Belasan Anak Terlibat Tawuran demi Eksistensi di Medsos, Satu Orang Tewas

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Polisi menangkap 19 pelaku yang diduga terlibat dalam aksi tawuran antarkelompok di Jalan Salman, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (26/10/2026). Tawuran ini mengakibatkan seorang pemuda berinisial MR (20) tewas. Sebagian besar pelaku adalah anak-anak yang ingin mendapatkan eksistensi di media sosial.

Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Nasriadi mengungkapkan, sebanyak 19 orang yang ditangkap itu terdiri dari tujuh orang dewasa dan 12 orang anak. "Penyidik masih mendalami peran masing-masing untuk menentukan keterlibatan mereka dalam rangkaian peristiwa tersebut," ujarnya, Rabu (28/10/2026).

Dari hasil penyelidikan, kata Nasriadi, polisi mengidentifikasi empat orang yang diduga menjadi pelaku utama dalam kekerasan terhadap korban. Mereka terdiri dari tiga orang yang diduga membacok korban dan satu orang yang diduga menyiram air keras pada korban.

Nasriadi menyampaikan, tiga orang yang diduga melakukan pembacokan telah ditangkap. Sementara itu, satu orang yang diduga menyiram air keras masih dalam pengejaran dan telah masuk daftar pencarian orang.

Peristiwa pengeroyokan dan penyiraman air keras itu terjadi pada Senin (26/10) sekitar pukul 03.15 WIB. Kasus ini terkuak saat warga melaporkan adanya seorang pria yang ditemukan tergeletak di lokasi kejadian. Petugas lantas mendatangi tempat kejadian perkara dan mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat.

"Namun, korban dinyatakan meninggal dunia setelah tiba di rumah sakit," ucap Nasriadi. Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban mengalami luka bacok di sejumlah bagian tubuh serta luka pada wajah yang diduga akibat penyiraman air keras.

Baca JugaTawuran di Jakarta Tidak Pernah Mati, Justru Nyawa yang Rentan Melayang

Penyelidikan lebih lanjut mengungkap dugaan keterlibatan empat kelompok yang dikenal dengan nama Popeye, Batavia, Bonsal, dan Samudra. Keempat kelompok tersebut diduga memanfaatkan media sosial untuk mengatur pertemuan, mengajak anggota, dan memprovokasi aksi saling serang.

Polisi juga menelusuri empat akun media sosial beserta para adminnya yang diduga berkaitan dengan pengorganisasian aksi tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, para admin diduga menggunakan akun yang dikelola untuk mengunggah ajakan tawuran, menghimpun anggota, serta menyiarkan dan merekam kejadian melalui fitur siaran langsung.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Edy Sudarma Korniawan menjelaskan, penyidik masih mendalami motif di balik aksi tersebut. "Dugaan sementara, para pelaku berkeinginan untuk memperoleh eksistensi di media sosial, termasuk kemungkinan keuntungan dari siaran langsung," ujarnya.

Menurut Edy, penanganan perkara itu dilakukan dengan membedakan peran setiap orang yang ditangkap, seperti mereka yang diduga melakukan kekerasan secara langsung hingga pihak yang diduga merencanakan atau menggerakkan tawuran.

Baca JugaTawuran di Jakarta Terus Terjadi, Perlu Langkah Mitigasi

Terkait 12 anak yang terlibat dalam kasus ini, Edy menyebut, penyidik akan menempuh mekanisme diversi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan apabila persyaratannya terpenuhi. Sementara itu, tujuh orang dewasa diproses berdasarkan hasil penyidikan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Dalam perkara ini, penyidik mendalami penerapan ketentuan pidana terkait kekerasan secara bersama-sama, penganiayaan, serta kepemilikan senjata tajam sesuai peraturan perundang-undangan.

Polres Metro Jakarta Barat juga mengejar satu pelaku yang masih buron. Oleh karena itu, penyidik terus mengembangkan penyidikan agar seluruh rangkaian peristiwa yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dapat terkuak segera.

Nasriadi mengingatkan, aksi tawuran bukan sekadar persoalan perselisihan antarkelompok, tetapi dapat berujung pada hilangnya nyawa dan menimbulkan dampak mendalam bagi keluarga korban maupun masyarakat sekitar.

Dia pun mengimbau para orangtua untuk meningkatkan komunikasi dan pengawasan terhadap anak-anak. Warga juga diimbau agar tidak mudah terprovokasi oleh ajakan kekerasan di media sosial.

Baca JugaBara Kekerasan Geng Pelajar Jakarta

Menurut Nasriadi, media sosial hendaknya digunakan untuk kegiatan yang positif, bukan sebagai sarana menyebarkan provokasi atau mempertontonkan kekerasan.

Dengan kepedulian keluarga, lingkungan, dan seluruh elemen masyarakat, diharapkan kejadian serupa tidak kembali terulang dan keamanan di wilayah Jakarta Barat tetap terjaga.

Sebelumnya, pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengatakan, tawuran menjadi warisan yang diturunkan dari senior kepada yuniornya. Bahkan, kelompok tawuran biasanya juga terbentuk melalui geng motor.

Devie menilai, penyebab masih suburnya tawuran tidak lepas dari banyaknya anak yang ingin menunjukkan eksistensi, tetapi dengan cara yang salah. Bahkan, dalam beberapa kasus, masih banyak anak muda yang ikut tawuran sekaligus menyebarkannya melalui media sosial. ”Tujuannya agar keberanian dan kekuatannya itu tersiar lebih luas,” katanya.

Oleh karena itu, Devie menyebut, tawuran yang terjadi di Jakarta memiliki motif berbeda. Bila tawuran antarwarga disebabkan oleh kebutuhan ekonomi, tawuran pelajar adalah untuk menunjukkan eksistensi. (Kompas, 6/8/2026).

Dugaan sementara, para pelaku berkeinginan untuk memperoleh eksistensi di media sosial, termasuk kemungkinan keuntungan dari siaran langsung


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BRIN Kembangkan 4 Kandidat Vaksin Malaria, Target Riset Dipercepat hingga 3 Tahun
• 16 jam lalu
0
thumb
Link CCTV Pantau Demo BEM UI 28 Oktober 2026, Cek Lalu Lintas di Bundaran HI
• 12 jam lalu
0
thumb
Nomor Urut 6 di Pilrek UNM, Prof Hasmyati Usung Filosofi Keharmonisan dan Gotong Royong
• 11 jam lalu
0
thumb
Lebih Cepat dari Target, WIKA Rampungkan Underpass Inul di Kutai Timur
• 22 jam lalu
0
thumb
Video: Pemerintah Siapkan Program Mudik Gratis Nataru
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.