Ratusan Ahli Teriak Situasi Darurat, Korban Jiwa Berjatuhan

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 146 pakar kesehatan iklim dari berbagai negara bersatu menyerukan agar perubahan iklim secara resmi dinyatakan sebagai kondisi darurat kesehatan global. Seruan itu muncul lantaran suhu bumi yang terus naik telah memakan korban jiwa dalam jumlah rekor dan merugikan perekonomian dunia.

Peringatan tersebut diserukan dalam laporan tahunan The Lancet Countdown 2026 menunjukkan dampak iklim bergerak jauh lebih cepat dibandingkan dengan upaya penanggulangannya.

Panas yang membelenggu belahan dunia ini bukan lagi sekadar cuaca yang terasa lebih hangat. Pada 2023, kematian terkait panas ekstrem mencapai 710.000 jiwa dan 71,5% di antaranya atau 507.000 jiwa disebabkan oleh perubahan iklim.

Dua puluh tahun lalu, porsi ini belum mencapai separuhnya. Kerugian akibat turunnya produktivitas karena suhu panas saja menembus angka triliunan dolar, dengan wilayah Asia Tenggara dan Afrika menanggung beban terberat.

Baca: Perusahaan Rugi IPO, Ecommerce Raksasa Kaya Raya Bareng Google

Sebelumnya, pada dekade 2006-2015, porsi kematian akibat panas yang dikaitkan dengan iklim masih 55 persen. Angka itu kini melonjak menjadi lebih dari 70 persen. Artinya, hampir tiga perempat kematian akibat cuaca panas ekstrem saat ini tidak akan terjadi jika manusia tidak mengubah iklim bumi.

Panas ekstrem hanyalah satu dari sekian ancaman yang saling mempengaruhi:

  • Kekeringan mengancam pasokan pangan dan gizi, serta menurunkan kualitas air dan udara
  • Banjir meningkatkan risiko penyakit menular, gangguan pernapasan, dan gangguan pencernaan
  • Sistem kesehatan di banyak negara sudah berjuang keras mengimbangi beban yang makin berat

"Ancaman ini saling menumpuk. Di saat sebagian wilayah mengering, yang lain justru dilanda banjir. Dampaknya tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu menjadi krisis yang lebih besar," ujar Marina Romanello, direktur eksekutif The Lancet Countdown.

Baca: Batu Dipakai Ganjal Pintu Ternyata Harta Karun Bernilai Rp 20 Miliar

Sepuluh tahun setelah Perjanjian Paris, kemajuan memang telah dicapai dalam energi bersih dan sistem peringatan dini. Namun kecepatannya jauh tertinggal dibandingkan laju kerusakan. Sementara itu, perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia berencana meningkatkan produksi bahan bakar fosil hingga 150 persen di atas batas yang aman untuk menjaga pemanasan di bawah 1,5°C.

Para peneliti mendesak WHO dan PBB untuk:

  • Menetapkan perubahan iklim sebagai darurat kesehatan global
  • Menempatkan kesehatan masyarakat di pusat setiap keputusan iklim
  • Meningkatkan pendanaan hibah untuk program iklim dan kesehatan
  • Mengurangi emisi gas rumah kaca secara cepat dan adil

"Kita sudah memiliki bukti bahwa tindakan berpusat pada kesehatan berhasil. Udara bersih, sistem kesehatan yang tangguh, dan peringatan dini menyelamatkan nyawa. Namun laju pengurangan emisi masih belum sebanding dengan laju kerusakan yang terjadi," ujar Anthony Costello, ketua peneliti.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Danantara Sebut PLTN Kunci Penting Jaga Ketahanan Energi Nasional
• 23 jam lalu
0
thumb
Kalah Pemilu, Flavio Bolsonaro Tinggalkan Brasil Menuju Amerika Serikat
• 17 jam lalu
0
thumb
Perkokoh Ketahanan Energi Nasional, ASCOPE ke-51 di Bali Perkuat Resiliensi Rantai Pasok Energi Kawasan ASEAN
• 14 jam lalu
0
thumb
Kantongi Restu Menteri ESDM, Karawang Siap Kembangkan Sumur Migas lewat Investasi USD 45 Juta
• 5 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Imbau Mahasiswa Jaga Aksi 28 Oktober Tetap Damai
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.