Harga Minyak Tembus US$115 per Barel, Rupiah Ikut Tertekan

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang menekan nilai tukar rupiah hingga mendekati level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan tersebut berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, hingga kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Situasi tersebut turut menjaga harga minyak dunia tetap tinggi, bahkan berada di atas US$115 per barel.

Baca Juga :
Dolar AS Nyaris Tembus Rp18.200, BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Makin Tertekan
Sempat Turun, Harga Minyak Dunia Kini Naik Lagi usai Serangan di Arab Saudi

Menurut Erwin, tingginya harga minyak juga meningkatkan risiko fiskal ke depan. Pada saat yang sama, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat ikut meningkat dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

"Pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Erwin dalam keterangan tertulis BI terkait perkembangan nilai tukar rupiah, Rabu, 28 Oktober 2026.

Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Tinggi

Ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah. Situasi geopolitik tersebut membuat harga minyak dunia bertahan di atas US$115 per barel.

Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kondisi fiskal, terutama ketika kebutuhan energi harus dipenuhi di tengah gejolak pasar global.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik mendorong investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Perubahan perilaku investor tersebut turut memengaruhi pergerakan mata uang, khususnya di negara berkembang.

Penguatan Dolar AS dan Ekspektasi Suku Bunga

BI juga menyoroti penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat.

Ketika ekspektasi suku bunga AS meningkat, aset keuangan berbasis dolar dapat menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca Juga :
Rupiah Makin Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.174, Warga Ramai-Ramai Pindah ke Valas?
Rupiah Melemah ke Rp18.140 per Dolar AS, Harga Minyak dan Risiko Fiskal Jadi Sorotan
Rupiah Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Konflik Houthi dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Massa Aksi Tertahan di UOB, Berusaha Mendekat di Bundaran HI | KOMPAS PETANG
• 4 jam lalu
0
thumb
Usai Antar Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Mitchell Baker Bawa Georgetown Kampiun di AS
• 12 jam lalu
0
thumb
GOTO Diproyeksikan Cetak Laba Kuartal III-2026, Fintech Jadi Penopang
• 8 jam lalu
0
thumb
Polri perkuat kerja sama dengan China dalam pemberantasan narkotika
• 6 jam lalu
0
thumb
Orang Utan Ditemukan di Area Bekas Karhutla Kalteng, Alami Hernia di Perut
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.