KH Imam Jazuli, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, mengajak alumni Timur Tengah memperkuat kerja sama, membangun sinergi, kolaborasi dan mengedepankan persaudaraan di tengah perbedaan ideologi, pilihan politik, maupun organisasi.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Imam Jazuli dalam acara gala dinner dan silaturahmi Alumni Timur Tengah Wilayah III Cirebon yang meliputi Cirebon, Kuningan, Indramayu, dan Majalengka.
Baca Juga
KMI 2026 Makassar 'Gaspol' Perjuangkan Hak dan Kesejahteraan Musisi
Pentagon Restui Drone Bersenjata Shotgun dan Peluncur Granat, Era Baru Perang Udara Jarak Dekat?
Telkom Perkuat Ekosistem Digital Hadapi Era Kuantum
Kegiatan yang digagas Imam Jazuli Foundation itu berlangsung di Restoran Bandar Djakarta pada 27 Oktober 2026, dan dihadiri 148 alumni dari berbagai negara, antara lain Mesir, Yaman, Sudan, Maroko, Tunisia, Lebanon, India, dan Arab Saudi.
Dalam sambutannya, Rais PBNU ini menegaskan bahwa Imam Jazuli Foundation berkomitmen menjadi wadah pemberdayaan dan advokasi alumni Timur Tengah melalui berbagai program konkret. Menurut dia, potensi besar alumni perlu dihimpun dan dikelola secara kolaboratif agar menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia juga mengingatkan pentingnya menempatkan ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim di atas kepentingan kelompok (hizbiyyah). Perbedaan pandangan keagamaan, afiliasi organisasi, dan pilihan politik, kata dia, tidak semestinya menjadi penghalang bagi kerja sama antar alumni.
“Sudah saatnya alumni Timur Tengah saling bekerja sama, bersinergi, dan bahu-membahu untuk meraih keberhasilan bersama. Kita kuat karena berpadu dan lemah ketika terpecah, mari bangun kolaborasi dan hindari polarisasi,” demikian pesan Kiai Imam Jazuli.
Ia turut mengimbau para alumni agar menghindari konflik yang tidak produktif, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kebebasan menentukan sikap politik, menurut dia, harus disertai adab dan penghormatan terhadap perbedaan dan tidak dijadikan alasan untuk merendahkan pihak lain.
Kiai Imjaz, sapaan akrab KH Imam Jazuli, juga menyoroti perdebatan mengenai nasab yang dinilainya berpotensi memperlebar perpecahan di kalangan umat Islam apabila tidak disikapi secara bijaksana. Ia mengajak alumni mengalihkan perhatian pada persoalan nasib umat yang membutuhkan pembelaan dan perjuangan bersama.
“Jangan habiskan energi untuk perdebatan nasab yang tidak produktif. Fokuslah pada persoalan nasib umat yang perlu kita bela dan perjuangkan,” tegasnya.
*Bangun Basis Data Alumni*
Untuk memperkuat koordinasi, Kiai Imjaz meminta setiap perwakilan alumni dari berbagai negara menyelesaikan pendataan anggota secara lengkap dalam waktu dua minggu. Basis data tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk membangun jejaring komunikasi, memetakan potensi, serta merancang program pemberdayaan yang terukur.
Menurut Kiai Imjaz, gerakan kolaborasi alumni perlu dibangun di atas data yang akurat agar setiap program dapat disusun sesuai kebutuhan dan potensi yang tersedia.
Imam Jazuli Foundation berencana memfasilitasi pertemuan lanjutan dalam satu bulan ke depan. Agenda tersebut akan difokuskan pada penguatan silaturahmi, pemberdayaan, dan penyusunan langkah konkret untuk mempererat sinergi alumni Timur Tengah.
Melalui inisiatif ini, Kiai Imjaz berharap jejaring alumni tidak berhenti pada pertemuan seremonial, tetapi berkembang menjadi kekuatan kolaboratif yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat.
Kiai pengusaha yang dikenal tokoh transformasi pesantren ini juga berharap ikhtiar tersebut mendapat ridha Allah Swt. serta menjadi jalan menuju keberhasilan bersama, baik di dunia maupun di akhirat.
“Semoga niat baik kita bersama diridhai Allah Swt agar tercapai kebahagiaan bersama fiddunya wal akhirat,” pungkas Kiai alumni Al-Azhar Mesir ini.
Komentar (0)