Ekonomi Jatim Tumbuh 5,72 Persen, Neraca Perdagangan Defisit USD 3,52 Miliar

tvonenews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Surabaya, tvOnenews.com — Perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,72 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Namun, kinerja tersebut masih dibayangi defisit neraca perdagangan yang mencapai USD 3,52 miliar sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Data tersebut dipaparkan dalam konferensi pers ALCo APBN KiTA Regional Jawa Timur di Gedung Keuangan Negara Surabaya I, Selasa (27/10/2026). Hingga September 2026, realisasi penerimaan negara di Jawa Timur mencapai Rp188,13 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp92,53 triliun.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan II 2026 tercatat 5,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, pertumbuhan kumulatif semester I mencapai 5,84 persen, tertinggi di Pulau Jawa.

Sektor industri pengolahan menjadi salah satu penopang utama dengan kontribusi 31,11 persen terhadap perekonomian dan pertumbuhan 6,05 persen secara tahunan. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga mendominasi dengan kontribusi 60,85 persen.

Local Expert Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur, Ilmiawan Auwalin, mengatakan kondisi ekonomi daerah masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan.

“Secara umum perekonomian Jawa Timur masih menunjukkan ketahanan yang baik, dengan pertumbuhan yang termasuk tertinggi di Pulau Jawa. APBN menjadi instrumen penting untuk memelihara momentum pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Ilmiawan Auwalin.

Di tengah pertumbuhan tersebut, neraca perdagangan Jawa Timur masih mencatat defisit USD 3,52 miliar selama Januari hingga Agustus 2026. Nilai ekspor mencapai USD 18,61 miliar atau turun 4,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, impor naik 15,49 persen menjadi USD 22,13 miliar.

Kondisi ini menunjukkan tantangan dalam menjaga kinerja ekspor dan memperkuat daya saing produk daerah di tengah peningkatan impor.

Dari sisi stabilitas harga, inflasi Jawa Timur pada September 2026 tercatat 3,33 persen secara tahunan. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi. Sejumlah komoditas yang memengaruhi inflasi antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bensin, angkutan udara, dan emas perhiasan.

Sementara itu, sejumlah indikator kesejahteraan menunjukkan perbaikan. Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2026 mencapai 121,07 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) sebesar 105,56. Tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 turun menjadi 3,42 persen, sedangkan persentase penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 9,06 persen.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BMKG: Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem hingga Banjir Rob
• 20 jam lalu
0
thumb
KPK Geledah Kantor Dinas PUPR Klaten, Sita Dokumen hingga Uang Tunai
• 4 jam lalu
0
thumb
Villarreal dan Malaga menang, Espanyol tersingkir di Piala Raja
• 20 jam lalu
0
thumb
Sambut HUT ke-70, Astra Apresiasi Pemuda Inspiratif dan Luncurkan Program Sosial
• 7 jam lalu
0
thumb
7 Penyebab Orang Mudah Kaget dengan Suara Keras
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.