Menurut laporan NTD, pemimpin partai National Rally (RN) Prancis, Marine Le Pen, secara resmi memulai kampanye pemilihan presiden 2027 pada 25 Oktober. Jajak pendapat terbaru menunjukkan tingkat dukungannya telah melampaui 30 persen, jauh mengungguli para pesaingnya. Di tengah kekerasan jalanan dan gejolak sosial yang belakangan melanda Prancis, Le Pen berjanji akan memulihkan ketertiban dan membawa Prancis menuju “Renaisans” baru.
EtIndonesia.com Pada 25 Oktober, Le Pen menghadiri kongres partai National Rally di Orléans, Prancis. Dengan mengusung tema “Renaisans”, ia memaparkan visi kampanyenya untuk membangun kembali keamanan nasional, kemakmuran, dan kepercayaan diri bangsa.
Marine Le Pen, calon presiden dari National Rally, mengatakan: “Visi yang kami tawarkan bagi negara ini bukanlah kembali ke masa lalu, melainkan menyambut era baru—era yang bebas dan penuh kreativitas, yang memungkinkan Prancis sepenuhnya memasuki milenium ketiga serta memulihkan kekuatan, kejayaan, dan pengaruhnya.”
Le Pen berjanji akan menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap kejahatan, memperketat pengawasan perbatasan, mendeportasi warga negara asing yang melakukan tindak kriminal, serta mendorong pemotongan pajak, pengurangan pembatasan administratif, dan dukungan terhadap industri kecerdasan buatan (AI).
Belakangan ini, demonstrasi berskala besar pecah di berbagai wilayah Prancis. Sebagian aksi tersebut berkembang menjadi penjarahan dan aksi perusakan yang disertai kekerasan. Menanggapi situasi itu, Le Pen menegaskan bahwa menjamin keselamatan masyarakat merupakan tanggung jawab utama negara.
Le Pen mengatakan: “Supremasi hukum berarti menjamin keselamatan setiap orang. Supremasi hukum sama sekali tidak berarti menormalisasi tindakan kekerasan terhadap masyarakat.”
Jajak pendapat yang dirilis pada 25 Oktober menunjukkan bahwa tingkat dukungan terhadap Le Pen mencapai 32 hingga 33,5 persen, jauh di atas Jean-Luc Mélenchon, pemimpin sayap kiri radikal yang menempati posisi kedua dengan dukungan sebesar 17 persen.
Namun, Le Pen telah dinyatakan bersalah dalam kasus penyalahgunaan dana Parlemen Eropa dan saat ini sedang mengajukan banding. Apakah proses hukum tersebut akan mempengaruhi pencalonannya masih belum dapat dipastikan.
Laporan gabungan: Ning Xiu dan Wen Hui, NTD Television.






Komentar (0)