis rupiah tidak akan melemah hingga menyentuh Rp19.000 per USD.
Baca Juga :
Sempat Menguat Lawan Dolar AS Pagi Ini, Rupiah Justru Terdesak Mata Uang RegionalOptimisme pemerintah muncul ketika rupiah masih berada dalam tekanan. Pada perdagangan terakhir, rupiah ditutup melemah 28 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp18.184 per USD. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.156 per USD.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) pada hari yang sama tercatat sebesar Rp18.183 per USD.
Konflik Timur Tengah dan Dolar AS Tekan RupiahTekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari perkembangan situasi global. Ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang Indonesia dan sejumlah negara lain di kawasan.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, ketidakpastian geopolitik turut mempertahankan harga minyak pada level tinggi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara dan memperbesar risiko fiskal ke depan.
Di saat bersamaan, pasar juga menghadapi perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga Amerika Serikat. Peluang kenaikan suku bunga AS yang semakin diperhitungkan pelaku pasar turut memengaruhi pergerakan aset keuangan global.
"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas USD115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Erwin.
Menurut dia, meningkatnya kecenderungan investor menghindari risiko atau risk-off mendorong penguatan dolar AS. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman sehingga arus modal dari pasar negara berkembang atau emerging markets berpotensi mengalami tekanan.
Situasi tersebut juga berlangsung bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi. Kombinasi penguatan dolar AS dan perubahan preferensi investor terhadap aset berisiko dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen MSCI Ikut Membayangi Pasar KeuanganSelain faktor eksternal, kondisi pasar keuangan domestik turut memengaruhi pergerakan rupiah. Erwin menyebut kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Sentimen tersebut dapat memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia. Ketika persepsi risiko meningkat, aliran modal berpotensi mengalami perubahan dan ikut memengaruhi permintaan terhadap valuta asing.
Kebutuhan valuta asing yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan terhadap rupiah. Permintaan dolar AS dari pelaku usaha maupun pihak lain dapat memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing.
Meski demikian, BI menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan perkembangan mata uang negara-negara lain di kawasan. Secara bulanan, rupiah tercatat melemah 1,15 persen.
Di tengah tekanan tersebut, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD146,3 miliar pada akhir September 2026. Cadangan devisa menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam menilai ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
BI Perkuat Upaya Menjaga Stabilitas RupiahMenghadapi dinamika pasar global dan domestik, BI melanjutkan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik sekaligus menjaga nilai tukar agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.
Intervensi dilakukan melalui sejumlah instrumen, termasuk transaksi non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), serta transaksi spot di pasar valuta asing.
Selain itu, BI melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar keuangan.
Erwin menegaskan, koordinasi dengan berbagai pihak juga terus dilakukan untuk mendukung efektivitas kebijakan stabilisasi. BI berkomunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, dan pemangku kepentingan lainnya guna menjaga kelancaran transaksi serta merespons perkembangan kondisi pasar.
Ke depan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Perkembangan konflik geopolitik, arah kebijakan suku bunga AS, arus modal asing, serta sentimen terhadap pasar keuangan Indonesia menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati.
Dengan kondisi tersebut, optimisme pemerintah bahwa rupiah tidak akan menembus Rp19.000 per USD masih akan diuji oleh perkembangan pasar. Stabilitas nilai tukar akan bergantung pada dinamika ekonomi global, ketahanan fundamental domestik, serta efektivitas langkah stabilisasi yang ditempuh otoritas.
- URL Berhasil di Salin Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp19 Ribu per Dolar AS, Ini Alasannya Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/nbw5vj5K-airlangga-optimistis-rupiah-tak-tembus-rp19-ribu-per-dolar-as-ini-alasannya






Komentar (0)