tvOnenews.com - Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara manusia mencari informasi, menyelesaikan tugas, hingga mempelajari hal baru.
Bagi siswa, teknologi ini membuka peluang belajar yang lebih luas. Namun, kemudahan memperoleh jawaban dalam hitungan detik juga menghadirkan tantangan: bagaimana memastikan informasi yang diterima benar, memahami proses di balik jawaban, dan tidak sekadar bergantung pada mesin?
Perubahan tersebut membuat pendidikan digital tidak cukup berhenti pada kemampuan mengoperasikan komputer atau menggunakan aplikasi. Siswa perlu belajar menyusun pertanyaan, membandingkan sumber, mengenali informasi keliru, serta memahami risiko ketika membagikan data pribadi.
Keterampilan ini semakin penting ketika konten buatan AI, termasuk teks, gambar, dan video yang tampak meyakinkan, makin mudah ditemukan di internet.
Sejumlah negara mulai memasukkan kemampuan digital dan pemahaman AI ke dalam pembelajaran. Singapura, misalnya, mengembangkan program pengenalan AI bagi siswa, termasuk materi mengenai data, bias dalam keluaran AI, model bahasa besar, dan penggunaan AI generatif untuk menyelesaikan masalah.
Finlandia juga menempatkan kompetensi digital sebagai bagian penting dalam pendidikan. Contoh tersebut menunjukkan bahwa tantangan sekolah bukan sekadar menyediakan perangkat, melainkan membantu siswa memahami dan menggunakan teknologi secara kritis.
Bisa Mengakses Internet Belum Berarti Mampu Menilai Informasi
Kemampuan mencari informasi secara daring perlu diikuti kemampuan mengevaluasi kredibilitasnya. Laporan OECD mengenai hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dapat menemukan informasi yang dibutuhkan di internet, tetapi hanya sekitar separuh yang merasa mudah menilai kualitas informasi tersebut.
Di antara siswa dengan performa akademik rendah, sekitar 60 persen mengalami kesulitan menilai kualitas informasi daring.
Temuan ini memperlihatkan pentingnya literasi digital dalam proses belajar. Siswa perlu membiasakan diri memeriksa siapa penerbit informasi, kapan informasi diterbitkan, bukti apa yang mendukungnya, dan apakah sumber lain memberikan keterangan serupa.
Kebiasaan tersebut juga berlaku ketika menggunakan AI generatif, yang dapat menghasilkan jawaban lancar tetapi belum tentu akurat.
Dalam praktik pembelajaran, guru dapat meminta siswa membandingkan jawaban AI dengan buku pelajaran, situs lembaga resmi, atau sumber ilmiah yang sesuai usia. Tujuannya bukan melarang penggunaan teknologi, melainkan membangun kebiasaan memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.





Komentar (0)